Angkasa Pura 2

BBM Satu Harga Komitmen Pemerintah Bantu Dan Pemerataan Ekonomi di Indonesia

Energi KoridorRabu, 24 April 2019
darmaningtyas mti2

Dexlite SPBU Pertamina

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Selama berpuluh tahun Indonesia merdeka, kesenjangan harga-harga, termasuk harga BBM antara Jawa dan luar Jawa, utamanya Papua dan Papua Barat terus terjadi. Harga satu liter premium di Papua dulu bisa mencapai harga Rp150.000.

Tapi menurut Presiden Jokowi, ini adalah masalah besar, karena ini menyangkut soal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Jokowi mempunyai program untuk menciptakan satu harga BBM di seluruh Indonesia.

“Ini realitas yang patut di apresiasi dan berdampak baik pada mobilitas orang dan barang,” kata pengamat transportasi dan Direktur Instrans Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta.

Menurutnya, komitmennya itu terus dijalankan Pemerintah. Kini sudah terjadi di sejumlah distrik di Papua dan juga terjadi di daerah-daerah lain, seperti di Kalimantan, Sulawesi, Aceh, dan NTT.

“Kini rakyat tetap bisa membeli BBM dengan harga sama di Jawa,” jelas Tyas, sapaan akrab dia, yang juga pamong Perguruan Taman Siswa itu.

Bahwa ada kritik, kalau BBM satu harga itu belum merata di seluruh Papua, itu adalah hal yang wajar. Pasalnya, menurut Tyas, semua program pemerintah sejak dulu itu juga tidak pernah ada yang langsung sukses 100%, semua sukses secara bertahap.

“Yang penting ada komitmen dari Pemerintah untuk mewujudkan BBM satu harga di seluruh wilayah Indonesia, daripada tidak ada komitmen sama sekali,” papar Tyas.

“Tiap hari (bener-bener tiap hari) aku selalu mendapatkan laporan publikasi dari kerja Kementerian ESDM, jadi aku bisa turut memonitor di mana saja daerah-daerah yang sudah mengalami BBM satu harga,” kilah Tyas.

Menurutnya, tahun 2019 Pemerintah memilih target ada 170 kecamatan di luar Jawa itu sudah mengalami BBM satu harga. Ini artinya, untuk menciptakan BBM satu harga itu secara bertahap.

“Jadi misalkan kita berkunjung ke Papua atau Papua Barat dan menemukan BBM-nya belum satu harga, tidak berarti bahwa BBM satu harga itu bohong. Itu berarti daerah tersebut belum terjangkau, tapi sudah dalam tahapan untuk dijangkau,” sebut Tyas.

Terhadap kebijakan BBM satu harga itu juga muncul kritik bahwa dengan kebijakan itu laba Pertamina berkurang (ini celah yang sering dipakai untuk menyerang oleh yang tidak suka).

Menurut Tyas adalah wajar lah, karena semula hanya menjalankan misi bisnis saja. “Sedangkan sekarang ada misi sosialnya, yaitu turut menciptakan keadilan sosial dalam bidang migas,” tegas Tyas.(helmi)

loading...