Angkasa Pura 2

Pasokan Listrik di Sulawesi Masih Bergantung Kapal Pembangkit Turki

images (92)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan, wilayah Sulawesi dan Gorontalo yang masih bergantung pada pasokan listrik dari kapal pembangkit (Marine Vessel Power Plant/ MVPP) asal Turki.

Sedangkan, kontrak sewa MVPP oleh PLN akan berakhir pada 2021. Direktur Bisnis Regional Sulawesi Syamsul Huda mengatakan, jika pasokan dari MVPP tersebut masih sangat dibutuhkan.

“Artinya, kalau MVPP dilepas dari sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo sekarang masih akan ada pemadaman,” ujar Samsul, di Jakarta, Senin (6/5).

Menurutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pembangkit energi baru terbarukan yang baru beroperasi bisa menopang kebutuhan listrik masyarakat yang saat ini menggunakan MVPP. Apalagi kedepannya kebutuhan listrik akan semakin besar karena adanya pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) yang mulai beroperasi.

Saat ini, beban puncak dari smelter di Sulawesi sekitar 1.600 megawatt (MW). PLN pun terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain itu, PLTU dan Pembangkit EBT yang akan beroperasi yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap, PLTU Mamuju, dan PLTB Janeponto yang ditargetkan beroperasi tahun ini.

“Ada beberapa pembangkit baru, sehingga arahannya MVPP bisa kita akhiri,” ujarnya. Adapun, saat ini masih ada tiga wilayah lagi yang masih bergantung dengan pasokan listrik dari MVPP, yaitu Sumatera, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku.

MVPP merupakan pembangkit listrik di atas kapal yang didatangkan dari Turki. Pembangkit listrik ini dimiliki oleh seorang perempuan asal Turki bernama Zeynep Sultan, sesuai dengan nama kapal tersebut Karadeniz Powership Zeynep Sultan.

Pemerintah akan menggunakan alat ini dengan jangka waktu lima tahun sejak 2016. Sebagai imbalannya, PLN akan membeli listrik yang dihasilkannya. Selain itu, MVPP bisa dioperasikan dengan menggunakan heavy fuel oil dan juga gas.

(ra/sumber: katadata.co.id).

loading...