Angkasa Pura 2

ITL Trisakti: Penggunaan 50% Energi Terbarukan Tekan Emisi 15,39%

Energi Koridor Lingkungan & KehutananRabu, 18 September 2019
818201911252

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti bersama ICAT mengadakan asesmen atau penilaian dampak emisi gas rumah kaca (GRK) dari penerapan kebijakan harga (pricing policy bahan bakar dan insentif terhadap kendaraan ramah lingkungan.

Hasil penelitian itu diungkapkan pada focus group discussion (FGD) bertema “Assesing Greenhouse Gas Impacts of Transport Policies,” yang dibuka Rektor ITL Trisakti, DR. Ir. Tjuk Sukardiman, Rabu (18/9/2019).

8182019103445

Tjuk menuturkan asesmen digelar pada Juli-September 2019. “FGD ini untuk membahas temuan atas penilaian tersebut dan juga mengumpulkan masukan-masukan dari berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, terkait transportasi, emisi gas rumah kaca dan kebijakan fiskal,” jelas Tjuk Sukardiman.

Hasil asesmen

Ketua tim asesment, Elly Sinaga, mengutarakan dampak GRK dari penerapan kebijakan harga bahan bakar, khususnya bensin RON 88 tahun 2016 (impact year) adalag -6,30% atau setara dengan penurunan emisi GRK sebesar 3.952.798,3 tCO2 bila dibandingkan dengan baseline 2013 (sebelum ada penghapusan subsidi bahan bakar). Sedangkan untuk bahan bakar solar terdapat kenaikan emisi pada tahun 2016 sebesar 0,9 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu lebih memperhatikan efek dari kebijakan harga tersebur dan perlu melakukan kontrol lebih terkait dengan emisi dari penggunaan bahan bakar diesel atau solar,” jelas Elly Sinaga.

Terkait dampak GRK dari penerapan low cost green car (LGCC), dia menuturkan tim justru menemukan bahwa kebijakan LGCC malah berkontribusi terhadap kenaikan emisi GRK berkisar 10,6 persen sampai 13,7 persen dibandingkan dengan emisi kendaraan tahun 2013.

Terkait dengan penerapan kebijakan kendaraan listrik, perhitungan dilakukan secara ex-ante atau dengan menggunakan pendekatan proyeksi emisi sampai dengan tahun 2035. Hal ini mengacu kepada rencana strategis terkait produksi kendaraan bermotor dari Kementerian Perindustrian.

Apabila skenario kebijakan kendaraan listrik saat ini dilakukan secara konsistendenvan suplau eneegi listrik yang sama (70% energi fosil, 30% energi terbarukan) maka akan didapatlan lotensi penurunan emisi total -7,51 persen tahun 2035.

Sedangkan apabila pemerinrah mampu mewujudkan suplai energi listrik dengan komposisi 50% energi fosil dan 50% energi terbarukan maka potensi penurunan emisi mencapai 15,39 persen tahun 2035.

(awe).

loading...