Angkasa Pura 2

Angkutan Umum Kota Malang Bakal Berbasis Aplikasi Online

KoridorJumat, 27 September 2019
images (5)

MALANG (BeritaTrans.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang saat ini sedang merencanakan angkutan umum beralih cara menjadi angkutan online.

Hal tersebut dihasilkan dari pertemuan yang melibatkan Sekretaris Pemkot Malang, Wasto, pengurus Organisasi Angkutan Darat (Organda), Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Handi Priyanto dan penyedia aplikasi angkot online di Balai Kota Malang, Kamis (26/9/2019).

Pemkot Malang menganggap baik aplikasi berbasis angkot online tersebut.

Namun, sebelum aplikasi ini diterapkan, Pemkot Malang akan sosialisasi terlebih dahulu ke para sopir angkot.

“Secepatnya ini akan kami sosialisasikan. Biar Dishub yang merancangnya. Kalau bisa lebih cepat lebih baik,” ujar Wasto.

Kata Wasto, aplikasi ini sudah berhasil diterapkan di Bekasi dan di Tangerang.

Hasilnya pun menguntungkan baik dari pengemudi angkot maupun dari penumpang itu sendiri.

Jalanan nanti tidak akan dipenuhi angkot yang ngetem di pinggir jalan.

Sebab, penumpangnya sudah pasti ada dengan melakukan pemesanan melalui sebuah aplikasi.

“Sopir dan penumpangnya akan tahu, menit atau jam di mana harus dijemput dan naik. Sementara untuk rute atau trayek akan disesuaikan trayek mikrolet di Kota Malang,” ujarnya.

Dalam penerapannya di lapangan, Kepala Dishub Kota Malang, Handi Priyanto menjelaskan, nantinya akan ada halte virtual yang akan dibuat oleh Dishub dan penyedia aplikasi.

Hal tersebut berfungsi sebagai pertemuan antara penumpang dan juga pengemudi angkot.

Tarif dari angkat online itu pun sama dengan tarif angkot sebelumnya.

Hanya saja sistemnya yang dibuat secara online agar dapat memudahkan pengemudi angkot maupun penumpang angkot.

“Kami di sini tidak akan mengubah trayek, tapi kami hanya memodifikasi saja. Misalkan ada penumpang dari Landungsari akan menuju Madyopuro, kalau manualnya kan harus oper dua kali, yakni naik LDG kemudian turun di Stasiun Kota Baru, kemudian naik MM. Hal itu sama, namun bedanya hanya sudah diatur oleh aplikasi, jadi penumpang tidak perlu menunggu apabila sudah turun di stasiun akan langsung naik angkot MM yang sudah menunggunya di depan stasiun,” ujarnya.

Handi menjelaskan, sebelum ini diterapkan di Kota Malang, rencananya pada pekan depan ia bersama Wasto akan melakukan studi banding ke Bekasi.

Studi banding itu guna untuk melihat efektifitas angkot online secara langsung.

Sekaligus melihat operasional aplikasi tersebut sembari mendengar pendapat dari supir angkot maupun dari penumpang.

“Tidak bisa dipungkiri saat ini banyak sekali para sopir angkot yang mengeluh kepada kami karena sepi. Belum lagi sekarang juga banyak angkutan-angkutan yang berbasis online. Oleh karena itu, semoga aplikasi ini bisa diterapkan. Tapi kami tidak memaksa para angkutan mau untuk menerapkan angkot online ini. Jadi kita lihat saja nanti setelah kami studi banding baru kita sosialisasikan kemudian baru kita uji cobakan,” tandasnya. [dan/suryamalang.com/foto: ist]