Angkasa Pura 2

Tim Balitbang BPPT dan Unhas Rancang Prototipe Kapal Petikemas Yang Efisien Untuk Dukung Program Tol Laut

Dermaga Litbang SDMKamis, 30 Mei 2019
IMG_20190530_055006

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kepala Badan Litbang Perhubungan (Baitbang) Sugihardjo mengatakan, pihaknya bersama BPPT dan Unhas Makassar mengembangkan prototipe kapal angkutan petikemas yang efisien dan terbaik di Indonesia.

“Kapal tersebut diharapkan mampu mendukung aplikasi Tol Laut yang ekonomis, efisien dan menjangkau daerah remote sekalipun. Dengan begitu, benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” kata Sudihardjo dalam perbincangan dengan BeritaTrans.com di Jakarta, Rabu (29/5/2019) sore.

Kapal tersebut diharapkan selesai dan bisa dioperasikan tahun 2020 mendatang. “Saat ini, prototipe kapal petikemas yang ideal untuk Indonesia itu masih terus dimatangkan oleh Tim Gabungan,” lanjut Kabalitbang disela-sela Jumpa Pers Bersama menjelang Angleb 2019 itu.

Menurutnya, ide (pembangunan kapal) tersebut berangkat dari keprihatinan masih tingginya biaya logistik di Indonesia, termasuk dengan pengoperasikan kapal-kapal tol laut, kereta api atau lainnya.

“Saat ini, biaya pengiriman petikemas dengan KA atau kapal tol laut masih mahal. Hal itu terjadi karena masih butuh double handling baik di pelabuhan asal atau pelabuhan tujuan,” jelas Jojo, sapaan akrab dia.

Moda KA khususnya lintas utara Jawa sudah double track dari Jakarta sampai Surabaya. “Tapi, penambahan angkutan kargo di KA masih sangat kecil. Akhirnyam impian menurunkan biaya logistik nasional belum juga terwujud,” aku Jojo.

Menurutnya, biaya pengapalan potin to point bisa saja rendah. Tapi, ada biaya tambahan lainnya yang banyak, sehingga akumulasinya biaya yang ditanggung pemilik barang justru menjadi mahal.

“Masalah itulah yang menjadi keprihatinan kita semua, termasuk Balitbang. Kini, Balitbang bersama BPPT dan Unhas merancang kapal petikemas yang efisien dan sesuai kondisi geografis serta kebutuhan di lapangan,” papar Jojo lagi.

Dia menambahkan, program tol laut sudah sangat bagus dan mampu memotong mata rantai distribusi nasional. “Namun untuk kondisi tertentu masih perlu dtingkatkan efisiensinya, sehingga mampu menghemat devisa yang lebih besar,” tegas Jojo.(helmi)

loading...