Angkasa Pura 2

Boeing: Kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air Kemungkinan Besar Karena Pilot Tak ‘Sepenuhnya’ Ikuti Prosedur

KokpitSelasa, 30 April 2019
images (79)

WASHINGTON (BeritaTrans.com) – CEO Boeing Dennies Muilenburg menyampaikan pernyataan kontroversial soal kecelakaan pesawat produksi perusahaannya yang menimpa Ethiopian Airlines dan Lion Air beberapa waktu lalu.

Dia menyebut dua kecelakaan itu kemungkinan besar terjadi karena pilot tidak ‘sepenuhnya’ mengikuti prosedur yang telah ditetapkan Boeing ketika ada masalah dalam penerbangan.

Menurutnya, sistem keselamatan yang diterapkan pada Boeing 737 Max 8 yang mengalami kecelakaan kemarin sudah dirancang dengan baik.

Perangkat lunak yang ia sebut dengan nama MCAS, dan digunakan pada pesawat tersebut sudah memenuhi kriteria desain dan keselamatan Boeing dan mematuhi persyaratan yang ditentukan.

Ia mengatakan Boeing tidak menemukan masalah teknis dalam membangun sistem tersebut.

“Ketika kami merancang sistem ini, pahami bahwa pesawat ini diterbangkan oleh tangan pilot,” katanya seperti dikutip dari CNN.com, Selasa (30/4).

Meskipun berkata demikian, Muilenburg mengatakan Boeing tetap akan memperbaiki diri. Ia mengatakan Boeing akan tetap melakukan perbaikan untuk membuat masyarakat bisa terbang secara nyaman dan aman.

“Kami telah mengindentifikasi cara meningkatkan keamanan tersebut. Aku yakin kami akan membuat pesawat teraman di udara untuk terbang,” katanya.

“Adalah tanggung jawab kami menghilangkan risiko terbang,” tambahnya.

Sebagai informasi kecelakaan menimpa dua pesawat produksi Boeing dalam waktu kurang dari empat bulan. Kecelakaan pertama terjadi pada pesawat Boeing Max 8 yang dioperasikan oleh Lion Air pada 29 Oktober lalu.

images (78)

Pesawat tersebut mengangkut 181 penumpang serta enam awak dan dua pilot. Kecelakaan kedua yang menewaskan 157 penumpang, menimpa pesawat yang dioperasikan Ethiopian Airlines.

Pejabat Ethiopia mengatakan pilot yang menerbangkan Ethiopian Airlines sebenarnya sudah berulang kali melakukan semua prosedur yang ditetapkan Boeing sebelum kecelakaan terjadi. Tapi, tetap saja pesawat tidak bisa dikendalikan dan akhirnya jatuh.

Virgin Australia

Sementara itu, Virgin Australia menyatakan menunda pengiriman pesanan 48 pesawat Boeing 737 MAX karena masalah keamanan, Selasa (30/4). Keputusan ini diambil menyusul dua kecelakaan pesawat mematikan.

“Keselamatan selalu menjadi prioritas nomor satu untuk Virgin Australia. Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kami tidak akan memperkenalkan pesawat baru ke armada kecuali kami benar-benar puas dengan keselamatannya,” kata Kepala Eksekutif Virgin, Paul Scurrah, dilansir dari Straits Times, Selasa (30/4).

Adapun 737 MAX telah ditangguhkan di seluruh dunia dari pertengahan Maret. Ini terjadi setelah jatuhnya penerbangan Ethiopian Airlines, dan kecelakaan Lion Air di Indonesia yang menewaskan total 346 penumpang dan awak.

Virgin Australia menyatakan dalam sebuah pernyataan mereka menunda pengiriman pesawat-pesawat pertamanya dari November 2019 hingga Juli 2021. “Kami yakin dengan komitmen Boeing untuk mengembalikan 737 MAX ke layanan dengan aman dan sebagai mitra jangka panjang Boeing, kami akan bekerja sama dengan mereka melalui proses ini,” ucap Scurrah.

Virgin juga telah mengalihkan beberapa pesanannya dari 737 MAX 8 ke Max 10 sambil tetap menjaga total 48 pesawat. Pengumuman Virgin datang saat eksekutif Boeing menghadapi beberapa tantangan pemegang saham pada Senin (29/4) pada pertemuan umum tahunannya.

Terjadinya krisis masih menimbulkan pertanyaan tentang apakah raksasa kedirgantaraan ini lebih memilih keuntungan di atas keselamatan untuk memasarkan pesawat.

loading...