Angkasa Pura 2

Kemenpar Bikin Gebrakan dengan FGD Pengembangan Ekowisata Berbasis Sungai

DestinasiRabu, 1 Mei 2019

IMG-20190429-WA0044
Jakarta (Beritatrans.com) – Kementerian Pariwisata berencana menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Pengembangan Produk Ekowisata Berbasis Sungai, dengan tema ‘Penyusunan Pola Perjalanan Produk Ekowisata Sungai’. Kegiatan dijadwalkan pada 9-11 Mei mendatang di Swiss Belhotel Danum Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adyani mengatakan, berdasarkan amanat Presiden, pariwisata Indonesia diharapkan dapat terus diperkuat dan dikembangkan menjadi sektor strategis. Termasuk menjadi pilar pembangunan perekonomian nasional. Serta dapat mencapai target kunjungan wisman sebesar 20 juta, dan pergerakan wistawan nusantara sebesar 275 juta.

“Target kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah penerimaan devisa negara sebesar Rp280 triliun pada tahun 2019. Dan meningkatkan kontribusi pariwisata sebesar 8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional 2019.

Menurutnya, capaian pembangunan kepariwisataan di Indonesia terbilang cukup gemilang. Pada tahun 2017 sektor pariwisata memberikan kontribusi pada PDB Nasional 5% dan menyumbangkan devisa sebesar Rp202,13 triliun. Selain itu sebanyak 12,6 juta tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor pariwisata. Jumlah pergerakan wisatawan nusantara juga terus mengalami pertumbuhan yang masif sejak tahun 2015.

Indonesia juga memiliki  kekayaaan keanekaragaman dan kekhasan hayati baik berupa flora maupun fauna yang luar biasa banyak serta memiliki endemisitas yang tinggi. Pembagian bioregion di Indonesia didasarkan bio-geografi flora dan fauna yang tersirat oleh adanya garis wallace, garis weber, dan garis lydekker. Keanekaragaman hayati di Indonesia terdiri dari tiga kategori, yaitu keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman genetika.

Keanekaragaman ekosistem mencakup keanekaan bentuk dan susunan bentang alam, daratan maupun perairan, dimana mahluk atau organisme hidup berinteraksi dan membentuk keterkaitan dengan lingkungan fisiknya. Sebagai contoh di Indonesia memiliki ekosistem padang rumput, lumut, hingga padang es di Pegunungan Jaya Wijaya. Sementara itu, keanekaragaman jenis adalah keanekagaraman organisme yang menempati wilayah darat maupun perairan. Sedangkan keanekaragaman genetika adalah keanekaragaman individu di dalam suatu jenis.

Asdep Bidang Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan berharap, pengoptimalan potensi alam di Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat umum. Meskipun potensi wisata yang berbasis ekowisata sangat banyak, namun jumlah wisatawan yang datang tidak sebanding dengan potensi wisata yang dimiliki Indonesia.

“Sebagai contoh, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke taman nasional hanya sekitar 430.000 kunjungan pada tahun 2017. Apabila dibandingkan dengan jumlah wisatawan ke Indonesia tahun 2017 yaitu sebesar 14 juta kunjungan, maka jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Taman Nasional hanya 3.07 persen,” jelasnya.

Kegiatan ekowisata umumnya dilakukan di kawasan konservasi seperti Taman Nasional, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Buru dan Area Sungai. Namun ekowisata juga tetap dapat dilakukan di areal non-konservasi selama kegiatannya masih tetap mengacu 3 pilar utama yaitu Ekologi, Ekonomi, dan Sosial budaya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, tujuan FGD tersebut adalah untuk memperkenalkan serta mengangkat pengembangan produk ekowisata berbasis sungai di  Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Lalu brainstorming guna penyelarasan pengembangan produk ekowisata berbasis sungai dengan stakeholders terkait, memperoleh dukungan dari para stakeholders serta pemangku kawasan, sekaligus menyusun pola perjalanan produk ekowisata sungai.

“FGD dilaksanakan dalam rangka koordinasi, penyusunan dan juga ajang sosialisasi mulai dari proses perancangan hingga pelaksanaan. Adapun stakeholders yang diundang yakni sebanyak 70 orang dari unsur pemerintah, asosiasi, industri pariwisata, NGO, komunitas, akademisi dan pihak-pihak yang terkait dalam hal pengembangan ekowisata,” jelasnya.

Dengan adanya acara ini diharapkan dapat lebih memperkenalkan konsep produk ekowisata berbasis sungai kepada stakeholders ekowisata. Selain itu, diharapkan para pemangku kawasan lebih serius untuk bersinergi dalam pengembangan ekowisata yang memiliki konsep saling terkait dan menguatkan. Sehingga, konsep tersebut dapat memajukan pariwisata nasional dan berkontribusi nyata terhadap devisa negara. (Della)