Angkasa Pura 2

Pesawat Hercules Angkut 170 Pengungsi Termasuk 31 Anak-Anak Tiba di Makassar

KokpitRabu, 2 Oktober 2019
Pengungsi-Wamena-011019-IA-2

MAKASSAR (BeritaTrans.com) – Sebanyak 170 pengungsi dari Wamena, Jayawijaya Papua yang difasilitasi pemerintah mulai berdatangan, Rabu (2/10/2019) siang.

Mereka tiba di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan dengan menumpang pesawat Hercules milik TNI AU.

Dari 170 pengungsi, 31 orang di antaranya anak-anak. 50 orang diketahui berasal dari Makassar yang akan kembali ke kampung halamannya di Palopo, Toraja dan Enrekang.

da06b211-1988-4862-a6d3-09ca1177890b_169
Sekitar 170 orang pengungsi dari Wamena, Papua, tiba di Lanud Hasanuddin Makassar, Sulsel. (Muhammad Taufiqurrahman/detikcom)

Lalu 120 pengungsi lainnya akan lanjutkan perjalanan ke Malang. Para pengungsi tersebut diketahui banyak berasal dari Jawa Timur.

Kedatangan pengungsi ini disambut Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, pejabat kota Makassar dan petinggi TNI setempat.

Usai didata dan diberi makan, pengungsi kemudian diarahkan naik ke truk untuk dibawa ke asrama haji bagi yang asal Sulsel. Sementara yang hendak ke Jawa Timur, diarahkan kembali ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan.

“Kami tetap usahakan agar masyarakat yang mungkin trauma ini, kalau bisa tetap di sana (Wamena),” kata Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Kolonel (Penerbang) Bambang Sudewo.

Menurutnya, pemerintah dan juga TNI berharap Wamena dibangun kembali bersama-sama dengan penduduk lokal.

“Kita harapkan kedaruratan ini segera berakhir,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan penyambutan pengungsi sudah dipersiapkan sebelumnya. Persiapan dilakukan melalui keberangkatan Wagub Andi Sudirman Sulaiman ke Wamena untuk melihat langsung kondisi di sana.

Pengungsi yang datang hari ini, kata Nurdin, di luar dari mereka yang memilih tinggalkan Wamena lewat jalur pesawat komersil.

“Besok malam pukul 20.00 wita, ada lagi pengungsi yang datang melalui jalur pelabuhan laut,” kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Sultan Hasanuddin, Letkol Sudewo menuturkan, ada 170 pengungsi , 50 diantaranya warga Makassar dan sisanya 120 orang diterbangkan ke Malang, karena kebanyakan warga Jawa Timur.

“Hari ini baru satu yang diusahakan karena traumatik. Dan diharapkan masih ada tetap disana. Saat ini ada tiga pesawat Hercules disiapkan, kalaupun nmau di tambah, TNI AU sangat siap,” ujarnya.

Kapal Pelni

Sebelumnya ratusan perantau asal Sulawesi Selatan (Sulsel) di Wamena pulang ke kampung halaman mereka usai kerusuhan yang menelan puluhan korban jiwa di Wamena, Papua.

Lebih dari 200 perantau asal Sulsel itu tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar menggunakan KM Dobonsolo dari Wamena, Rabu (2/10/2019) dini hari.

1570013542
Lebih dari 200 perantau asal Sulsel tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar dari Wamena menggunakan KM Dobonsolo, Rabu (2/10/2019) dini hari. (Foto: Beritasatu TV)

Para pengungsi tersebut mengaku takut dan trauma setelah menyaksikan langsung aksi pembantaian warga pendatang dalam kerusuhan di Wamena.

“Kami trauma pak, karena kami lihat (pembantaian). Kalau ada pekerjaan lain lebih baik jangan dulu kembali ke sana (Wamena),” kata pengungsi asal Wamena, Syamsuddin Ismail, di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.

Sementara itu, pengungsi lain Andra mengaku meninggalkan semua usaha dan harta bendanya di Wamena agar bisa segera mengungsi.

“Istri dan anak saya trauma, mereka tidak mau lagi ke sana (Wamena),” Andra.

Andra mengatakan akan melihat perkembangan keamanan di Wamena hingga tahun depan untuk memutuskan apakah akan kembali atau tidak.

Ramadani, (23), salah seorang pengungsi asal Probolinggo, Jawa Timur sempat ditemui sesaat sebelum pesawat terbang lagi menuju Malang. Di Wamena, Ramadani tinggal di Jalan Hom Hom, Distrik Hubikiak, Kota Wamena, Jayawijaya. Ia tinggal bersama Sri Hariyati, (22) istrinya yang kini hamil 5 bulan.

Saat kejadian, dia tengah di kota bekerja. Tiba-tiba terjadi keributan.

“Pendatang laki-laki sudah menjaga pintu-pintu masuk tapi ternyata keributan. Ada pembakaran, jaringan komunikasi tidak bisa, saya pasrah saja,” kata Ramadani.

(via/sumber: cnnindonesia.com).