Angkasa Pura 2

Kapal Tertahan Akibat Muara Sungai Pangkajene Alami Pedangkalan

DermagaSenin, 23 September 2019
pelra-pangkep

MAKASSAR (BeritaTrans.com) – Beberapa kapal setiap harinya bersandar di pelabuhan Pangkajene ini, Meski hanya penghubung antar pulau-pulau di kecamatan kepulauan, pelabuhan ini tidak pernah sepi oleh kapal.

Namun dangkalnya muara Sungai Pangkajene menjadi salah satu faktot penyebab hanya kapal-kapal tertentu saja yang bisa sandar ke pelabuhan ini. Sekalipun, pelabuhan ini terletak di pusat Kota Pangkep. Dalam kompleks Pasar Pangkajene, pasar terbesar di Kabupaten Pangkep.

Artinya, bisa dikatakan, seluruh aktivitas perekonomian warga pulau berputar di pasar ini. Setiap kapal yang datang mengangkut banyak barang. Bahkan kendaraan roda dua pun kerap diangkut kapal-kapal yang sandar di pelabuhan ini.

Kapal yang sandar di pelabuhan ini memang hanya memanfaatkan kolong jembatan Sungai Pangkajene. Tak ada tempat khusus. Para pemilik kapal hanya mengaitkan kapalnya ke pinggir kolong jembatan tersebut.

Namun, nelayan dan pemilik kapal terus mengeluhkan pendangkalan yang terjadi di muara Sungai Pangkajene. Salah seorang pemilik kapal tujuan Pulau Karanrang, Kecamatan Liukang Tupabiring, Bado menyampaikan, dangkalnya muara sungai ini sudah bertahun-tahun dirasakan.

Akibat pendangkalan, dia harus menunggu di muara sungai sampai empat jam. Tunggu air pasang. Tak hanya menunggu air laut pasang. Bahkan disampaikan, ia kerap mendorong perahu, apabila air laut hanya setinggi mata kaki saja. Setiap hari kapal saya terjebak di muara sungai,” pungkasnya.

Selain itu, pendangkalan membuat waktu pengangkutan barang dan penumpang ke pulau memakan waktu tempuh dua kali lipat perjalanan normal. “Memakan waktu yang lama di perjalanan. Biasanya kita sudah kembali pukul 11 pagi. Tetapi nanti tiba di pulau sore hari,” keluhnya.

Seorang warga pulau, Arman juga menyampaikan, muara sungai yang dangkal menyebabkan kapal tertahan di muara hingga tiga jam tiap harinya. “Kapal penyeberangan lintas pulau terhambat. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah agar pendangkalan sungai ini bisa diatasi. Sebab biasa kita terjebak di muara sungai hingga tiga jam,” ucapnya.

Kondisi dangkalnya Sungai Pangkajene ini membuat arus lalu lintas laut di sepanjang Sungai Pangkajene terhambat. Kapal yang masuk pun akhirnya terbatas.

Hal ini dibenarkan Kepala Bidang Angkutan Laut Dinas Perhubungan Pangkep, Faisal Yusuf. Menurutnya, kapal yang bersandar di pelabuhan ini, hanya kapal-kapal tertentu saja, berkisar 20 kapal dalam sehari.

“Sebenarnya apabila di muara tidak dangkal banyak kapal yang bisa merapat ke sungai pangkajene, bukan hanya dari Liukang Tupabiring dan Liukang Tupabiring Utara, tetapi kapal yang dari kalmas bahkan Liukang Tangaya mau masuk juga ke Pelabuhan Pangkajene,” bebernya.

Saat ini, hanya ada kapal tujuan Pulau Balang Lompo, Balang Caddi, Samatellu, Kulambing, Karanrang, Laiya, Sabutung, Sarappo dan Pulau Laputang. Padahal kapal dengan bobot yang lebih besar dari dua pulau terluar Pangkep pun ingin merapat di pelabuhan ini.

Namun, khawatir dangkalnya sungai, menyulitkan kapalnya untuk berlabuh masuk ke muara sungai. [dan/fajar.co.id/foto: ist]

loading...