Angkasa Pura 2

Alur Dangkal Bikin Kapal Enggan ke Pelabuhan Perikanan Pekalongan

Dermaga Kelautan & PerikananKamis, 29 Agustus 2019
ppnp-pekalongan

PEKALONGAN (BeritaTrans.com) – Kondisi Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) yang kian dangkal disayangkan sejumlah pemilik kapal.

Tingginya sedimentasi membuat kapal tak mau berlabuh ke PPNP, dan memilih bersandar ke daerah lain.

Ditambah lagi kurangnya fasilitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada, menambah lesunya dunia maritim di Kota Batik.

Kondisi itu memicu reaksi dari anggota DPRD serta Pemkot Pekalongan, pasalnya pendangkalan sudah berlangsung 1996 lalu.

Isnaini anggota DPRD Kota Pekalongan satu di antaranya, yang berharap PPNP segera dilakukan pembenahan.

“Kalau tidak perikanan di Kota Pekalongan semakin redup, karena banyak kapal tak mau berlabuh di PPNP,” kata Isnaini yang juga pengusaha yang bergerak di bidang maritim, Rabu (28/8/2019).

Dilanjutkannya, tak jarang kapal dari Pekalongan memilih pelabuhan di wilayah Jepara, Rembang hingga ke Jawa Timur untuk berlabuh.

“Miris rasanya kapal dari kota sendiri justru berlabuh di pelabuhan daerah lain. Belum lagi mahalnya sewa TPI yang mencapai Rp 1,5 miliar setiap tahunnya membuat pelabuhan di Kota Batik semakin tak diminati,” terangnya.

Untuk itu ia akan mencoba berkoordinasi bersama Pemkot, agar segera mengatasi permasalah yang ada di pelabuhan.

“Kalau tidak ada dukungan dari Pemerintah Pusat, kami akan bikin TPI serta pelabuhan sendiri yang dikelola oleh Pemda untuk menyaingi PPNP,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, yang sempat berkunjung ke PPNP dan TPI, menyatakan fasilitas yang ada kurang maksimal.

“Kami ingin menyelesaikan permasalahan di pelabuhan. Untuk itu kami tampung masukan dari pelaku industri maritim, seperti pendangkalan yang akan menjadi bahan evaluasi nanti,” imbuhnya.

Ditambahkannya, langkah harus diambil agar perikanan Kota Pekalongan kembali berjaya seperti pada era 1990 hingga 2000.

“Kami ingin memajukan TPI Kota Pekalongan yang pernah menjadi pusat perdagangan ikan skala nasional. Untuk itu akan kami lakukan pembahasan supaya ke depan TPI lebih berkembang,” tambahnya.

Nelayan mengeluh

Sebelumnya pemilik kapal keluhkan pendangkalan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongon (PPNP).

Pendangkalan tersebut dianggap sebagai penyebab pelabuhan perikanan tak bisa berkembang.

Pasalnya, karena sedimentasi yang terjadi, kapal berukuran di atas 35 gross tonnage (GT) tak bisa masuk ke pelabuhan untuk membongkar ikan hasil tangkapan nelayan.

Walaupun pihak PPNP menyediakan kapal penarik, namun jika tak kunjung dicarikan solusi, pemilik kapal lokal mengancam untuk pindah tempat berlabuh.

Rahullah Isnaini (46) warga Kota Pekalongon yang juga satu di antara pemilik kapal di PPNP sangat berharap perikanan di Kota Pekalongan maju.

“Namun apa yang terjadi, sudah bertahun-tahun pelabuhan perikanan tidak ada perkembangannya. Pendangkalan juga tidak kunjung carikan solusi. Kalau seperti ini terus, bisa bisa nelayan lokal ataupun pemilik kapan pindah ke daerah lain,” paparnya.

Isnaini menuturkan, selain sedimentasi pengurusan perizinan berlayar dikatakannya juga memakan waktu lama.

“Bagi pemilik kapal pastinya rugi kalau pengurus perizinan terlalu lama, karena untuk berlabuh dan menambatkan kapal juga butuh biaya. Belum lagi kami memperkerjakan banyak orang. Kami minta pemerintah cepat mencari solusi agar perikanan di Kota Pekalongan bisa kembali bangkit,” tuturnya.

(tifa/sumber dan foto: tribunnews.com).

loading...