Angkasa Pura 2

Puluhan Kapal Pelra di Sunda Kelapa Menjadi Bagian Denyut Nadi Perekonomian Jakarta

DermagaRabu, 21 Agustus 2019
7212019163624

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Puluhan kapal pelayaran rakyat (Pelra) berjejer. Sejumlah pekerja mengangkut barang dari truk ke kapal.

Sengatan panas matahari tak menyurutkan pekerja itu memindahkan muatan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Berbagai barang logistik, termasuk komoditas berupa kelontong dari Pasar Tanah Abang, berpindah dan akan berlayar menuju Sumatera dan Kalimantan.

Di pelabuhan, yang merupakan salah destinasi wisata Jakarta, tersebut memang selalu saja mudah dijumpai kapal-kapal layar motor (KLM) dengan segala aktifitasnya.

721201916373

“Kapal dengan bobot 76-400 GT ini membawa barang niaga dari Jakarta. Dari sini, pedagang antarpulau menitipkan barang dagangan untuk diperdagangkan di pulau lain. Dengan demikian, kapal-kapal Pelra ini besar jasanya terhadap perekonomian Jakarta,” ungkap Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sunda Kelapa, Ridwan Chaniago, kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Rabu (21/8/2019).

Kapal-kapal itu, Ridwan mengutarakan membawa barang logistik tujuan antara lain Sungai Selan, Kumai, Pontianak, Ketapang, Tanjung Pandan, Palembang, Sampit. Tak hanya barang kelontong, tetapi juga pupuk dan semen.

Dia menuturkan kapal Pelra ini juga menghidupi ribuan warga Jakarta, dari pemilik hingga kru kapal beserta keluarganya. “Jumlah kapal, yang beroperasi, di sini sekitar 50 KLM. Masing-masing kapal dengan kru sekitar 10-15 orang,” ujarnya didampingi Kepala Tata Usaha KSOP Sunda Kelapa, Ridwan.

Ridwan mengakui bisnis kapal Pelra tak secemerlang sebelumnya. Seiringan dengan redupnya pwngiriman kayu, permintaan jasa angkutan Pelra menurun. “Sebulan kini hanya sekitar 100 jadwal pelayaran. Satu kapal seringnya menunggu muatan sampai tiga bulan, paling bagus sebulan,” tuturnya.

Bantuan

Lesunya bisnis kapal Pelra, dia menuturkan diketahui dari data dan dialog dengan pemilik serta kru kapal. “Kami sering berkomunikasi dengan mereka. Memberi bantuan apapun sepanjang dalam otoritas kami,” ujar Ridwan.

Bantuan itu, dia menjelaskan antara lain kemudahan membuat dan mengurus buku pelaut. “Kami juga mengikutkan mereka dalam Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) berupa Diklat Basic Safety Training Kapal Layar Motor (BST KLM) dan Surat Keterangan Kecakapan (SKK) 30 Mil tanpa dipungut biaya atau gratis,” jelasnya.

Ridwan menegaskan pembinaan dan bantuan kepada operator kapal Pelra merupakan implementasi dari perintah Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Laut.

(omyawe).

loading...