Angkasa Pura 2

Pertamina dan ITB akan Uji Coba Bioavtur di Kilang Cilacap

Energi KokpitMinggu, 8 September 2019
88201973528

BANDUNG (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Pertamina (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan melakukan uji coba produksi bioavtur atau avtur nabati di kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap.

Rencananya uji coba menggunakan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO) tersebut pada Februari 2020.

Guru Besar Teknik Reaksi Kimia dan Katalis (TRKK) ITB Subagjo mengatakan pihaknya telah mengembangkan uji coba perdana (pilot project) avtur nabati di ITB.

“Nanti Februari kami diberi kesempatan oleh Pertamina untuk uji coba skala komersial,” katanya, Jumat (6/9).

Ia melanjutkan pada uji coba tersebut, produksi avtur di RU IV Cilacap dialokasikan untuk bioavtur sekitar 2-5 persen.

Jika uji coba komersial berhasil, selanjutnya diputuskan apakah avtur nabati akan diproduksi secara komersial atau tidak.

“Kapasitas RU IV Cilacap sebesar 13 ribu barel per hari untuk mengolah minyak fosil. Nah, kami mau titip 2-5 persen untuk bioavtur,” tuturnya.

Ia menjelaskan proses pembuatan bioavtur akan menggunakan Katalis Merah Putih yang dikembangkan oleh ITB. Katalis merupakan komponen yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia dalam proses pengolahan minyak fosil menjadi bahan bakar nabati.

Khusus untuk pengolahan avtur nabati maka akan menggunakan katalis jenis PIDO 130-1,3T dan PIHI 780-1T yang mampu mengubah minyak inti sawit menjadi avtur nabati.

Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) menyediakan minyak inti sawit sebagai bahan campuran untuk memproduksi avtur nabati. Ia menyatakan produksi avtur nabati penting dikembangkan. Pasalnya, penggunaan avtur di Indonesia cukup banyak bahkan melebihi penggunaan solar.

“Kami meminta dukungan pemerintah dalam uji coba komersil ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Darmin Nasution mendukung pengembangan produksi avtur nabati. Ia mengatakan Indonesia membutuhkan diversifikasi produk kelapa sawit.

Sebagai gambaran, luas kebun kelapa sawit mencapai 16,3 juta hektare (ha). Ketika seluruh tumbuhan kelapa sawit memasuki umur panen maka produksi kelapa sawit Indonesia berpotensi mencapai 80-90 juta ton.

“Dilihat dari angka itu, tidak ada pilihan lain untuk fight (perjuangkan) penggunaan terutama dari dalam negeri, karena kita tidak bisa tergantung dari pasar dunia saja,” tuturnya.

Ia juga mendorong produksi katalis dalam negeri. Pasalnya, Pertamina masih mengimpor katalis untuk memproduksi bahan bakar nabati.

Darmin mendorong PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pertamina, dan PT Rekayasa Industri membangun pabrik katalis nasional.

“Tentunya ITB dapat bekerjasama dengan dunia usaha seperti Pertamina, sehingga hasil penelitian berupa katalis dapat diimplementasikan di kilang Pertamina”, imbuhnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga pernah menyampaikan keinginannya agar Indonesia mampu memproduksi avtur nabati. Di samping itu, kepala negara juga menegaskan ingin mengurangi impor avtur. Sebaliknya, ia berharap melakukan ekspor bahan bakar pesawat tersebut.

92537_620

“Kami sudah memproduksi sendiri avtur hingga tidak impor avtur lagi. Tapi, kami bisa lebih dari itu, kami bisa ekspor avtur, kami juga ingin produksi avtur berbahan sawit,” kata Jokowi dalam Pidato Presiden mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2020, Jumat (16/8) lalu.

Pertamina-Wilmar ketja sama

SebelumnyaPT Pertamina (Persero) berencana membangun pabrik bioavtur senilai US$ 450 juta – US$ 480 juta yang mampu memproduksi bahan bakar pesawat terbang ramah lingkungan sebanyak 260 juta liter per tahun. Untuk mewujudkan rencana tersebut, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) pelat merah akan menggandeng Wilmar Group, salah satu perusahaan kelapa sawit besar di Indonesia.

Manajer Pengembangan Teknologi dan Produk Direktorat Gas, Energi Baru dan Terbarukan Pertamina Andianto Hidayat mengatakan pabrik pencampur avtur dengan bahan bakar nabati (BBN) baru siap beroperasi pada 2018. Rencana pembangunan pabrik menurutnya untuk menindaklanjuti kebijakan mandatori pemerintah yang mengamanatkan adanya campuran 2 persen bahan bakar berbasis kelapa sawit (crude palm oil/CPO) pada avtur.

Andianto mengungkapkan saat ini perseroan telah menyelesaikan studi kelaikan (feasibility study) pembangunan pabrik yang akan dilanjutkan dengan pemantapan rencana proyek untuk enam hingga delapan bulan mendatang.

“Awal tahun depan paling baru selesai fix plan-nya kemudian untuk ground breaking pada 2017 sampai 2018 untuk pembangunan. On stream produk ditargetkan 2018,” tutur Andianto saat ditemui usai menghadiri konferensi persen The 2nd International Green Aviation Conference (IGAC) 2015 di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (12/8/2015).

Diakuinya, tren penurunan harga minyak saat ini membuat perseroan kembali mengkaji rencana produksi bioavtur. Pasalnya, semakin rendah harga minyak internasional memperbesar selisih harga antara bahan bakar hijau. Hal itu membuat harga bioavtur menjadi kurang kompetitif.

“Harga minyak mentah kan terus turun jadi keekonomian dari pabrik ini kan harus dilihat lagi karena sekarang harga bioavturnya menjadi kurang kompetitif,” kata Andianto.

Sementara itu, Andianto tidak memungkiri dari sisi harga, bioavtur nanti akan lebih mahal dibandingkan avtur biasa.

“Kalau bioavtur memang tetap aja lebih mahal (dibandingkan avtur), tapi kan itu cuma 2 persen dari harganya. Kalau misalnya nanti dihitung sekitar Rp 12 ribu per liter (harga bioavtur) kan cuma mengambil 2 persen dari itu berarti 300 persen. Cuma ada kenaikan harga di komponen avturnya Rp 300 lah,” kata Andianto.

Amankan pasokan CPO

Karena menilai pembangunan pabrik bioavtur kurang ekonomis jika harus dilakukan sendiri, Pertamina menurutnya akan menggandeng Wilmar Group untuk membangunnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengamankan pasokan CPO yang diperlukan untuk membuat bioavtur.

“Kami akan membentuk joint venture (JV) dengan pengusaha-pengusaha kelapa sawit. Sudah ada partner yang kami gandeng kemarin sewaktu mengerjakan feasibility study yaitu Wilmar,” tutur Andianto.

Kendati enggan menyebutkan lokasi pabrik itu berada, ia mengungkapkan investasi pabrik itu diperkirakan akan menelan sekitar US$ 450 juta – US$ 480 juta dengan kapasitas produksi nantinya sebanyak 260 juta liter bioavtur per tahun. Sejauh ini, pasar domestik diperkirakan baru bisa menyerap sekitar 10 persen dari total produksi.

Oleh karena itu Andianto berharap, apabila negara lain juga mengeluarkan kebijakan mandatori penggunaan bioavtur seperti Indonesia, pabrik bioavtur Pertamina dapat memasok negara lain. Pasalnya, pabrik yang memproduksi bioavtur saat ini belum banyak, baru ada di Amerika Serikat dan Brazil.

“Market lainnya, misalnya di kawasan Asia ini, tidak ada supplier lain yang meyediakan bioavtur. Kalau misalnya di Eropa nanti mengharuskan penggunaan bioavtur, otomatis kan mereka akan beli ke Indonesia kita akan coba suplai juga ke bandara-bandara sekitar Indonesia, bisa di bandara Kuala Lumpur (Malaysia) atau Changi (Singapura),” tutur Andianto.

(via/sumber: cnnindonesia.com).

loading...