Angkasa Pura 2

Data Jutaan Penumpang Pesawat Bocor, Amazon akan Dipertemukan dengan Lion Air

KokpitJumat, 20 September 2019
IMG_20190920_060627

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara berencana akan mempertemukan Lion Air Group dengan penyedia layanan penyimpanan data Lion Air Group, Amazon Web Service (AWS), terkait kebocoran data pelanggan.

“Kami pastikan dalam minggu depan sudah tahu kepastiannya karena Kominfo sudah mengirim surat kepada AWS yang menjadi pihak berdasarkan media online, dan Kominfo telah mengundang Lion,” ujar Rudiantara di temui di gedung Kominfo, Jakarta, Kamis malam.

“Jadi, tinggal mengkonfirmasi kepada keduannya,” lanjut pria yang akrab disapa Chief itu.

Rudiantara mengatakan telah menyurati AWS dan menerima pernyataan resmi dari AWS. Dia mendapat informasi tentang kebocoran data pada Selasa (17/9) malam, dan langsung menghubungi pihak AWS.

Setelah itu, dia berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan dan Direktur Jenderal Perhubungan Udara mengenai permasalahan tersebut.

Kominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika telah bertemu dengan perwakilan Lion Air Group di gedung Kominfo, Kamis sore.

“Kita harus konfirmasi keseluruhannya, dan harapan saya semoga tidak ada yang memanfaatkan data yang bisa diakses melalui web tersebut,” kata Rudiantara.

Awal pekan ini, data penumpang Malindo Air yang merupakan anggota Lion Air Group dilaporkan bocor, dan dan diunggah ke forum online. Data tersebut kabarnya meliputi paspor, alamat dan nomor telepon penumpang.

Pernyataan Lion

Lion Air Group masih menyelidiki perihal bocornya data penumpang. Secara konkret, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengaku membawa persoalan ini ke ranah hukum. Pihaknya sudah melapor ke otoritas penegak hukum di masing-masing negara.

“Lion Air (kode penerbangan JT), Batik Air (kode penerbangan ID) dan Wings Air (kode penerbangan IW) di Indonesia; Malindo Air (kode penerbangan OD) di Malaysia dan Thai Lion Air (kode penerbangan SL) di Thailand,” urainya melalui keterangan resmi, Jumat (20/9/2019).

Langkah yang diambil ini menurutnya mengacu pada Peraturan No. 20 tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik (Peraturan Perlindungan Data). Dia ingin memastikan bahwa data para tamu tidak terganggu.

Sejalan dengan itu, koordinasi juga dilakukan dengan vendor sebagai mitra kerja sama. Meski tak merinci vendor yang dimaksud, dia bilang bahwa sesuai perjanjian, data penumpang dinyatakan aman.

“Sehubungan dengan data penumpang di Indonesia sampai sekarang adalah aman. Jika ada bukti mengenai kebocoran data, maka akan segera dilakukan langkah-langkah sesuai ketentuan,” imbuh Danang.

Di sisi lain, dia menegaskan, Lion Air Group tidak menyimpan secara detail data mengenai pembayaran dari tamu atau penumpang ke dalam server. Lion Group tidak mempunyai data-data terkait yang berhubungan pembayaran penumpang.

“Data yang tersebar bukan data pembayaran (finansial) dari penumpang,” jelasnya.

Meski demikian, dia juga akan terus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan data. Sambil menanti hasil penyelidikan, dia mengimbau seluruh tamu atau penumpang yang memiliki akun miles untuk segera mengubah kata sandi, jika kata sandi digunakan sama pada layanan yang lain secara online.

Data dijual ke Tiongkok

Sebelumnya Amazon menyelidiki tuduhan bahwa beberapa stafnya menjual data rahasia pelanggan kepada perusahaan pihak ketiga khususnya di Tiongkok, kata raksasa online itu pada Minggu (16/9).

Menurut sebuah laporan Wall Street Journal (WSJ), yang tidak menyebutkan angkanya, sejumlah pegawai di Amazon menjual data internal dan informasi rahasia lainnya – biasanya melalui perantara – kepada pedagang yang menjual barang mereka di situs Amazon.

Di Amazon, pelanggan bisa membeli produk yang dijual langsung oleh perusahaan tersebut bersama dengan barang dari penjual lain.

Praktik yang sedang diselidiki itu merupakan sebuah pelanggaran terhadap kebijakan perusahaan. Kejadian tersebut banyak dijumpai di China, lapor WSJ, mengambil contoh dari perantara di Shenzhen yang bekerja untuk sekelompok pegawai dan menjual informasi mengenai volume penjualan untuk pembayaran yang berkisar dari 80 sampai lebih dari 2.000 dolar AS (sekitar Rp1,19-29,7 juta).

Seorang juru bicara Amazon mengatakan kepada AFP dalam sebuah pernyataan singkat bahwa perusahaan itu “melakukan penyelidikan menyeluruh mengenai klaim ini.”

“Kami tidak akan menoleransi pelanggaran terhadap sistem kami dan jika kami menemukan oknum yang terlibat dalam perilaku ini, kami akan segera menindak mereka, termasuk menutup akun penjualan mereka, menghapus ulasan mereka, menahan dana dan menempuh jalur hukum,” ungkap pernyataan itu.

Ulasan palsu oleh pelanggan bayangan menjadi salah satu masalah dalam pemeriksaan internal tersebut, kata WSJ, yang menyebutkan Amazon sudah menyelidiki topik itu selama beberapa bulan terakhir.

loading...