Angkasa Pura 2

Semangat Mengeksplore “Gerabah” di Banyumulek dan Tenun di Sukarare

DestinasiMinggu, 5 Mei 2019

IMG-20190504-WA0055
LOMBOK (Beritatrans.com) – Pagi itu, Jumat (3/5) udara cerah menyapa peserta Famtrip Media Kemenpar-AirAsia di Lombok yang bersahabat. Matahari yang beranjak naik tak menyurutkan semangat rombongan yang terdiri dari jurnalis Australia, Malaysia dan Singapura, untuk mengunjungi destinasi wisata di Lombok.  Kali ini famtrip media berkesempatan mengeksplore desa wisata Banyumulek Sebuah desa yang sebagian besar penduduknya menjadi pengrajin gerabah.

Menurut perwakilan AirAsia Malaysia yang ikut dalam famtrip, Jessica Tan kunjungan ke desa-desa tradisional Lombok cukup memberi kesan bagi peserta. Karena dengan kunjungan itu mereka jadi tahu budaya dan kehidupan masyarakat Lombok yang masih memegang tradisi daerahnya. “Kunjungan ini juga bisa memberi gambaran kepada media bagaimana budaya masyarakat Lombok. Setiap wilayah punya tradisi, Singapura, Malaysia ataupun Australia mereka punya tradisi. Tapi di sini mereka dikenalkan dengan tradisi, budaya yang ada di Lombok,” kata Jessica.

Sementara itu peserta dari media blogger Australia, Julia mengatakan perjalanan menyusuri desa wisata Lombok sangat menyenangkan. “Kami semua menikmati, terima kasih kementrian pariwisata Indonesia, terima kasih AirAsia,” kata Julia yang mengaku mendapat banyak bahan buat tulisannya.

Saat mengunjungi desa Banyumulek, peserta famtrip disambut dengan gapura hijau yang bertuliskan “Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek”.  Ketika melangkah masuk ke area desa, kita akan menemui sejumlah pengrajin gerabah sedang bekerja. Kesan desa gerabah akan sangat kental terasa. Sekaligus menegaskan bahwa desa Banyumulek ini adalah sentra kerajinan gerabah.

Di desa Banyumulek Lombok, membuat gerabah merupakan sebuah kemampuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keahlian tersebut akhirnya mampu mengangkat perekonomian desa, bahkan menarik pengunjung untuk menyaksikan dan berbelanja gerabah di desa ini. Di sepanjang jalan desa  ditemui banyak galeri dan toko di kedua sisi jalan. Pastikan Anda tidak kebingungan akan mengunjungi galeri yang mana, karena banyaknya galeri yang berdiri di desa ini. Namun di antara galeri-galeri tersebut Anda akan menemukan sebuah galeri yang cukup besar. 

Di galeri besar tersebut Anda bisa menemui bermacam gerabah dengan varian yang lebih lengkap. Mulai dari ukuran, bentuk, warna, motif hiasan, keunikan, sampai fungsi yang bervariatif. Gerabah-gerabah tersebut tentu saja merupakan hasil karya pengerajin gerabah Desa Banyumulek ini. Beberapa diantaranya berupa vas bunga pasir, gentong telur, berbagai bentuk celengan, cas gepeng, adik-kakak ukir asam, kap lampu, hiasan dinding, dan lain sebagainya.

Di sini bisa ditemui sebuah produk kerajinan gerabah desa Banyumulek yang khas, yaitu Kendhil sulap. Kendhil yang satu ini cukup unik, karena memiliki desain dan cerita yang berbeda dari kendhil-kendhil biasanya. Kendhil ini memiliki lubang di bagian dasarnya. Lubang ini dipakai untuk memasukkan air ke dalam kendhil. Uniknya, desain yang khusus pada Kendhil sulap ini membuat air tidak keluar dari lubang tersebut saat kendhil diletakkan kembali.

Hasil kerajinan gerabah Desa Banyumulek ternyata sudah merambah sampai ke pasar internasional. Misalnya New Zeland dan beberapa negara di Eropa. Di desa ini, kita bisa membawa pulang hasil seni tersebut dengan harga yang bervariatif. Tergantung dari bentuk, ukuran, motif hiasan, serta tingkat kesulitan saat proses pembuatannya.

Selain melihat hasil seni yang bewarna-warni tersebut, disini pengunjung juga bisa belajar dan ikut serta dalam proses pembuatannya. Yang menarik, pada saat peroses pembuatan gerabah para pengerajin tidak pernah menggunakan alat bantu ukur untuk menentukan diameter gerabah. Selain itu, alat-alat yang digunakan terbilang sederhana. Semuanya dilakukan dengan hati sehingga para pengerajin gerabah Desa Banyumulek ini mampu menghasilkan hasil seni yang berkualitas dan mengagumkan.

Ketrampilan para pengerajin Desa Banyumulek Lombok ini ternyata didukung oleh alam sekitar. Di sekitar desa, tanah liat dan air yang merupakan bahan baku, sangat mudah untuk didapatkan. Begitu pula dengan bahan pewarnanya. Para pengerajin tersebut biasanya menggunakan bahan pewarna alami, seperti biji asam yang dimasak dahulu.

Sebelum ke desa Banyumulek, peserta famtrip media  juga sempat berkunjung ke desa Sukarare. Di sini mereka mengeksplore kerajinan kain tenun khas Lombok.

Desa Sukarare berlokasi di kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa ini memang sudah sangat terkenal dengan kerajinan khasnya yaitu kain tenun atau yang lebih dikenal masyarakat luas dengan nama kain Songket. Kain ini dibuat oleh penduduk tradisional Desa Sukarare Lombok khususnya kaum perempuan.

Menpar Arief Yahya mengatakan desa wisata, seperti desa-desa tradisional yang didalamnya mengandung tradisi, budaya, seni merupakan bagian penting dari pariwisata. Menurutnya pariwisata harus didukung dengan 3A, yakni Asesibilitas, Atraksi dan Amenitas. Sedangkan desa wisata masuk dalam unsur atraksi. “Jadi menjual pariwisata itu bukan sekadar menjual wisata alam, tetapi juga tradisi, seni dan budaya khas masyarakat setempat. Termasuk juga kuliner,” ujar Arief Yahya. (Della)

loading...