Angkasa Pura 2

ITL Trisakti: Sedot 30% Konsumsi Energi, Sektor Transportasi Salah Satu Sumber Terbesar Emisi

Dermaga Energi KoridorRabu, 18 September 2019
818201912031

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sektor transportasi merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca (GRK).

“Sektor transportasi menggunakan 30,2 persen dari total konsumsi energi pada tahun 2016,” ungkap Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, DR. Ir. Tjuk Sukardiman, pada focus group discussion (FGD) bertema “Assesing Greenhouse Gas Impacts of Transport Policies,” Rabu (18/9/2019),

Perhelatan FGD itu menjadi ajang pembahasan hasil asesmen atau penilaian dampak emisi gas rumah kaca (GRK) dari penerapan kebijakan harga (pricing policy bahan bakar dan insentif terhadap kendaraan ramah lingkungan, yang digelar ITL Trisakti bersama Initiative for Climate Action Transparency (ICAT).

FGD dengan menampilkan Dirjen Perhubungan Darat Budi Setyadi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Sugihardjo, perwakilan dari Kementerian ESDM, LHK dan ketua tim asesmen DR. Ir. Elly Sinaga.

Dalam konteks penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) oleh Indonesia, pada November 2016, pemerintah secara resmi menerbitkan Nationally Determined Contribution (NDC). Memuat target dan aktifitas yang akan dilakukan untuk mereduksi emisi GRK 29 persen (tanpa bantuan asing) dan 41 persen (dengan bantuan pihak internasional).

Guna mencapai target penurunan emisi sebagaimana tertuang dalam NDC, dia menuturkan pemerintah perly memgambil langkah-langkah serius yang akan berdampak signifikan terhadap emisi GRK.

Selain itu, pemerintah perlu memonitor secara detail dampak emisi GRK dari berbagai kebijakan, termasuk kebijakan harga bahan bakar. Metodologi yang dikembangkan ICAT dapat membantu pemerinrah dalam mengevaluasi.

Asesmen ini secara spesifik bertujuan mengidentifikasi kebijakan harga yang telah ditetapkan pemerintah terkait emisi GRK, memahami swvara detail dampak kebijakan harga bahan bakar twrhadap GRK dan isu-isu terkait transportasi berkelanjutan.

Selain itu memberikan infoemasi dan buktu ilmiah kepada pemangku kepentingan, berkontribusi teehadap capacity building terurama terkait dengan metodologi kalkulasi, serta memberikan umpak balik terhadap ICAT terkait kendala dan tantangan dalam asesmen dengan menggunakan metodologi tersebut.

(awe).

loading...