Angkasa Pura 2

Sejak Januari 2019, Penumpang Kapal Pelni Naik Rata-Rata 39%

DermagaSabtu, 25 Mei 2019
20190525_230008

BAYAM (BeritaTrans.com) – Mahalnya harga tiket pesawat menjadi berkah tersendiri buat PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Penumpang maskapai pelayaran tersebut meningkat 39 persen terhitung sejak Januari 2019 hingga saat ini.

“Dari Januari sampai sekarang, kenaikan penumpang rata-rata 39 persen sejak kenaikan tarif pesawat,” kata Direktur Usaha Angkutan Kapal dan Tol Laut Pelni Harry Boediarto usai peninjauan kesiapan angkutan Lebaran 2019 di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu.

Dia mengatakan peningkatan jumlah penumpang bukan hanya terjadi di pelabuhan-pelabuhan besar, tetapi juga pelabuhan kecil di seluruh Indonesia.

“Hampir semua rute di Indonesia. Pelabuhan besar sampai ke daerah-daerah terpencil juga,” katanya.

Bukan hanya penumpang, dia menuturkan, dengan adanya kebijakan bagasi berbayar di pesawat juga membuat masyarakat cenderung memilih pengangkutan melalui kapal di mana diberikan kapasitas hingga 40 kilogram.

Selain itu, lanjut dia, melalui program pengiriman Pelni, Redpack, bisa memfasilitasi pengiriman barang sampai ke rumah (door to door).

“Kadang penumpangnya duluan yang berangkat kemudian barangnya menyusul atau kebalikannya, kami bisa layani hingga 100 kilogram,” katanya.

Harry memperkirakan pergeseran penumpang dari pesawat ke kapal akan terus meningkat, karena itu pihaknya menyesuaikan fasilitas dan kenyamanan.

“Penumpang akan terus meningkat seperti itu dan kita mau kenyamanan di atas kapal, fasilitas hiburan kami tambah,” katanya.

Upaya tersebut untuk menyesuaikan karakter kelas menengah atas yang cenderung kritis.

“Kami mau kenyamanan di atas kapal, makanya fasilitas hiburan kami tambah. Justru makanya kami lihat menengah ke atas itu kritis, kami bentuk tambahan fasilitas di kapal karena penting juga untuk penumpang yang kritis, supaya lebih betah lagi,” katanya.

Sebelumnya Pelni menyatakan akan mengoperasikan tiga kapal yang telah selesai melakukan pemeliharaan atau docking tahunan pada angkutan lebaran 1440 H Tahun 2019.

Sebanyak tiga armada terdiri KM Labobar, kapal tipe 3000 pax, KM Awu dan KM Bukit Raya yang merupakan kapal tipe 1000 pax. Pengoperasian tiga kapal tersebut dimulai Selasa (21/5) hari ini.

Kepala Kesekretariatan Perusahaan Pelni Yahya Kuncoro mengatakan, kapal-kapal penumpang wajib dilakukan docking untuk pemeriksaan dan perawatan kelaiklautan meliputi keselamatan, kehandalan mesin, kelistrikan, AC dan perbaikan layanan terkait toliet setiap tahun.

“Sebelum dioperasikan, kapal sudah melakukan sea trial dan dinyatakan laik oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai lembaga independen untuk keselamatan kapal,” kata Yahya dalam keterangannya, Selasa (21/5/2019).

Kapal Premium

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta Pelni untuk menyiapkan kapal premium terkait peningkatan penumpang karena pergeseran penumpamg pesawat ke moda kapal.

FB_IMG_1558799850720

“Saya sudah sampaikan ke Pelni, tentu harus dipersiapkan karena jumlah kapalnya harus memadai yang kedua kapalnya lebih premium, jadi ada untuk angkutan premium yang dilakukan oleh Pelni,” kata Menhub.

Dia menyebutkan pergeseran jumlah penumpang dari pesawat ke kapal tidak begitu signifikan, tetapi persiapan harus tetap dilakukan, seperti memperbanyak frekuensi dan peningkatan fasilitas.

“Tentunya kalau frekuensi banyak seperti Medan-Batam ini menjadi ekonomis juga. Di satu sisi secara korporasi memberikan suatu keuntungan, kedua masyarakat ‘enjoy’ seperti halnya kelas bisnis tempat lain,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut, Agus Purnomo menjelaskan kapal jarak pendek saat ini sedang dalam tren naik.

“Kita belum memonitor (migrasi dari udara ke laut). Yang jelas tren seluruh kapal-kapal jarak pendek meningkat,” kata Agus saat mendampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau persiapan Angkutan Lebaran 2019 di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepri, Sabtu (25/5/2019).

Agus menjelaskan perpindahan penumpang dari transportasi udara ke laut karena faktor tingginya tarif maskapai penerbangan.

Ia menyebut lebih dari lima rute pendek yang secara persentatif meningkat signifikan.

“Seperti di Batam, Makassar, Dumai, Balikpapan, Banjarmasin, Ternate, hingga Sorong karena memang tiket mahal cenderung pindah ke laut,” papar Agus.

(ant)

loading...