Angkasa Pura 2

Theory of Habibie, Maha Karya di Dunia Penerbangan

Another News Bandara Kokpit SDMKamis, 12 September 2019
146-2-750x430

JAKARTA (Beritatrans.com) – Meninggalnya B.J. Habibie bukan hanya membuat bangsa Indonesia berduka. Dunia turut kehilangan seorang penemu jenius dari Indonesia itu. B.J. Habibie memiliki sumbangsih besar pada teknologi pesawat terbang dunia. Seperti apa?

Dikutip dari laman saintif.com salah satu kontribusi terbesar Habibie adalah pada teori crack progression. Crack progression theory adalah teori yang digunakan untuk memprediksi titik mula retakan pada sayap pesawat terbang.

Pada teori ini, B.J. Habibie berhasil melakukan perumusan yang sangat mendetail, sehingga perhitungannya dapat presisi sampai tingkat atom. Ini adalah penemuan yang sangat besar di dunia penerbangan. Ketika kita melihat sayap suatu pesawat, sepintas sayap tersebut terlihat sangat mulus dan tak bercelah ketika dilihat dari luar.

Tapi, bagian dalam dalam dari struktur sayap dan bodi pesawat ini berongga-rongga. Struktur penyangga pesawat tersebut selalu manahan tekanan yang sangat besar dan terus-menerus saat pesawat beroperasi. Terutama ketika pesawat take off , landing serta saat mengalami turbulensi.

Konstruksi bagian dalam sayap pesawat tertutup rapat dan bagian itu terus menahan beban yang cukup besar dan kontinyu. Masalah tersebut terus membayangi para pemilik dan manufaktur di bidang penerbangan selama 40 tahun terakhit. Karena mereka belum tahu struktur yang aman dalam pesawat.

Seperti manusia, material struktur dalam pesawat ternyata juga bisa “lelah”. Kelelahan material ini biasa disebut “fatigue”. Kelelahan (fatigue) dari bahan ini masih sangat sulit dideteksi dengan keterbatasan alat pada zaman itu. Akibatnya, pada awal tahun 1960-an kecelakaan pesawat sangat sering terjadi.

Kelelahan (fatigue) pada pesawat biasanya terjadi pada bagian penghubung sayap dan bodi utama pesawat terbang atau pada penghubung sayap dan mesin. Kedua bagian tersebut terus-menerus mengalami guncangan dan getaran selama take off dan landing.

Nah, dari situlah awalnya timbulnya retakan (crack) akibat lelahnya (fatigue) material penghubung tersebut. Awal retakan ini biasanya berukuran sangat kecil, 0.005 millimeter dan terus merambat menjadi lebih besar dan bercabang. Bila saja retakan ini tidak terdeteksi maka bahaya besar akan menanti. Sayap dari pesawat tersebut dapat tiba-tiba patah ketika take off.

Apalagi pesawat sudah mulai berubah dari sistem propeler menjadi sistem mesin jet pada masa itu. Di sininal peran penting ”Mr Crack” B.J. Habibie. Di saat seluruh dunia membutuhkan sebuah solusi mengenai masalah yang berkepanjangan ini, seorang penggagas jenius dari Indonesia muncul.

Pada saat itu dia masih berusia 32 tahun. Seorang doktor dengan perawakan cilik tetapi sangat energetik. Dia adalah Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Seorang penggagas muda kelahiran Pare Pare Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936.

Kejeniusan B.J. Habibie ini berhasil menemukan letak titik awal retakan atau crack propagation point. Perhitungan yang dilakukan beliau sangat detil. Bahkan perhitungannya sampai tingkat atom.

Ini adalah penemuan yang sangat besar di dunia penerbangan. Teori yang dikemukakan Habibie ini disebut teori Crack Progression atau disebut dengan “Theory of Habibie.” Jika teori Newton dan teori Darwin sering terdengar, tetapi masyarakat Indonesia sangat jarang medengar ada teori besar yang ditemukan orang Indonesia.

Teori Habibie ini telah dipakai di Industri penerbangan di seluruh dunia. Teori ini jugalah yang berhasil meningkatkan standar keamanan pada pesawat. Tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga membuat proses perawatan lebih mudah dan murah.

Sebelum teori Habibie ini ditemukan, letak retakan (crack) pada pesawat tidak bisa dideteksi lebih awal. Kemudian, para insinyur mengatasi kemungkinan terburuk suatu struktur konstruksi pada pesawat dengan meningkatkan safety factor (SF).

Cara yang dipakai untuk meningkatkan safety factor ini adalah dengan meningkatkan kekuatan konstruksi yang dipakai jauh melebihi kebutuhan teorinya. Hal ini tentu saja akan membuat pesawat jauh lebih berat. Kalau pesawat lebih berat tentu saja akan lebih lambat, susah bermanuver, dan lebih banyak mengkonsumsi bahan bakar.

Konstruksi tersebut sangat merepotkan. Dengan adanya teori Habibie ini, letak dan besar retakan (crack) dapat dihitung. Hal ini membuat para insinyur dapat mengurangi safety factor (SF) sehingga dapat memangkas bobot pesawat yang adalah faktor penting didalam dunia penerbangan.

Faktor Habibie ini berdampak besar bagi dunia penerbangan. Dengan adanya factor Habibie ini berat pesawat bisa berkurang hingga 10 persen. Bahkan, berat pesawat bisa berkurang hingga 25 persen setelah material kompsit buatan Habibie digunakan.

Dengan begitu, pesawat akan lebih mudah bermanuver, lebih mudah take off, menghemat bahan bakar dan mengurangi biaya pembuatan serta perawatan nya. Kemampuan pesawat meningkat sangat pesat dengan adanya teori ini.

Ternyata teori Habibie ini sangat luar biasa dan menjadi tolak ukur utama di dunia penerbang pada saat itu. Tak heran, Habibie sampai pernah menjadi vice president di salah satu industri penerbangan terbesar di Jerman yaitu Messerschmitt Boelkow Blohm GmbH (MBB). Perlu diketahui juga Habibie satu-satunya orang non-Jerman yang mampu menduduki posisi setinggi itu pada perusahaan tersebut.

Sudah banyak Inspirasi dari kejeniusan B.J. Habibie presiden ke-3 RI ini. Habibie merupakan penggagas desain dari pesawat prototype DO-31 yang kemudian pesawat tersebut dibeli NASA. Hak paten Habibie dipakai oleh perusahaan-perusahaan terkenal seperti Air Bus dan perusahaan roket lainnya. Hingga Habibie pernah meraih penghargaan Von Karman Award (1992).

Penghargaan Von Karman Award ini hampir setara dengan hadiah Nobel. Di usianya yang senja, Habibie tetap menjadi penggagas ulung dengan rancangan pesawat R80 berbasis turboprop bersama anaknya Ilham Habibie. B.J. Habibie sering menjadi pembicara di seantero Indonesia sebagai penggagas yang inspiratif.

Penggagas jenius dari Indonesia kini bepulang ke rahmatullah. Habibie secara fisik meninggal dunia. Tetapi maha karyanya terus hidup dan berkembang. Dari jasanya yang sangat besar bagi Indonesia dan dunia semoga B.J. Habibie diberkan tempat terbaik di sisi-Nya.Aaamiin
(ny/Sumber: Indopos.co.id) Foto.Bacharuddin Jusuf Habibie muda membawa minatur pesawat terbang FOTO:IST

loading...