Angkasa Pura 2

MRT Jakarta Telah Raih Pendapatan Rp50 Miliar dari Penjualan 90.000 Tiket/Hari

EmplasemenJumat, 12 Juli 2019
20190712_164439

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengungkapkan pendapatan Rp50,4 miliar diraih selama periode Mei 2019 hingga pertengahan Juli 2019.

Pendapatan dari hasil penjualan tiket itu, dia mengutarakan
30 persen dari target Rp168 miliar tahun 2019.

Dia mengutarakan penjualan tiket pada masa awal beroperasi, yakni akhir Maret-April 2019 belum efisien.

6122019164559

“Tapi kan sekarang Juli, kami baru mulai hitung Mei kemarin. Efektifnya sejak pendapatan masuk (akhir Maret 2019), tapi kan kami terapkan diskon 50 persen. Sekarang, kami baru mulai dengan pemberlakuan tarif penuh,” ungkapnya, Kamis (11/7).

Sabandar optimistis MRT Jakarta mencapai target pendapatan. Pasalnya, jumlah pengguna MRT kian bertambah dibandingkan April lalu atau masa awal mass rapid transit (MRT) beroperasi.

“Belum bisa saya bilang pendapatan berapa, tapi dengan pengguna yang sudah 80 ribu-90 ribu per hari itu angka yang cukup bagus,” ujarnya.

Pada awal beroperasi, jumlah penumpang MRT hanya berkisar 60 ribu per hari. Dengan kenaikan jumlah penumpang, manajemen mengaku belum berniat untuk menaikkan target pendapatan dari tiket.

“Saya belum berani kasih estimasi itu kan kami baru beberapa bulan ya (beroperasi). Tapi saya bisa katakan hari ini kami sesuai dengan perhitungan untuk mewujudkan capaian pendapatan kami dari tiket,” ucapnya.

Selain dari tiket, perusahaan juga akan mendapatkan pendapatan dari lelang hak penamaan (naming right) oleh sejumlah perusahaan di beberapa stasiun MRT, gerai ritel, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), iklan, dan telekomunikasi yang seluruhnya berada di stasiun.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan perusahaan menargetkan pendapatan non tiket sebesar Rp94 miliar tahun ini. Kontribusi terbesar didapat dari lelang hak penamaan.

Beberapa stasiun yang namanya ditulis dengan identitas korporasi, antara lain Lebak Bulus Grab, Setiabudi Astra, Dukuh Atas BNI, dan Istora Mandiri.

“Kami lewat proses lelang, yang paling tinggi penawarannya dapat. Khusus Lebak Bulus penawaran langsung dari Grab karena yang ditawarkan juga tinggi,” tandas Kamal.


Terkoneksi dengan Commuter Line & Transjakarta

Sebelumnya William Sabandar mengemukakan stasiun MRT Kota akan terkoneksi dengan Stasiun Kereta Commuter Line dan Halte Bus Transjakarta yang sudah lebih dulu beroperasi di wilayah Kota, Jakarta.

Stasiun MRT Kota merupakan salah satu stasiun yang akan dibangun pada proyek pengembangan fase II MRT Jakarta.

“Kami sedang melakukan perencanaan untuk bagaimana nantinya integrasi (Stasiun MRT Kota – Stasiun Kereta Commuter Line Kota – Halte Bus Transjakarta Kota) akan terjadi,” ujar Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar dalam acara temu media di Jakarta, Rabu (27/6/2019).

William mengungkapkan Stasiun MRT Kota akan berada di bawah tanah. Dalam paparannya, salah satu pintu masuk Stasiun MRT akan terhubung lorong (tunnel) yang sudah terhubung dengan Halte Bus Transjakarta dan diteruskan hingga kawasan Stasiun Commuter Line Kota.

“Harapannya, yang sekarang didesain itu, di depan stasiun daerah terbuka. Kalau Anda ke Tokyo di depan stasiun itu daerah yang terbuka di mana orang bisa berinteraksi di depan stasiun,” ujarnya.

Sebagai informasi, Stasiun MRT Kota merupakan 1 dari 7 stasiun bawah tanah yang akan dibangun pada proyek pengembangan MRT Fase II yang menghubungkan Bundaran HI – Kota. Pembangunan proyek yang menelan investasi sekitar Rp22,5 triliun ini akan berlangsung mulai tahun ini hingga 2024.

Saat ini, pembangunan sudah berjalan untuk Stasiun Monas. Berikutnya, perusahaan masih menggelar lelang untuk paket konstruksi Bundaran HI-Harmoni.

(via).

loading...