Angkasa Pura 2

PT Kereta Cepat Indonesia-China Bangun LRT Bandung Raya, Kelar Akhir Tahun 2020

EmplasemenKamis, 11 Juli 2019
2244824211

BANDUNG (BeritaTrans.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) tak berhenti berupaya mencari terobosan untuk memecahkan kemacetan yang mendera Kota Bandung.

Salah satu solusi yang segera diwujudkan adalah membangun transportasi massal light rapid transit (LRT) Bandung Raya. Rencana pembangunan LRT Bandung Raya disampaikan langsung Gubernur Jabar Ridwan Kamil atau Emil lewat akun Instagram pribadinya @ridwan kamil.

Tanpa banyak diketahui, proyek tersebut sudah masuk tahap penetapan rute dan persiapan konstruksi. Dia bahkan menargetkan proyek ini selesai berbarengan dengan mulai beroperasinya Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada akhir 2020 atau awal 2021.

Pada tahap awal, LRT tersebut akan menghubungkan stasiun ke reta cepat di Tegal Luar, Kabupaten Bandung menuju pusat Kota Bandung di Stasiun Kebon Kawung dengan stasiun tambahan di depan Masjid Raya Al- Jabbar di Gedebage, Kota Bandung.

images - 2019-07-11T105913.861

Ke depan LRT juga akan menghu bungkan sejumlah titik di kawasan Bandung Raya. Emil menjelaskan selain menghubungkan sejumlah wilayah di Bandung Raya, LRT yang terintegrasi dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini pun menjadi penghubung masyarakat pengguna kereta cepat ke pusat Kota Bandung.

Sebagai moda transportasi, LRT Bandung Raya akan lebih banyak dimanfaatkan sebagai moda transportasi wisatawan yang datang ke Bandung.

“Desain nya nanti kita modifikasi seperti Bandros (Bandung Tour on Bus) agar bisa dipakai untuk wisata, tidak sama dengan yang di Jakarta,” ujar Emil di Bandung.

Menurut Emil, pembangunan LRT Bandung Raya akan dilakukan PT Kereta Cepat Indonesia- China (KCIC) yang juga membangun Kereta Cepat Jakarta- Bandung. Emil juga menyebut, PT KCIC berani membiayai proyek ini karena LRT Bandung Raya akan menjadi penghubung masyarakat pengguna Kereta Cepat Jakarta-Ban dung ke Kota Bandung.

Hanya berapa investasi yang harus disiapkan, Emil mengaku belum mengetahuinya secara detail. Namun diperkirakan setiap satu kilometer trase LRT biasanya menghabiskan dana sekitar Rp500 miliar. Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa mengaku sudah menawarkan proyek transportasi massal di Bandung kepada investor Eropa saat berkunjung ke Benua Biru itu beberapa waktu lalu.

“Beberapa calon investor seperti Cross Rail International, mereka salah satu yang bisa mendatangkan atau mengoordinasikan investor dan proyek transportasi massal yang ada di London. (Monorel) di beberapa negara adalah hasil dari mereka dan mereka tertarik untuk melakukan kerja sama,” katanya.

Selain Cross Rail International, lanjut Iwa, ada juga One Work yang berpengalaman menangani integrasi pembangunan. Tidak hanya itu, investor dari Spanyol yang berkantor di London, Basque Trade, juga telah menyatakan keter tarikan nya untuk berinvestasi di Jabar, khususnya di proyek aerocity dan monorel.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohanandy menyambut antusias rencana pembangunan LRT Bandung Raya. Dia mendorong rencana tersebut segera direaliasi karena bisa menjadi solusi kemacetan lalu lintas yang mengarah ke pusat Kota Bandung maupun sebaliknya.

“Mudah-mudahan segera terwujud. Kita ingin LRT jadi solusi,” ujar Daddy.

Daddy bahkan berharap, LRT Bandung Raya terwujud sebelum Kereta Cepat Jakarta-Ban dung beroperasi. Dia tidak menghendaki para penumpang kereta cepat itu mengalami kesulitan mengakses pusat kota gara-gara kemacetan yang kerap terjadi.

Sementara itu pengamat transportasi yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jabar Sony S Wibowo mengaku, kawasan Bandung metropolitan (Bandung, Cimahi, Bandung Barat, Jati nangor) mestinya telah me mi liki LRT sejak 10 tahun lalu.

“Karena memang kota dengan penduduk jutaan memerlukan angkutan umum massal. Dan yang terbukti efektif pun yang berbasis rel,” kata Sony kemarin.

Kota metropolitan Bandung Raya, menurut dia, memang mestinya sudah punya angkutan eksklusif. Artinya jalur transportasinya tidak bercampur dengan angkutan lain. Angkutan berbasis rel seperti LRT, menurutnya, paling cocok.

Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno mengingatkan Pemprov Jabar agar mempersiapkan banyak hal.

“Ini kalau belajar dari LRT Sumsel, berarti banyak hal yang perlu disiapkan. Misalnya konek tivitas LRT harus terint grasi dengan angkutan atau trans portasi lain,” ucapnya.

Djoko menjelaskan bahwa integrasi yang dimaksud, pemerintah daerah harus menyiapkan fee der atau angkutan pengumpan LRT.

Sebab angkutan massal seper ti LRT tidak akan bisa menjangkau pusat-pusat permukiman masyarakat. “LRT itu kan tidak sampai di depan rumah warga, berarti harus ada feeder-nya yang sudah siap terlebih dahulu,” ungkapnya.

Kemenhub masih memperdalam

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaku belum mem bahas lebih lanjut soal rencana Pemerintah Provinsi Jabar membangun LRT. Kepala Biro Ko munikasi dan Informasi Publik Hengki Angkasawan mengatakan, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perkereta apian Kemenhub masih akan mengundang Pemprov Jabar melakukan pendalaman terhadap rencana implementasi LRT Jabar.

“Untuk studi implemen tasi LRT Jabar dilakukan Pemerintah Provinsi Jabar. Dan itu sudah dipaparkan kepada Pak Menteri dan Dirjen Kereta. Tapi masih butuh pendalaman lagi,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Menurut Hengki, usulan tersebut datang dari Pemprov Jabar. Adapun implementasinya masih harus dikaji Kemenhub, Direktorat Perkeretaapi an. “Kemenhub melalui Direktorat Perkeretaapian akan mengundang lagi untuk pendalaman dalam waktu dekat ini,” sebutnya.

Anggota Komisi V DPR Muhidin M Said mengatakan, rencana pemerintah provinsi membangun LRT di Jabar patut diapresiasi. Meski begitu banyak hal yang harus menjadi fokus atau perhatian pemerintah.

“Kalau usulan implementasi LRT Jabar saya kira positif. Yang paling penting adalah konektivitasnya juga harus di benahi. Jangan sampai banyak yang mau dibangun, tapi belum selesai pada persoalan mendasar,” ucap dia.

(ray/sumber: okezone.com).

loading...