Angkasa Pura 2

Subsidi Angkutan Umum Selama Arus Mudik Lebaran?

Dermaga Emplasemen Kokpit Koridor SDMSelasa, 11 Juni 2019
IMG-20181216-WA0001

JAKARTA (BerritaTrans.com) – Gagasan lama yang pernah disampaikan kepada Komisi V DPR RI (2007) adalah perlu adanya subsidi untuk angkutan umum pada saat angkutan Lebaran, baik untuk penumpang bus, kereta api, maupun kapal laut di Indonesia.

“Subsidi untuk penumpang pesawat terbang juga diperlukan untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau, yang selama ini dilayani oleh penerbangan perintis,” kata Darmaningtyas, Ketua Instran (Institut Studi Transortasi) kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Menurutnya, subsidi tersebut tidak untuk menggratiskan layanan angkutan umum, tapi tujuannya untuk meringankan beban pemudik agar mereka tetap membayar tarif reguler (harian) tapi operator tidak rugi karena beban kenaikkan tarifnya ditanggung oleh Negara.

Sebagai contoh, kata Tyas, sapaan akrab dia, tarif regular AKAP/kapal laut/KA Ekonomi ke tujuan tertentu sebesar Rp100.000, Pada saat musim mudik Lebaran operator menaikkan menjadi Rp200.000, Nah yang Rp100.000. “Kemudian dari kenaikkan tarif itu, ditanggung oleh Negara melalui APBN/ APBD,” jelas Tyas.

Dengan skema subsidi seperti itu, menurt pamong Perguruan Taman Siswa itu, masyarakat tidak terbebani oleh tarif AKAP/kapal laut/KA Ekonomi, operator untung. Selanjutnya, Pemerintah juga tidak terlalu terbebani karena hanya menanggung 50% dari total tarif Lebaran.

Menurut Tyas, subsidi ini sebaiknya juga diberikan pada AKDP (angkurtan kota dalam provinsi) sebagai angkutan pengumpannya.

“Subsidi tersebut sebaiknya diberikan selama H-7 sampai H+7 Lebaran untuk semua moda transportasi massal ekonomi agar subsidi tepat sasaran,” papar Tyas.

Bagi warga yang tinggal di Jawa, terang Tyas, diharapkan dengan adanya subsidi angkutan umum tersebut mereka mudik tidak menggunakan motor lagi, melainkan naik angkutan umum tanpa perlu khawatir kalau tarifnya mahal.

“Sedangkan bagi pemudik ke/dari luar Jawa atau antar pulau di luar Jawa, mereka dapat turut serta merasakan mudik dengan tiket kapal yang murah namun keselamatannya terjamin karena operator tidak mengangkut penumpang melebihi kapasitas sekadar untuk mengejar momentum mendapatkan keuntungan besar,” urai putra Yoyakarta ini lagi.

Memang Pemerintah sekarang telah melaksanakan program mudik gratis untuk menekan jumlah pemudik dengan menggunakan motor. Namun, menurut Tyas, mudik gratis tidak menjangkau semua daerah, sedangkan layanan Bus AKAP umumnya sampai ke ibu kota kabupaten, bahkan kecamatan, sehingga pemudik tidak terlalu repot.

“Bila subsidi angkutan umum tersebut dapat direalisasikan, akan dapat mengurangi penggunaan motor untuk mudik sehingga mengurangi kepadatan di jalan raya maupun tol mengingat daya angkut bus jauh lebih banyak dibandingkan mobil pribadi,” kilah Tyas.

Makin banyak pemudik menggunakan angkutan umum itu makin baik, sehingga tidak diperlukan lagi kebijakan one way system yang hanya fokus memfasilitasi mobil pribadi.

“Dalam penyelenggaraan mudik Lebaran ke depan Pemerintah perlu lebih memberikan prioritas pada angkutan umum, bukan pada kendaraan pribadi,” tegas Tyas.(helmi)

loading...