Angkasa Pura 2

OBU VI Padang Gelar Sosialisasi Sistem Pelaporan Inspektur Penerbangan

Bandara KokpitMinggu, 14 April 2019
IMG-20190414-WA0013

IMG-20190414-WA0012

PALEMBANG (BeritaTrans.com) – Otoritas Bandar Udara (OBU) VI Padang gelar Sosialisasi Sisten Pelaporan bagi para Inspektur Penerbangan.

Hal itu dilakukan menurut Kepala OBU VI Padang Agoes Soebagio, guna meminimalisasi serious incident dan accident.

“Pelaksanaannya Kamis (11/4/2019) lalu untuk menambah pengetahuan inspektur penerbangan mengenai insiden (serious incident) dan kecelakaan accident pada pesawat udara sipil asing dalam wilayah NKRI,” jelas Agoes di Palembang, Ahad (14/4/2019).

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti mengatakan, sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan bagi para pemangku kepentingan dalam tugas,  sehingga memudahkan operasional di lapangan.

“Kami berharap dari kegiatan ini kita dapat semakin memahami terkait regulasi, pelaporan serta penanganan awal apabila terjadi accident dan serious incident,” tutur Polana.

Menurutnya insiden, serius insiden dan kecelakaan penerbangan memang terkadang tidak bisa dihindari. Namun demikian peristiwa-peristiwa tersebut bisa diminimalisir dengan penanganan dan pelaporan yang baik dan benar dari personil yang terlibat maupun inspektur yang melakukan pemeriksaan.

Laporan tersebut dapat menjadi data awal yang akurat untuk investigasi sehingga mendapatkan hasil yang baik dan bisa mencegah kejadian serupa terjadi lagi di kemudian hari.

Terkait hal tersebut, ditambahkan Agoes, diperlukan sumber daya manusia (SDM) berkualitas seperti inspektur yang mumpuni dan mempunyai pengetahuan yang baik terkait insiden, serius insiden dan kecelakaan penerbangan, mulai dari definisi hingga sistem pelaporannya.

“Oleh karena itu forum ini sangat baik untuk berdiskusi secara terbuka. Masing-masing dapat memberikan masukan yang positif, dan memberikan manfaat yang besar bagi semua masyarakat penerbangan,” katanya.

Peserta sosialisasi terdiri dari inspektur penerbangan dari OBU I-X, Unit Penyelenggara Bandar Udara ( UPBU), Badan Usaha Bandar Udara (BUBU), AirNav Indonesia Cabang Palembang, Bengkulu, Padang dan Jambi, serta operator penerbangan dan Ground Handling.

Agoes melanjutkan, belajar dari beberapa kali pengalaman, fungsi koordinasi sangat perlu segera dilaksanakan. Koordinasi antara pengelola bandara dengan kantor otoritas bandar udara harus dilakukan agar mendapatkan hasil laporan akurat dan agar terhindar ketidaksamaan persepsi dalam sistem pelaporan.

Berdasarkan Undang – Undang No. 1 Tahun 2009 pasal 36 ayat 2 dinyatakan bahwa pesawat udara yang mengalami kecelakaan atau kejadian serius dapat dipindahkan atas persetujuan pejabat yang berwenang dalam hal ini adalah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk kepentingan investigasi. 

Sedangkan prosedur penanganannya sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 830 (CASR 830) tentang Prosedur Investigasi Kecelakaan (Accident) dan Kejadian Serius (Serious Incident) Pesawat Udara Sipil yang mengacu kepada Konvensi Chicago dan ICAO Annex 13. 

Berdasarkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 129 (CASR 129) tentang Foreign Air Carrier pada Subpart E menjelaskan bahwa apabila terjadi accident atau serious incident pesawat asing di wilayah Republik Indonesia, maka pelaporan dan penanganan tetap mengacu pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 830 (CASR 830). 

“Dalam hal ini, bila terjadi serious incident atau accident pihak bandara harus berkoordinasi dengan regulator atau KNKT untuk mengkategorikan yang termasuk serious incident seperti tercantum dalam annex 13,” imbuh dia.

Sosialisasi ini menampilkan dua pembicara utama, yaitu Herry A. Arief dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Ditjen Perhubungan Udara dan Henry Poerborianto dari KNKT.

Herry menyampaikan Sosialisasi peraturan dan sistem pelaporan serious incident dan accident pada pesawat udara sipil nasional/asing dalam kawasan Republik Indonesia. Dalam paparannya dibahas mengenai definisi incidents, serious incidents dan accidents; peraturan-peraturan yang mendasari; serta tata cara pelaporan termasuk portal-portal di Ditjen Hubud yang bisa digunakan seperti IMSIS dan lSSP.

Sementara itu Henry memaparkan paparan terkait Penanganan Awal Accident dan Serious Incident di Wilayah NKRI. Dalam paparannya, Henry memaparkan tentang pelaporan sesuai CASR 830; dan tindakan awal (evidence preservation) yang harus dilakukan. (omy)

loading...