Angkasa Pura 2

Tindak Lanjut Kunjungan Presiden, Pelindo IV dan Pemprov Sulut Kerja Sama Kembangkan Pelabuhan

DermagaJumat, 12 Juli 2019
20190712_220643

MANADO (BeritaTrans.com) – Hanya sepekan setelah kunjungan Presiden Jokowi, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV mendantangani MoU dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut).

Penandatanganan kesepahaman kerja sama dilakukan Direktur Utama Pelindo IV Farid Padang dan Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Jumat (12/7/2019). Demikian informasi yang didapat BeritaTrans.com dan Aksi.id dari Twitter @indonesiaport4.

Memori saling kesepahaman itu berkaitan dengan pengembangan pelabuhan, ekspor, konektifitas dan pariwisata di Sulut.

Sebelum penandatangan MoU, Farid Padang dan Olly Dondokambey sempat membahas pengembangan Pelabuhan Manado dan Bitung, serta Terminal Peti Kemas Bitung.

Dalam kesempatan itu, Farid Padang didampingi General Manager PT Pelindo IV Cabang Manado Jhon Lapod, General Manager PT Pelindo IV Cabang Terminal Petikemas Bitung, Ayub Rizal.

IMG_20190712_214751

Sebelumnya Farid Padang mengemukakan PT Pelabuhan Indonesia IV siap membangun Manado Marine Bay untuk mendukung rute Bitung–Davao untuk ekspor langsung ke Filipina dari wilayah di Sulawesi Utara.

Dia mengatakan rencana membangun Manado Marine Bay dan persiapan rute Bitung–Davao ini sudah disampaikan kepada Menteri BUMN Rini M Soemarno dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelum Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau ke Manado.

“Bahkan kami sudah menyiapkan master plan Manado Marine Bay. Pembangunan pelabuhan ini juga untuk mendukung program pariwisata yang terintegrasi,” kata Farid.

Untuk pembangun proyek itu, Pelindo IV melakukan koordinasi intens dengan pihak Pemerintan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado dan Pemkot Bitung.

“Kami targetkan rencana membangun (Manado Marine Bay) tuntas dalam dua tahun sejak konstruksi pada 2020 nanti. Hal itu sesuai dengan yang diharapkan Presiden Jokowi,” ujarnya.

Dia mengatakan,pembangunan Manado Marine Bay berada dalam kawasan wisata Taman Laut Bunaken, dalam rangka mendukung program Pemkot Manado sebagai Kota Pariwisata dan Kota Penyelenggara Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition).

Selain membangun Manado Marine Bay, BUMN kepelabuhanan ini juga akan melakukan pengembangan Pelabuhan Manado, yakni membangun dermaga 4 ukuran 6 x 10 meter persergi, pengerukan kolam pelabuhan kedalaman -4 LWS, pembangunan terminal penumpang dengan luas 1.600 meter persegi, dan lapangan penumpukan seluas 2.150 meter persegi.

Pihaknya juga siap mendukung kegiatan ekspor langsung dari Bitung ke Filipina melalui Davao, dengan segera menyiapkan rute Bitung–Davao.

Pelindo IV sendiri sudah pernah menyiapkan rute Bitung–Davao untuk ekspor langsung ke Filipina dengan menggunakan Super Shuttle RoRo 12.

Pembukaan rute Davao-Bitung saat itu seakan menjadi pelepas dahaga karena ekspor Sulawesi Utara sebelumnya dilakukan memutar lewat Jakarta, lalu singgah ke Singapura, sebelum melawat ke Manila hingga akhirnya ke Davao.

Tercatat, total ekspor Sulawesi Utara ke Filipina, sebelum pembukaan rute Davao–Bitung, mencapai 23,82 juta dolar AS. Rute Bitung-Davao sendiri merupakan bagian dari Master Plan Konektivitas ASEAN dan cetak biru dari The East Asean Growth Area yang sudah dirintis sejak 1994.

Inisiatif ini melibatkan empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Brunei, Malaysia dan Filipina. Saat itu, Kementerian Perhubungan mengestimasi bahwa waktu tempuh rute Davao-General Santos-Tahuna-Bitung hanya mencapai delapan hari dengan ongkos 550 dolar AS per TEUs. Waktu dan biaya ini jauh lebih irit dibandingkan dengan jalur konvensional Bitung ke Manila yang mencapai lima minggu dengan biaya 2.000 dolar AS per TEUs.

Kemenhub juga bahkan meminta kepada pihak Pelindo IV agar memberikan diskon khusus untuk pelayaran Bitung – Davao. “Pada prinsipnya kami setuju untuk memberikan insentif berupa (diskon khusus) tersebut,” tukas Farid.

Dia menambahkan sebagai pemicu untuk meningkatkan volume ekspor ke Filipina dan sebaliknya, harus ada barang balik berupa kebutuhan rumah tangga dan elektronik yang dapat langsung dikirim dari Filipina ke Bitung, sehingga rute tersebut akan berkelanjutan.

Jokowi Optimistis Dorong Volume Ekspor dari Bitung

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa dirinya optimis perbaikan Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, dapat mendorong volume ekspor-impor melalui pelabuhan tersebut.

“Banyak yang ingin masuk ke sini, ini ujung yang dekat dengan Filipina, dekat dengan Asia bagian Timur. Ini ada kekuatan yang bisa dipakai di sini, baik untuk mengekspor maupun mengimpor barang-barang tertentu,” kata Presiden Jokowi seperti dilansir dari Antara, Jumat (5/7/2019).

Pelabuhan Bitung sendiri adalah pelabuhan internasional yang ditargetkan dapat mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang dinyatakan sebagai salah satu prioritas pembangunan pemerintah.

IMG_20190712_223030

Di samping itu, keberadaan Pelabuhan Bitung juga akan mendukung kegiatan industri kawasan timur Indonesia meliputi Ambon dan Ternate (pertanian, industri, dan pertambangan) serta Samarinda, Balikpapan, Tarakan, dan Nunukan (batubara, minyak bumi, dan kayu lapis).

“Ini sekali lagi kita tetap melihat fasilitas-fasilitas yang mendukung KEK, begitu fasilitas-fasilitas pendukungnya siap, maka KEK-nya berjalan,” tambah Presiden.

Saat ini Pelabuhan Bitung sedang dalam masa perbaikan dan ditargetkan dapat selesai pada Oktober 2019.

“Kami ingin melihat semuanya, misalnya pelabuhan ini akan dimulai perbaikan pada bulan Oktober sehingga bisa untuk pelabuhan rakyat dan pelabuhan yang ada sekarang. Sudah tadi saya sampaikan, Pak Walikota, Pak Gubernur juga, lahan disiapkan dari pemda, kemudian ada yang bangun dari Kementerian Perhubungan. Setahun lah rampung,” tambah Presiden Jokowi.

Sementera fasilitas pendukung yang juga masih akan atau sedang dibangun adalah jalan tol, dermaga, dan jembatan dari Bitung ke Pulau Lembeh.

“Tahun depan jembatannya dimulai dari sini ke Lembeh, nanti pariwisatanya hidup, industrinya hidup di kawasan yang berbeda,” ungkap Presiden Jokowi.

Meski jembatan berdiri, menurut Presiden, industri pelayaran juga tidak serta merta gulung tikar.

“Nanti otomatis datang kalau turisnya banyak, tidak hanya di sekitar Manado ataupun di Bunaken tapi ini juga salah satu alternatif yang bisa dilihat bagus loh, bawah airnya juga cantik jadi industri ya dialihkan, kan ada yang lain, di sini bukan hanya urusan ke Lembeh saja, ke Ternate, Tobelo,” tegas Presiden.

Ongkos perbaikan Pelabuhan Bitung diperkirakan mencapai Rp34,364 triliun dengan skema pendanaan kerja sama pemerintah dan badan usaha.

Sebagai infromasi Presiden Jokowi mengunjungi Pelabuhan Bitung dalam rangkaian kunjungan kerja di provinsi Sulawesi Utara pada 4-5 Juli 2019.

(awe/foto: Twitter @indonesiaport4).

loading...