Angkasa Pura 2

Kerjasama PT KAI dengan PT Bukit Asam Luncurkan Kereta Api Babaranjang

EmplasemenRabu, 15 Mei 2019
16966_09481729092018_kai

LAMPUNG (BeritaTrans.com) – Kereta api batu bara rangkaian panjang (Babaranjang) adalah kereta api jenis barang yang mengangkut batu bara milik PT Tambang Batubara Bukit Asam.

Keberadaan kereta api babaranjang ini sebagai wujud kerja sama antara Bukit Asam dengan PT Kereta Api Indonesia.

Kereta api ini diluncurkan sebagai realisasi proyek Kelompok Proyek Pengembangan Pengangkutan Batu Bara Kereta Api (KP3BAKA), dan pada akhirnya kereta api disepakati sebagai angkutan utama batu bara relasi Tanjungenim-Tarahan yang sekarang dikenal dengan sebutan Babaranjang.

Angkutan kereta api dari Tanjung Enim dan Baturaja menuju Pelabuhan Tarahan ini menggunakan sistem cost insurance freight (CIF).

Artinya, batu bara yang diangkut merupakan tanggung jawab PT Kereta Api Indonesia.

Karena kondisi jalan lintas Sumatera dan angkutan sungai di Sumatera Selatan tidak layak, terutama pada Sungai Musi yang bisa mengakibatkan transportasi terhambat karena sedimentasi, sehingga kereta api jadi pilihan utama untuk mengangkut batu bara produksi dari PT Bukit Asam.

Adapun KA Babaranjang ini berguna untuk memasok batu bara untuk PLTU Suralaya di Banten yang merupakan salah satu pemasok listrik utama di Pulau Jawa.

Dan batu bara yang menjadi bahan bakar PLTU tersebut, selama ini memang sepenuhnya dipasok Bukit Asam.

Dari Tanjung Enim, batu bara diangkut Babaranjang ke Tarahan, seterusnya dibawa dengan kapal ke Suralaya.

Diperkirakan, KA Babaranjang ini menjadi tambang uang PT Kereta Api Indonesia (KAI), karena kabarnya, laba yang diraup oleh PT KAI dari angkutan batu bara di Sumatera ini setiap tahunnya dapat menutup biaya operasional KA-KA penumpang di Pulau Jawa.

Kadivre IV Tanjung Karang, Suryawan Putra Hia, mengatakan saat ini maksimal gerbong yang dibawa kereta yang dikenal dengan Babaranjang ini yakni 60 gerbong setara dengan 300 truk dalam satu kali perjalanan.

“KA Babaranjang dalam satu kali angkut (batu bara) bisa menggantikan 300 truk, artinya kalau kereta api itu tdak ada maka jalan raya akan dipenuhi oleh 300 truk dalam sekali perjalanan” ujar Suryawan.

“Tentunya ini akan sangat mengganggu pengguna transportasi selain akan merusak struktur jalan raya”, lanjutnya

Selama ini, pengguna angkutan jalan raya selalu merasa terganggu kalau KA Babaranjang melintas di perlintasan sebidang karena lamanya waktu tunggu yang durasinya bisa mencapai 15 menit.

“Kalau ada perlintasan, nunggunya itu bisa sampai merokok, sampai rokoknya habis. Tapi memang sesuai UU, perlintasan sebidang itu enggak boleh ada,” ucap Suryawan.

Dengan jumlah lokomotif kereta barang yang dimiliki saat ini sebanyak 437 unit, KAI menargetkan tahun ini bisa mengangkut barang sebanyak 47 juta ton.

Sementara operasional kereta barang di Sumatera Selatan, saat ini tersedia 84 perjalanan setiap harinya. (Dan/sumber tribunlampung.co.id)

loading...