Angkasa Pura 2

Manajemen KAI Harus Cepat Respon Aksi Kekerasan Seksual di KA Termasuk Mendidik Petugas Security-nya

Aksi Polisi EmplasemenKamis, 25 April 2019
IMG_20190318_100825

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan meminta manajemen dan khususnya Polsuska/Security PT Kereta Api Indonesia (KAI) bertindak proaktif dan cepat merespon jika terjadi aksi pelecehan seksual di dalam KA. Jangan sampai kasus pelecehan seksual terus berulang, sehingga penumpang tidak nyaman apalagi sampai takut naik KA atau angkutan umum lainnya.

“Aksi pelecehan seksual dalam transportasi umum menimpa seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan dengan kereta api luar kota,” kata Tigor kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Rabu (24/4/2019) malam.

Seperti dilansir laman suara.com, papar Tigor, kisah kekerasan seksual ini dibagikan oleh akun Twitter @xr***by. Sang korban mengakui mendapatkan tindakan tak senonoh saat ia sedang melakukan perjalanan menggunakan kereta api.

Ironisnya, menurut Tigor, saat si korban melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya, petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) justru menyalahkan korban yang memancing keberanian pelaku.

Menurut Tigor seharusnya petugas KAI di kereta tersebut menyerahkan kasus dan terduga pelaku serta korban ke polisi di tujuan akhir KA. “Petugas KAI tidak mempunyai otoritas membuat kesimpulan apapun terkait kasus pelecehan seksual di dalam KA tersebut,” papar Tigor lagi.

Yang lebih kacau, seperti ditulis suara.com, dalam kasus pelecehan di KA tersebut, si petugas malah main tuduh bahwa si korban sedang “karaokean”. PT KAI harus tindak lanjuti kasus ini ke polisi karena TKP-nya di KA dan tindak memberi pelajaran kepada petugasnya.

Kasus serupa, menurut Tigor, juga perlu diantisipasi moda angkutan umum lain, seperti Transjakarta, MRT Jakarta dan lainnya. Moda angkutan umum berpotensi terjadi aksi pelecehan seksual atau tindak kejahatan lainnya.

Awalnya Ngobrol Biasa

Korban bercerita, kejadian berawal saat ia duduk bersebelahan dengan pelaku. Awalnya, pelaku mengajak ngobrol korban seperti biasa, hal itu pun ditanggapi dengan baik oleh korban.

Namun, saat obrolan itu sudah berhenti dan si korban terlelap, pelaku secara tiba-tiba menarik tangan korban dan menciuminya. Pelaku juga berusaha mengarahkan tangan korban ke area kelamin milik pelaku.

Awalnya, korban ketakutan masih berpura-pura tidur dan menarik tangannya. Namun, si pelaku kembali mengulangi aksinya hingga si korban memutuskan untuk langsung berdiri dan lari mencari pertolongan.

Pelaku yang panik pun langsung melarikan diri. Beruntung, kondisi kereta masih melaju dan tidak berhenti sehingga pelaku dapat dengan mudah diamankan oleh petugas keamanan kereta.

Saat diinterogasi, pelaku ternyata merupakan pelanggan tetap KAI dan sering bepergian menggunakan kereta itu tiap 2 pekan sekali. Melihat si korban yang menangis ketakutan, petugas justru meminta agar korban mengikhlaskan kejadian yang telah terjadi dan berbalik menyalahkan korban.

“Ah biasalah mbak, namanya juga cowok. Mending kita omongin baik-baik. Dia pelanggan saya harus jaga privasinya, lagi pula mbaknya lagian terlihat seperti anak karaokean, bukan anak baik-baik, jelas aja dia berani,” ujar korban menirukan petugas.

Kasus seperti ini, menurut Tigor yang tak boleh terjadi lagi. Polsuska/ security harus menangkap dan mengamankan pelaku pecehan seksual tersebut.

“Selanjutnya diserahkan ke Polri sebagai penyidik umum agar diproses sesuai aturan hukum yang berlaku,” tegas Tigor.(helmi)

loading...