Angkasa Pura 2

Fasilitas Pelabuhan Pulau Baai Minim, GPEI: Ekspor Lewat Tanjung Priok

Dermaga Ekonomi & BisnisRabu, 7 Agustus 2019
[UNSET]

BENGKULU (BeritaTrans.com) – Belum optimalnya kegiatan ekspor di Pelabuhan Pulau Baai disebabkan oleh minimnya fasilitas yang dimiliki.

Ditambah lagi, pelabuhan terbesar di Bengkulu ini juga belum menjadi pelabuhan internasional. Sehingga semua kegiatan ekspor dari pelabuhan tidak bisa dikirim langsung ke berbagai negara di Asia melainkan harus melakukan transit ke Pelabuhan Internasional seperti Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Pengurus Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Khairul Mahali mengatakan, masih minimnya fasilitas pelabuhan Pulau Baai membuat beberapa pengusaha di Bengkulu memilih melakukan ekspor melalui daerah lain. Soalnya, hingga saat ini pelabuhan Pulau Baai belum memiliki fasilitas yang memadai seperti terminal curah cair dan terminal curah kering.

“Hal itu yang membuat eksportir memilih daerah lain, kalau terminal siap saya yakin banyak eksportir di Bengkulu memilih Pelabuhan ini,” kata Khairul, kemarin (5/8).

Ia mengaku, beberapa komoditas seperti CPO, karet, dan kopi belum di ekspor melalui pelabuhan ini karena fasilitas terminal curah cair dan kering yang belum memadai.

Padahal pada 2017 lalu, PT Pelindo II Bengkulu sudah memiliki rencana untuk melakukan pengembangan terminal curah cair dan kering dimana masing-masing mampu memiliki kapasitas 3,6 juta ton dan 10 juta Ton.”Hingga kini rencana tersebut belum juga terealisasi, padahal eksportir sudah menunggu hal itu sejak lama,” ujar Khairul.

Selain itu, kondisi alur masuk pelabuhan yang selalu mengalami pendangkalan menjadi pemicu beberapa eksportir mengurungkan niat melakukan ekspor melalui Pelabuhan ini. Karena kapal dengan bobot 52 ribu ton sulit untuk melintas jika alur masuk pelabuhan menjadi dangkal. Sehingga dikhawatirkan pengiriman barang menjadi terkendala.

“Eksportir itu maunya barang sampai tujuan tepat waktu, kalau pendangkalan terus terjadi maka mereka lebih memilih pelabuhan lain,” tuturnya.

Di sisi lain, Pelabuhan Pulau Baai juga belum menjadi Pelabuhan Internasional. Sehingga seluruh kegiatan ekspor masih harus melakukan transit di Pelabuhan hub Internasional seperti Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Hal inilah yang membuat sebagian eksportir lebih memilih langsung mengirimkan komoditasnya melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

“Kalaupun komoditas pertanian dan pertambangan dikirim melalui Pelabuhan Pulau Baai, tetap saja nanti akan melakukan transit dulu di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, ini yang membuat sebagian eksportir memilih langsung ekspor dari Tanjung Priok saja,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) Provinsi Bengkulu, Azwardi Prasetia mengaku, komoditas karet Bengkulu selalu di ekspor melalui Pelabuhan Boom Baru Sumatera Selatan. Hal ini dikarenakan pelabuhan ini menawarkan fasilitas yang lebih baik dari Pelabuhan Pulau Baai.

“Kalau fasilitas jelas Pelabuhan Boom Baru lebih baik dari Pulau Baai,” kata Azwardi. Fasilitas yang lebih baik tersebut terbukti dari jumlah barang antar pulau yang dimuat di Pelabuhan Boom Baru yang mencapai sebanyak 943,65 ribu ton per tahun. Dimana CPO dan Karet menjadi barang yang paling banyak terangkut dari pelabuhan ini.

”Kita berharap Pemerintah bisa menjadikan Pelabuhan Pulau Baai menjadi pelabuhan internasional agar kita bisa ekspor melalui Bengkulu,” tutupnya.

Berdasarkan data BPS, sebanyak 40 persen kegiatan ekspor di Provinsi Bengkulu masih dilakukan melalui pelabuhan lain. Sebanyak 23,98 persen kegiatan ekspor melalui Pelabuhan Sungai Musi/Boom Baru Sumatera Selatan, 16,58 persen melalui pelabuhan Tanjung Priok DKI Jakarta, dan 0,02 persen melalui Kualanamu International Airport Sumatera Utara. Sementara komoditas yang ekspor meliputi CPO, karet, kopi, kolang kaling, dan arang.(

(fahri/sumber: bengkuluekspress.com).

loading...