Angkasa Pura 2

Layanan Angkutan Jalan “Buy The Service”, bukan Menggusur Namun Menggeser

KoridorSenin, 24 Juni 2019
IMG-20190624-WA0001

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Rencana pengembangan layanan angkutan jalan “Buy The Service” dimulai tahun 2020 menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno bukanlah menggusur yang sudah eksksting namun menggeser.

“Bila melihat pengalaman penerapan di Jawa Tengah, mulai persiapan hingga operasi membutuhkan waktu 6-8 bulan,” tutur Djoko di Jakarta, Senin (24/6/2019).

Jadi, bila mau diiperasikan awal tahun 2020, mulai sekaranglah persiapan dilakukan. Hal yang paling sulit diungkpkannya, adalah meyakinkan Kepala Daerah, anggota DPRD, dan operator yang ada.

“Anggota DPRD perlu diyakinkan, karena ada kewajiban yang harus dilakukan dan dianggarkan oleh Pemda, seperti kebijakan pembatasan kendaraan pribadi, membangun trotoar dan halte, sosialisasi ke masyarakat dan operator,” katanya.

Kemenhub menurutu dia, harus bekerjasama dengan Kemendagri untuk mewujudkannya, karena selama ini program angkutan umum di daerah gagal.

Ada daerah yang sudah menyelenggarakan angkutan umum, misalnya Semaramg (8 koridor) dan Pekanbaru (12 koridor). Akan tetapi belum bisa memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum yang sudah disediakan. Pasalnya, tidak kebijakan membatasi kendaraan pribadi sebagai imbangannya.

Beberapa daerah sudah ada yang berinisiatif untuk angkutan pelajar, seperti Kab. Tabanan, Kan. Gianyar, Kab. Denpasar, Kab. Kebumen, Kota Banjar.

“Namun lagi-lagi, untuk mewujudkan ini masih harus diperhatikan masalah kelembagaan, operator, sistem kontrak, jenis bus, rencana operaso, perawatan bus, sistem tiket, halte, anggaran, pengawasan (controlling),” ucap Djoko.

Djoko bilang, Pemerintah dapat belajar dengan Pemprov. DKI Jakarta dan Pemprov. Jateng yang sudah lebih dulu menerapkan program buy the service ini.

Hambatan pasti ada, tapi jadikanlah tantangan untuk menciptakan transportasi umum yang murah dan mudah dikerjakan. (omy)

loading...