Angkasa Pura 2

AirNav Yogya: 11 Balon Udara Liar Terbang hingga 30.000 Feet Selama 4-7 Juni 2019

KokpitMinggu, 9 Juni 2019
55594040-air-transportation-cartoon-cartoon-of-helicopter-planes-and-air-balloon-

YOGYAKARTA (BeritaTrans.com) – Otoritas pengatur aktivitas penerbangan atau Air Navigation (AirNav) Cabang Yogyakarta mendapat laporan 11 balon udara yang membahayakan aktivitas penerbangan.

Belasan balon udara liar itu masuk jalur penerbangan pada Selasa hingga Jumat, 4-7 Juni 2019.

General Manager (GM) AirNav Cabang Yogyakarta, Nono Sunaryadi mengatakan 11 balon udara liar itu diketahui berdasarkan laporan pilot. Rata-rata ketinggian balon udara liar tersebut sekitar sembilan hingga 10 kilometer atau 27 ribu-30 ribu feet.

“Sementara, jalur (penerbangan) pesawat pada ketinggian 40 ribu hingga 30 ribu feet. Balon udara liar itu memotong jalur pesawat,” kata Nono saat dihubungi pada Sabtu, 8 Juni 2019.

Nono mengungkapkan, pihak AirNav terus meningkatkan kewaspadaan lewat pengawasan Air Traffic Controller (ATC) terhadap pergerakan atau peluncuran balon udara liar.

Hasil pengawasan kemudian diinformasikan kepada pilot yang sedang menerbangkan pesawat. Selain itu, pilot juga ikut memberikan laporan jika mengetahui keberadaan balon udara liar.

“Laporan pilot kami rekap, kemudian para controller memberi info ke pilot pesawat yang lain,” ujarnya.

Ia menyebut, temuan atau laporan balon udara liar pada 2019 memang lebih rendah dibanding 2018. Adapun pada 2018 laporan keberadaan balon udara sebanyak 26. Bahkan, saat itu balon udara terdapat gas elpiji tiga kilogram.

Bersama otoritas penerbangan, ia melanjutkan, terus berupaya menekan aktivitas penerbangan balon udara secara liar. Langkah yang dilakukan seperti sosialisasi kepada masyarakat, tokoh masyarakat, hingga pemerintah dan aparat. “Wilayah yang punya tradisi menerbangkan balon udara ini ada di Kabupaten Wonosobo (Jawa Tengah),” ujarnya.

Selain itu, AirNav juga mengeluarkan notice to airman (Notam) ditujukan ke personel operasi penerbangan. Notam itu bertujuan agar adanya kehati-hatian atas keberadaan balon udara liar.

Ia menyebut, balon udara boleh diterbangkan dengan ketentuan harus diikat atau ditambatkan. Ketentuannya, diameter balon udara dengan lebar empat meter dan tinggi tujuh meter. Ketinggian penerbangan balon udara maksimal 150 meter.

Ikatan Pilot Protes

Penerbangan balon liar di sejumlah wilayah Indonesia itu diprotes Ikatan Pilot Indonesia (IPI).

Dalam pernyataannya, Ketua IPI Kapten Iwan meminta regulator dan pemerintah daerah mengatur serta bekerja sama dengan semua pihak untuk menjalankan PM Nomor 40 Tahun 2018.

Balon-udara-jawa-pos
Warga Ponorogo menerbangkan balon udara. Ujung balon dipasangi mercon renteng yang akan meletus di udara. (Dok. Jawa Pos)

Hingga Kamis (6/6), sudah ada 28 laporan pilot yang melihat balon udara. Namun, menurut Iwan, jumlah tersebut masih terus bertambah. ”Tadi pagi hingga siang (kemarin,Red) ada lagi 7 laporan,” katanya kepada Jawa Pos kemarin. Dengan begitu, hingga kemarin sudah ada 35 laporan.

Dia mengungkapkan, sejauh ini para pilot sudah menerima notice to airmen (notam). Jika melihat balon udara terlalu dekat, pilot terpaksa mengambil manuver untuk menghindar.

Namun, manuver yang dilakukan terlalu mendadak bisa membahayakan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman serta kru kabin yang bertugas.”Bisa sampai loose object. Tapi, kami berharap tidak ada insiden,” ujarnya.

Iwan menyatakan, kontak antara pesawat dan balon bisa sangat berbahaya. Balon bisa tersangkut di sayap, ekor, hingga flight control surfaces (elevator, rudder, dan aileron serta alat kendali utama pesawat). Akibatnya bisa sangat fatal. Pesawat menjadi sulit atau tidak bisa dikendalikan. Bahkan, pesawat bisa hilang kendali.

”Kalau balonnya masuk ke dalam mesin pesawat, mesin bisa mati, terbakar, atau bahkan meledak,” jelasnya.

Balon yang tersangkut di hidung pesawat juga sangat berbahaya. Sebab, di situ terletak banyak sensor penerbangan. Balon bisa menutup sensor yang berfungsi mengukur ketinggian dan kecepatan pesawat. Akibatnya, informasi ketinggian dan kecepatan pesawat akan terganggu.

”Selain itu bisa menutupi kaca depan sehingga pilot sulit mendapatkan visual guidance (panduan pandangan kasatmata) dalam pendaratan,” ungkapnya.

Kepada AirNav dan pemerintah, IPI berharap diterbitkan notam restricted area, bahkan prohibited area, untuk rute di atas wilayah yang diperkirakan banyak balon udara beterbangan disertai rute alternatif pada saat kegiatan festival balon berlangsung. ”Ini untuk menghindari risiko yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan tersebut,” katanya.

Selain itu, Iwan meminta para pelaku kegiatan ilegal penerbangan balon udara disanksi tegas. ”Saya juga minta kepada seluruh pilot Indonesia untuk terus melaporkan ke pihak-pihak terkait jika ditemukan hazard terkait balon udara,” tegasnya.