Angkasa Pura 2

Protes Keberadaan Taksi Online, Sopir Angkot Gelar Aksi Demo Depan DPRD Jember

KoridorKamis, 12 September 2019
aksi_protes_keberadaan_grab_angkutan_umum_di_jember_gelar_demo

JEMBER (BeritaTrans.com) – Sampai saat ini keberadaan angkutan berbasis online masih mengundang konflik dengan angkutan konvensional di berbagai kota. Kali ini terjadi di Jember, Jawa Timur, para sopir angkutan konvensional menggelar aksi demo di depan DPRD Jember.

Selama seharian, pengemudi angkutan umum di Jember menggelar aksi mogok memprotes keberadaan taksi online di Jember.

“Kami meminta Bupati Jember agar bersikap tegas terhadap Grab. Jika Pemkab tidak segera menghentikan operasional Grab di Jember, maka kami sebagai anaknya Bupati merasa tersinggung. Kami menganggap ada persekongkolan antara bupati dengan Grab jika tidak ada tindakan tegas,” ujar Siswoyo, koordinator aksi.

Aksi mogok dan demo itu diikuti ratusan pengemudi taksi, angkutan kota dan angkutan desa di Jember. Mereka juga mendesak agar DPRD Jember yang baru beberapa hari dilantik itu, agar turut membantu memperjuangkan aspirasi para pengemudi angkutan konvensional.

“Kami juga menolak kehadiran aplikator baru di Jember. Karena pasti akan menimbulkan masalah baru di Jember,” tegas Siswoyo.

Setidaknya terdapat dua operator angkutan berbasis aplikasi online di Jember, yakni Go-Jek dan Grab. Saat awal kehadiran angkutan online tersebut, sudah sempat menimbulkan gejolak dari angkutan konvensional. Namun gejolak itu segera diatasi melalui mediasi.

Salah satu poinnya adalah aplikasi online tersebut harus membangun kantor cabang di Jember. Namun hingga kini, baru Go-Jek yang memiliki kantor perwakilan. Sedangkan Grab, belum ada.

“Kami akan terus mogok sampai tuntutan kami dipenuhi. Kami masih menghargai instruksi Kapolres Jember (agar aksi tertib, red). Namun kami tetap menolak Grab karena tidak ada izin resmi di Jember,” lanjut Siswoyo.

Para sopir angkutan konvensional mengaku tidak khawatir kehilangan penghasilan karena aksi mogok. Sebab, selama ini penghasilan mereka sudah berkurang jauh, gara-gara keberadaan angkutan online. “Kami sudah lelah, lapar itu sudah makanan kami sehari-hari,” pungkas Siswoyo.

Hingga petang, aksi mogok tersebut berlangsung tertib tanpa ada gesekan dengan angkutan online seperti yang kerap terjadi di kota-kota lain di Indonesia. [dan/merdeka.com/foto: istimewa]

loading...