Angkasa Pura 2

Pertumbuhan Ekonomi Melambat Antara Lain Karena Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Ekonomi & Bisnis KokpitSenin, 6 Mei 2019
tiket

JAKARTA (BeritaTrans.com) –
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan I sebesar 5,07 persen, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018 sebesar 5,18 persen.

Dibandingkan triwulan I 2018 yang sebesar 5,06 persen, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 hanya sedikit membaik.

Konsumsi rumah tangga masih jadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 berdasarkan pengeluaran dengan share sebesar 2,75 persen dari total pertumbuhan ekonomi triwulan I sebesar 5,07 persen.

Sumber pertumbuhan menurut pengeluaran lainnya berasal dari pertumbuhan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi sebesar 1,65 persen, net ekspor 1,16 persen, konsumsi pemerintah 0,3 persen, dan lainnya -0,79 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan konsumsi rumah tangga pada triwulan I tahun ini tumbuh sebesar 5,01 persen, lebih baik daripada pertumbuhan pada triwulan I 2018 yang sebesar 4,94 persen.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini juga ikut melambat dibandingkan dengan triwulan IV 2018 yang sebesar 5,08 persen.

“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertahan di tiga komponen,” ungkap Suhariyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, komponen yang menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga adalah transportasi dan komunikasi yang salah satu penyebabnya adalah karena masih mahalnya harga tiket pesawat terbang.

Pertumbuhan komponen ini pada triwulan I sebesar 4,91 persen, melambat dari triwulan I tahun 2018 yang tumbuh 4,96 persen dan triwulan IV 2018 yang tumbuh 6,14 persen.

Suhariyanto menambahkan komponen restoran dan hotel juga mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan I tahun ini dengan pertumbuhan 5,42 persen bila dibandingkan dengan triwulan I 2018 yang tumbuh 5,64 persen.

“Komponen pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya juga mengalami perlambatan pertumbuhan dari 5,03 persen pada triwulan I tahun 2018 menjadi 4,87 persen pada triwulan I tahun ini,” urai dia.

Sementara untuk komponen makanan dan minuman selain restoran mengalami peningkatan pertumbuhan dari 5,14 persen pada triwulan I 2018 menjadi 5,29 persen pada triwulan I tahun ini.

Begitupun dengan perumahan dan perlengkapan rumah tangga juga tumbuh lebih besar dari 4,53 persen pada triwulan I 2018 menjadi 4,64 persen pada triwulan I tahun ini.

Selanjutnya, komponen kesehatan dan pendidikan juga mengalami peningkatan pertumbuhan dari 5,49 persen pada triwulan I tahun lalu menjadi 5,66 persen pada tahun ini.

Komponen lainnya pada konsumsi rumah tangga juga meningkat dari 2,42 persen pada triwulan I tahun lalu menjadi 2,68 persen pada triwulan I tahun ini.

Suhariyanto menjelaskan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan ini didorong oleh penjualan eceran yang tumbuh 8,10 persen, menguat dibandingkan triwulan I 2018 yang tumbuh 0,70 persen.

“Penguatan antara lain terjadi pada penjualan makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga, dan barang lainnya,” jelas dia.

Transaksi uang elektronik naik

Selain itu, Suhariyanto mengatakan, nilai penjualan listrik PLN ke rumah tangga juga tumbuh 7,24 persen, menguat dibanding triwulan I 2018 yang tumbuh 7,01 persen.

Dia juga mengungkapkan nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit tumbuh 14,56 persen, menguat dibanding triwulan I tahun 2018 yang tumbuh 12,14 persen.

“Hal ini menunjukkan daya beli masih bagus,” tegas Suhariyanto,

Dia berharap pada triwulan II tingkat konsumsi rumah tangga bisa tumbuh lebih baik dengan adanya Ramadan dan Idulfitri sehingga pertumbuhan ekonomi triwulan II juga bisa lebih tinggi.

(dien/sumber: Anadolu Agency/foto: kabar24.bisnis.com).

loading...