Angkasa Pura 2

Selain Bilang Berat Bisnis Penerbangan di Indonesia, Tony Fernandes Juga Kecam Kartel

KokpitJumat, 5 Juli 2019
IMG_20190705_095214

JAKARTA (BeritaTrans.com) – CEO dan pendiri AirAsia, Tony Fernandes, membeberkan sederet pengalamannya memulai bisnis dalam sebuah acara bincang santai di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Dia bercerita panjang lebar mengenai kiprah menakhodai AirAsia termasuk lika-liku yang dihadapi.

Tony juga membeberkan betapa beratnya menjalankan bisnis penerbangan di Indonesia. Menurutnya, banyak aturan yang tidak berpihak kepada bisnis penerbangan. Dia bahkan tak ragu menyebut regulasi sebagai salah satu ancaman bagi bisnis yang digelutinya.

“Untuk pemerintah RI, saran saya jangan terlalu mengatur. Regulasi itu bisa mematikan bisnis. Biarkanlah pasar menentukan, biarkan customer yang memutuskan sesuatu terjangkau atau tidak untuk mereka,” ujar Tony.

Apalagi, dia menilai saat ini kondisi industri penerbangan sedang tidak baik. Dalam kondisi ini, perlu beragam inovasi agar ada persaingan sehat dalam menawarkan sesuatu yang lebih diminati.

“Menurut saya pemerintah cukup memfasilitasi para pelaku bisnis, bukan mengatur,” bebernya.

Tony juga membandingkan regulasi di sektor bisnis penerbangan dengan startup. Dia berpendapat, bisnis startup di RI bisa tumbuh pesat karena tidak terlalu dikekang oleh regulasi.

“Lihat saja Gojek yang tidak ada yang mengaturnya,” sebutnya.

Hal ini juga membuat Tony Fernandes tertarik berbisnis startup di RI. Dia mengaku sudah punya perhitungan tersendiri mengenai calon pesaingnya.

“Kami memiliki banyak data, yang saya lihat di Indonesia ada perusahaan seperti Tokopedia, Traveloka, Gojek, dan lain-lain,” urainya.

“Saya pikir mereka memiliki kesempatan dan nilai lebih dari kami. Maka saya pikir saya akan membuat perusahaan digital sekarang,” lanjutnya.

Di sisi lain, dia juga sempat menyinggung dugaan kartel yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group. Meski mengaku tak bisa menuduh ada praktik kartel di RI, namun Tony terang-terangan mengecam tindakan itu.

IMG_20190705_095104

“Saya tidak tahu ada kartel atau tidak. Yang jelas saya tidak menyetujui praktik tersebut. Saya pro terhadap kompetisi terhadap konsumen. Janganlah ofensif, jadilah lebih baik,” tandasnya.

“Saya benci kartel, saya suka berkompetisi. Saya ingin berkompetisi, dan tidak suka ada kartel dan monopoli. Tapi ingat ya, bukannya saya menuduh ada kartel di Indonesia saya tidak bilang itu,” kata dia lagi.

(dien/sumber: cnbcinsonesia.com).

loading...