Angkasa Pura 2

APBI: Masih Minim Ketersediaan Kapal Nasional Untuk Ekspor Batu Bara

Dermaga Ekonomi & BisnisJumat, 17 Mei 2019
kapal-tanker_20180528_120351-553x393

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menilai kewajiban untuk menggunakan kapal nasional pada kegiatan ekspor batu bara masih harus melalui tahap persiapan, paling tidak minimal dua tahun.

“Ketersediaan kapal nasional untuk mengangkut seluruh batu bara yang diekspor masih sangat minim. Masih perlu persiapan yang cukup panjang,” ujar Ketua Umum APBI Pandu Sjahrir saat dijumpai di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dia mengutarakan dari sisi kapal nasional, saat ini ketersediaannya masih kurang dari 2%. Sementara itu, dari sisi importir, penggunaan kapal nasional dari Indonesia akan mengubah skema jual beli yang selama ini diterapkan.

“Umumnya, jual beli batu bara tersebut menggunakan skema jual lepas di atas kapal (free on board/FOB) ya, jadi semuanya dari sana yang urus, asuransinya, kapalnya ya sudah semuanya jadi satu. Karena kalau dari sana mungkin merasa lebih aman dan nyaman, lebih kompetitif, service juga lebih bagus,” kata Pandu.

Sebagai informasi, dalam skema FOB tersebut, setelah batu bara diserahkan di titik jual, maka batu bara menjadi tanggung jawab pihak importir atau pembeli. Mereka yang akan menyiapkan seluruh kebutuhan pengangkutan mulai dari asuransi hingga kapal.

Adapun, terkait kewajban pengunaan asuransi nasional, Pandu mengungkapkan sudah banyak produsen yang menerapkannya dalam kegiatan ekspornya.

Ia menilai, setelah menerapkan hal tersebut, para produsen tidak mempermasalahkan asuransi nasional, asal bisa lebih kompetitif.

Kendati demikian, menurut Pandu, hal tersebut justru tidak memacu asuransi nasional untuk berkembang. Sehingga, perlu peran pemerintah untuk mendorong pengembangan asuransi nasional agar bisa menunjang kegaitan ekspor batu bara dari Indonesia.

Tidak hanya itu, sebagian produsen juga memilih untuk menggunakan asuransi ganda, baik yang disediakan oleh importir maupun yang disediakan sendiri dari dalam negeri.

Ekspor Anjlok

Sebelumnya Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan ekspor batu bara Indonesia bisa turun sebesar 15,7% pada 2023. Penurunan ini tidak terlepas dari perlambatan permintaan batu bara yang salah satunya disebabkan faktor perubahan iklim.

Berdasarkan kajian IEA, diperkirakan permintaan batubara di China akan turun dari 2.752 juta ton di 2017 menjadi 2.673 juta ton pada 2023. Sekitar separuh dari permintaan ini adalah batu bara untuk pembangkit listrik (non-coking coal), diperkirakan batu bara untuk pembangkit listrik di China akan mencapai puncaknya sebesar 1.350 juta ton pada 2020 dan akan turun ke 1.230 juta ton pada 2030 atau sekitar 9%.

Direktur APBI Hendra Sinadia mengakui, memang ke depannya kondisi pasar global menjadi tantangan dalam keberlangsungan industri batu bara. Kendati demikian, ia mengatakan tidak perlu khawatir sebab sudah beberapa upaya dilakukan dalam mengatasi hal tersebut.

Misalnya, lanjut Hendra, dalam hal mengatasi isu perubahan iklim, APBI sudah coba untuk bekerja sama dengan pemerintah, untuk mendorong praktik-praktik pertambangan yang baik. Memang tidak mudah, karena ada ribuan jumlah izin pertambangan sehingga menentukan mana yang sudah benar.

“Selain itu, sejak 2007, dengan KLHK membentuk forum reklamasi bekas tambang. Forum ini cukup aktif dengan KLHK dan ESDM, tingkatkan awareness di anggota kami terkait pengelolaan lahan bekas tambang,” ujar Hendra dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Senin (1/4/2019).

Sehingga, kata Hendra, pihaknya menilai prospek batu bara ke depan masih ada. Dari sisi domestik, industri batu bara Indonesia sedang transformasi, untuk meningkatkan nilai tambah.

“Jadi China tentu pasar yang prospektif dan memang gradually declining, tapi untungnya China masih butuh batu bara Indonesia yang bagus spesifikasinya, begitupun dengan India,” pungkas Hendra.

Adapun, sebagai informasi, di India, walaupun kebutuhan batubara akan naik, namun diperkirakan volume impor batu bara akan turun ke level 13,4% dari total konsumsi pada 2022-2023 akibat meningkatnya produksi batubara domestik.

Sedangkan, permintaan batubara di Jepang dan Korea, diperkirakan akan turun 3% pada 2023 dibanding volume di 2017 , walaupun demikian berdasarkan dokumen Basic Blueprint for Power Supply yang dirilis pemerintah Korea Selatan akhir tahun lalu, komposisi listrik dari batubara akan turun dari 45,3 % di 2017 menjadi 36,1 % di 2030.

Nasib komoditas batu bara kini tengah terluntang-lantung. Sudah tiga bulan pertama sejak 2019, harga si emas hitam ini terus mengalami penurunan, dari yang tadinya berjaya di US$ 100 per ton, kini harus rela tergerus ke level US$ 88,85 per ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis angka terbaru untuk Harga Batu bara Acuan (HBA) untuk periode April 2019 yakni di level US$ 88,85 per ton. Level HBA pada April ini masih di tren rendah, melanjutkan tren penurunan sejak beberapa bulan terakhir di tahun ini. Pada Januari lalu HBA di level US$ 92,41 per ton, lalu Februari US$ 91,80/ton, dan Maret US$ 90,57/ton.

Lalu bagaimana nasib harga batu bara ke depannya?

Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menuturkan, memang ada kecendrungan harga batu bara menurun di kuartal I 2019, namun, ia menilai hal tersebut merupakan siklus harga batubara yang masih biasa.

“Saya masih optimistis harga batu bara ke depan rata-rata bisa sekitar US$ 60-80 per ton. Prediksi harga ini tentunya pandangan yang cukup konvensional, bisa saja harga ini lebih dari US$ 80 per ton,” ujar Irwandy kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/4/2019).

Alasannya, lanjut Irwandy, sangat sederhana. Selama pembangunan PLTU batu bara di Asia masih berlanjut, dan kebutuhan batu bara Asia sangat mempengaruhi permintaan batubara dari Indonesia, maka potensi harga rebound masih ada.

(jasmine/sumber: cnbcindonesia.com).