Angkasa Pura 2

Pertamina: Harga Avtur Paling Murah Di Bandara Soekarno-Hatta

Energi KokpitRabu, 29 Mei 2019
2528406

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Pertamina menepis anggapan masih mahalnya harga tiket pesawat disebabkan oleh tingginya harga avtur.

Manager Pemasaran Ritel Pertamina Mas’ud Khamid mengatakan, harga tiket pesawat yang masih mahal tidak berkaitan dengan harga avtur Pertamina. Alasannya, Pertamina telah menurunkan harga atur sesuai dengan yang diperintahkan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Harga avtur tidak ada kaitanya dengan harga tiket pesawat, avtur kita harganya sudah kompetitif,” kata Mas’ud, di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Di kesempatan terpisah, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengklaim, sudah mengikuti formula harga avtur yang ditetapkan pemerintah. Sebab itu, harga avtur yang dijualnya di Bandara Soekarno Hatta paling murah‎.

Nicke mengatakan, Pertamina telah memperbarui harga avtur setiap dua minggu, dengan mengacu formula pembentukan harga yang sudah ditetapkan pemerintah berdasarkan patokan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).

“‎setiap dua minggu kami udpate,harga avtur juga kami tetapkan dengan formula disesuaikan dgn ICP,” kata Nicke.

Menurut Nicke, dalam tiga bulan terakhir ICP mengalami penurunan, harga avtur pun merefleksikan kondisi tersebut. Bahkan dia mengklaim harga avtur termurah di Bandara Soekarno Hatta.

“Kalau lihat tren 3 bulan terakhir di 2018, itu ICP turun,‎” ujarnya.

Nicke membantah kabar jika harga avtur Pertamina masih tergolong mahal. dia menyatakan harga avtur yang dijualnya termasuk yang paling murah.

“Itu tidak benar. Avtur kita di Cengkareng itu yang termurah,” tegasnya.

Nicke melanjutkan, Pertamina sudah berkontrak dengan maskapai Garuda Indonesia untuk memasok avtur agar bisa menjual dengan harga murah Pertamina melakukan kesepakatan langsung dengan produsen.

“‎Semua avtur untuk Garuda kami juga yang sediakan. Artinya kami langsung deal dengan penghasil avtur di sana, kami bisa langsung bandingkan. Jadi harga avtur kita kompetitif,” tandasnya.


YLKI: Tak Terjadi Kompetisi

Sebelumnya, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo mengatakan agar harga tiket pesawat bisa dijangkau oleh masyarakat maka tidak cukup dengan menurunkan tarif batas atas alias TBA. YLKI justru menyatakan keberatan dengan penurunan tarif batas atas tiket pesawat.

Menurut dia, untuk menciptakan kompetisi, maskapai penerbangan selain Garuda Grup dan Lion Air Grup perlu diperkuat. Sebab dapat menjadi penyeimbang dalam bisnis penerbangan di Indonesia.

Maskapai semacam Air Asia, kata dia, bisa memberikan harga tiket pesawat yang lebih rendah dan terjangkau. Sayangnya, market share Air Asia masih kecil. “Air Asia market kecil, Indonesia ideal ada 3-5 air line independen. Sekarang baru ada 3 perusahaan, Lion Group dan Garuda Group dominan,” ungkapnya.

4292019113044

Menurut dia, saat ini terjadi duopoli dalam bisnis penerbangan di Indonesia. Size perusahaan dan anak perusahaan yang besar membuat Garuda Indonesia dan Lion Air menjadi sangat dominan. Dia mengatakan di antara dua maskapai ini tidak terjadi kompetisi.

“Sebenarnya yang terjadi grup Garuda, Citilink, Sriwijaya, Lion Air, Batik, Wings itu tidak ada kompetisi sebetulnya. Karena dari sisi harga, Lion ikuti Garuda,” tegas dia.

Berhadapan dengan kenyataan seperti ini, lanjut dia, kehadiran maskapai lain sangat diperlukan. “Apa bedanya cost mereka? AirAsia kenapa lebih murah? Efisiensi. Artinya efisiensi Garuda, Lion di-deliver ke konsumen. Kedua tiket mahal sturktur pasar industri aviasi cenderung ke duopoli kemudian dari dua kelompok besar tadi tidak berkompetisi satu leader, satu followers,” imbuh dia.

“Langkah yang dilakukan bukan supaya harga tiket pesawat Lion, Garuda turun, tapi Pemerintah baca efisiensi di AirAsia dan menekan Garuda lebih efisien. Kalau AirAsia bisa lebih murah kenapa Lion dan Garuda tidak efisien,” tandasnya.

Masih Wajar

Sementara itu, harga tiket pesawat pada rute domestik masih dapat dikatakan lazim. Ini terlihat dari tingkat kemampuan dan kemauan masyarakat dalam membayar tiket pesawat.

Hal ini merupakan temuan penelitian yang dilakukan oleh BUMN Research Group (BRG), unit independen di bawah LM FEB UI. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel 9 rute penerbangan tersibuk di Indonesia yang menggunakan layanan penerbangan dalam 4 bulan terakhir.

Adapun total jumlah responden sebanyak 630 orang. Arza Prameswara, Peneliti BRG LMUI, menyebutkan penelitian ini berfokus pada analisis Affordability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP) penumpang angkutan udara.

“Dari hasil kajian ini diketahui bahwa secara umum ATP dan WTP untuk angkutan udara di Indonesia relatif serupa berada di kisaran Rp 1 juta – Rp 1,5 juta. Artinya kemampuan daya beli penumpang dengan perceived benefit cukup sejalan,” kata Arza dalam pernyataannya, Rabu (29/5/2019).

Beberapa rute utama dalam kajian ini, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Denpasar, dan Jakarta-Yogyakarta memiliki rentang tarif yang ditawarkan oleh maskapai masih berada di rentang ATP dan WTP konsumen.

“Namun, seperti halnya yang sering diberitakan selama ini dimana harga tiket untuk rute Jakarta-Medan dirasa mahal juga terbukti pada survei ini. Terdapat kesenjangan antara kemampuan dan kesediaan masyarakat untuk membeli,” terang Arza.

Baca juga: Harga Tiket Kereta Sama dengan Harga Tiket Pesawat, Ini Kata Kemenhub

Dalam hasil riset disebutkan pula kesediaan masyarakat untuk membeli tiket berada pada kisaran Rp 1 juta-Rp 1,5 juta. Adapun harga tiket yang berlaku di rentang harga Rp 1 juta- Rp 2,8 juta.

Hal ini kemudian mendorong fenomena beralihnya konsumen menggunakan maskapai asing dengan penerbangan transit internasional.

Kondisi tersebut sesuai dengan 21 persen responden yang menyatakan kesediaan untuk memilih penerbangan transit,” jelas Arza.

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto menjelaskan, mahalnya tiket penerbangan domestik perlu diantisipasi dengan cepat karena menjadi celah bagi maskapai asing untuk melakukan penetrasi di pasar Indonesia.

Baca juga: Menko Darmin: Tiket Pesawat Sudah Turun, tetapi Enggak Besar…

Isu beralihnya penumpang ke maskapai asing terlihat pada rute Jakarta-Medan melalui transit Kuala Lumpur.

“Dari hasil survei, kesediaan penumpang untuk transit jika terbang dengan maskapai asing (rute Jakarta-Medan) yang cukup lama, antara 3-3,5 jam,” ucap Toto.

Implikasi lain dari kenaikan harga tiket adalah pergeseran penumpang pesawat ke angkutan darat.

Baca juga: Ombudsman: Pemerintah Lamban Antisipasi Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Meski ada masalah inefisiensi pengelolaan maskapai yang membuat harga tiket meningkat, Toto berpendapat penetapan harga tiket pesawat tidak bisa dipandang sebagai suatu kebijakan secara umum, melainkan spesifik untuk masing-masing rute.

Oleh karena itu, menurutnya pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal dalam penentuan batas tarif pesawat, antara lain: aspek efisiensi maskapai, persaingan maskapai dalam dan luar negeri, alternatif transport, karakteristik rute serta dampak perekonomian daerah.

(jasmine/sumber: liputan6.com dan kompaa.com).

loading...