Angkasa Pura 2

Ini Dia Sindikat Driver Ojol Modus Pakai Tuyul

Aksi Polisi KoridorRabu, 24 Juli 2019
ungkap-kasus-driver-ojol-tuyul-di-mapolres-tangerang-selatan-serpong-senin-2272019

TANGERANG SELATAN (BeritaTrans.com) – Sindikat pengemudi ojek online (ojol) yang menggunakan cara curang untuk mendapatkan bonus diringkus oleh jajaran Kepolisian Resor (Polres) Tangerang Selatan.

Dari penjelasan Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Ferdy Irawan, terdapat delapan orang pelaku yang menggunakan “fake GPS” dengan perannya masing-masing.

Bermodalkan aplikasi “fake GPS”, sindikat driver ojol tuyul ini menggunakan aplikasi untuk berpura-pura memesan ojol hingga berpura-pura mengantarkan penumpang.

“Mereka berperan seolah ada pesanan ke aplikasi Go Jek, padahal pesanannya tidak ada. Mereka menggunakan fake GPS atau akun GPS palsu sehingga itu yang terdata di sistemnya go seolah-olah menerima orderan,” terang.

Adapun para pelaku yang diamankan yakni Achmad Arif Febi Ruchyadi (28), Irpan (25), Bima Alan Buana Saputra (24), Dian Azhari (31), Felix Prastatama Yudian Bangsa (21), Nadi Asmad (41), Taupik Kurniawan (47), dan Siti Hodijah (35).

Lebih lanjut dijelaskan Ferdy, para pelaku sudah tiga bulan melancarkan aksinya melakukan order fiktif untuk mendapatkan bonus dari program poin yang diadakan oleh Go Jek selaku perusahaan.

“Tujuan mereka melakukan hal ini untuk mendapatkan poin, poin yang mereka dapatkan jika berhasil mengumpulkan 30 poin mereka mendapatkan cashback Rp 200 ribu, jika Go Car 21 poin mereka mendapat cashback Rp 400 ribu,” jelasnya,
Senin (22/7/2019).

Disampaikan Ferdy, sindikat itu mampu menghasilkan Rp 3.000.000 dalam satu hari yang kemudian dibagi-bagikan ke pelaku yang sudah melakukan perannya.

Sindikat pengemudi ojol tuyul itu diamankan di sebuah warung kopi di Jalan Yapen Raya, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan pada 15 Juli 2019 lalu berdasarkan informasi dari masyarakat.

Dari keterangan seorang tersangka, Dian Azhari, dalam melancarkan aksinya melakukan order fiktif butuh waktu 15-30 menit sekali pemesannya dengan beberapa akun yang dimiliki.

“Sehari bisa 15 sampai 16 kali (order fiktif),” ujar Azhari.

Para pelaku kini terancam hukuman 12 tahun penjara lantaran terancam Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat (1) dan atau Pasal 33 UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE) dan Pasal 378 tentang penipuan.

(fahri/sumber: tribunnews.com).