Angkasa Pura 2

Manajemen Rekayasa Lalin Saat Mudik Lebaran 2019 Harus Perhatikan Azas Keadilan Bagi Masyarakat

Aksi Polisi Koridor SDMRabu, 22 Mei 2019
IMG-20181216-WA0001

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Masalah lain yang lebih krusial dan perlu difikirkan bersama selama arus mudik dan baik Lebaran 2019 adalah terkait dengan azas keadilan bagi masyarakat. Pasalnya, waktu liburnya sama, tapi sebagian memperoleh prioritas untuk melewati jalan tol, sedangkan sebagian yang lain harus menyusuri jalan nasional yang belum tentu bagus.

“Sistem ganjil genap memang cocok diterapkan untuk pola perjalanan harian (regular), namun tidak cocok untuk diterapkan dalam pola perjalanan insidental, seperti mudik Lebaran atau Nataru (Natal dan Tahun Baru),” kata pengamat transportai dan Direktur Instrans Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, ada usulan Korlantas Polri untuk menerapkan system satu arah didasarkan pada pengalaman melaksanakan kebijakan satu arah (one way) pada musim mudik Lebaran 2018 lalu. “Pada saat itu arus mudik dan arus balik memang lancar, meski tidak dapat dipungkiri bahwa arah sebaliknya mengalami ketersendatan selama berjam-jam,” jelas Tyas, sapaan akrab dia.

Artinya, lanjut Tyas, pada saat arus mudik, perjalanan menuju ke arah Jakarta tersendat, dan sebaliknya pada saat arus balik, perjalanan ke luar Jakarta terhambat. “Bahkan jarak Jakarta – Bekasi bisa mencapai enam jam pada saat arus balik,” kritik Tyas yang juga pamong Perguruan Taman Siswa itu lagi.

Lebih Mudah

Menurut Corporate Communication Departmen Head PT Jasa Marga (Pesero) Irra Susiyanti kepada media (17/5/2019), sistem one way ini rencananya akan diberlakukan dari Km 29 Jalan Tol Jakarta – Cikampek hingga Km 262 (Brebes Barat), pada saat arus mudik dari tanggal 30 Mei hingga 2 Juni 2019.

Prinsipnya, menurut Tyas, one way arus mudik dan arus balik lebih mudah praktis diterapkan untuk angkutan Lebaran dibandingkan dengan ganjil genap. “One way tanpa perlu pengawasan yang ketat, yang penting sosialisasi kepada publik dan penjagaan di pintu masuk agar tidak masuk kendaraan yang melawan arus, sebab kalau sampai ada kendaraan lawan arus, dapat menimbulkan kecelakaan beruntun,” terang Tyas.

Namun, urai dia, sosialisasi kebijakan one way harus massif agar mereka yang akan melakukan perjalanan melawan arus sudah dapat merencanakan perjalanan sejak awal dan memilih jalur alternative.

Meskipun one way itu lebih mudah dan lebih praktis dilaksanakan, menurut Tyas, sebaiknya tidak semua lajur Tol Trans Jawa diperuntukkan bagi kendaraan pribadi. Saat ini, masing-masing jalur tol itu memiliki tiga lajur atau total ada enam lajur.

Kebijakan one way ini kalau kesemuanya diperuntukkan bagi kendaraan pribadi tentu sangat kurang bijak, karena sama saja memanjakan mobil pribadi.

“Sebaiknya satu lajur arah Jakarta pada saat mudik dan satu lajur arah timur saat arus balik diperuntukkan bagi angkutan umum (bus dan mobil barang yang diperbolehkan beroperasi saat musim Lebaran), serta angkutan darurat (seperti ambulan maupun pemadam kebakaran),” tegas Tyas.(helmi)

loading...