Angkasa Pura 2

Jakarta Konsisten Masuk 10 Kota Termacet Lalu Lintas di Dunia

Koridor Lingkungan & KehutananSenin, 7 Oktober 2019
96201919052

1200x800_cef760075ed384e65c64b6fc1a8beab45248f26b
Kondisi macet di salah satu sudut di Jakarta pada Selasa (31/5/2011) sore. | Adi Weda /EPA

BEKASI (BeritaTrans.com) – Jakarta secara konsisten masuk dalam 10 kota dengan tingkat kemacetan lalu lintas tertinggi di dunia. Padahal, kemacetan lalu lintas adalah salah satu elemen yang berdampak buruk terhadap kelayakan huni dan produktifitas suatu kota.

Time to ACT dengan mengutip TomTom Traffic Congestion Index, menyebutkan Jakarta adalah kota dengan kemacetan tertinggi ketiga di antara 18 megacity di seluruh dunia.

Tomtom, perusahaan asal Belanda penyedia jasa informasi lalu lintas, peta, dan navigasi, menempatkan Jakarta di bawah Mexico City (Meksiko), dan Bangkok (Thailand).

1025x901_13282d40fa7c2768b24384631930e7a88fa9746c (1)

Banyak yang dipertaruhkan di sana. Misalnya saja, putaran ekonomi. INRIX–lembaga penyedia jasa analisis transportasi berbasis di Washington, AS–belum lama ini mengeluarkan hasil riset soal itu dengan objek utama di tiga negara: Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

Di AS, kerugian negara–baik langsung atau tidak–akibat kemacetan mencapai 305 miliar dolar AS (Rp4.275 triliun), hampir dua kali lipat APBN Indonesia 2018, Rp2.220 triliun. Los Angeles, New York City, dan San Francisco menjadi kota penyumbang terbesar atas kerugian tersebut.

Sedangkan di Eropa, Inggris menjadi negara dengan kerugian terbesar, yakni mencapai 37 miliar pounds. London, sebagai salah satu kota tersibuk di dunia, menjadi penyumbang terbesar.

Jumlah kerugian itu, menurut INRIX, diambil dari kerugian akibat penggunaan bahan bakar dan waktu yang terbuang (langsung) hingga peningkatan harga barang akibat lamanya waktu tempuh barang (tidak langsung).

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Tentu saja, Jakarta dan sekitar menjadi kota dengan kerugian ekonomi terbesar di Indonesia. Menurut data yang dilansir Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), kerugian di Jabodetabek mencapai Rp100 triliun saban tahun.

Tinggi? Jelas. Hampir setara dengan kerugian di London bila merujuk riset INRIX tadi. Di London, kerugian karena macet mencapai Rp132 triliun pada 2017. Padahal, PDB dua kota metropolitan tersebut terpaut jauh.

Jakarta memang memiliki tingkat kemacetan parah di dunia –begitu Tomtom membahasakannya. Bila ditakar dalam skala persentase 1 (terendah) hingga 100 (tertinggi), rata-rata kemacetan di Jakarta mencapai 58 persen–di atas New York City (35 persen) dan London (40 persen).

1025x722_b88ddd9eb8b688789e4b9bb4de776a7c06e9a7cb
Level kemacetan di kota metropolitan di dunia. | Lokadata /Beritagar.id

Menurut BPTJ dalam keterangan persnya, tiga penyebab utama yang membuat Jakarta macet parah yaitu tingginya V/C ratio (perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas jalan).

Rata-rata V/C ratio jalan-jalan di Jakarta sudah mencapai angka 1, yang artinya perlu penanganan. Kedua, semakin tingginya kepemilikan sepeda motor oleh masyarakat, yang saban tahun sejak periode 2000-2010 pertumbuhan rata-ratanya mencapai 4,6 kali lipat.

Dan terakhir, minimnya pengguna angkutan umum. Saat ini dari penggunaan angkutan umum di Jakarta baru 19,8 persen, dan di Bodetabek baru 20 persen.

Kualitas hidup

Menurut laporan terbaru Bank Dunia, kelayakan huni sebuah kota mengindikasikan kualitas hidup di kota itu di luar tingkat kesejahteraan materi yang dihasilkannya.

Di kota yang layak huni, sebut laporan bertajuk Time to ACT : Realizing Indonesia’s Urban Potential, masyarakat menikmati akses layanan dasar berkualitas tinggi – termasuk akses ke air bersih dan sanitasi, kesehatan serta layanan pendidikan berkualitas tinggi.

Laporan yang dirilis Kamis (3/10/2019) itu juga mengatakan kota yang layak huni memiliki perumahan terjangkau dan relatif sedikit memiliki kemacetan lalu lintas, polusi, serta kejahatan.

Setiap perjalanan yang dilakukan di wilayah Jakarta memerlukan estimasi tambahan waktu sebesar 58 persen dibandingkan dengan situasi tanpa kemacetan.

Angela Yunita, warga Jakarta, mengatakan masalah kemacetan di Jakarta sebenarnya berkaitan erat dengan masalah lain di kota ini.

“Kepadatan Jakarta membuat ramai kendaraan, polusi bertambah, apalagi ruang hijau publik sangat minim.”

“Semua ruang dipakai untuk kepentingan komersial. Ditambah lagi, transportasi publik kurang menarik, membuat orang cari kenyamanan dengan kendaraan pribadi,” tuturnya kepada ABC.

Perempuan yang bekerja di pusat kota Jakarta ini lalu mengakui kualitas udara Jakarta jika dibanding dengan Melbourne -yang tergolong salah satu kota paling layak huni di dunia menurut Indeks Kelayakan Huni Economist Intelligence Unit’s (EIU) -sangat jauh perbedaannya.

“Ibaratnya udara Jakarta itu 1:1000 sama Melbourne. Soal bersihnya, kejernihan udaranya.”

“Pengalaman pribadi waktu saya ke sana (Melbourne), saya melihat sangat banyak orang berjalan kaki, yang memanfaatkan transportasi publik, ataupun bersepeda.”

“Padahal amit-amit jalannya banyak yang naik turun tanjakan. Tapi bahkan dalam keadaan hujan orang tetap bersepeda, jadi kaum mudanya banyak yang in good shape (bertubuh bugar),” ceritanya.

Ia mengatakan, jika Jakarta ingin meningkatkan status kelayakan huninya maka situasi multi-kepadatan di kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa ini harus diurai.

“Saya punya harapan besar sama pindahnya Ibu Kota, meski enggak yakin sih entah apa yang bakal berubah,” sebutnya.

Laporan Bank Dunia itu juga mengungkap polusi udara di Jakarta lebih tinggi ketimbang Ho Chi Minh City di Vietnam, Kampala di Uganda, Mexico City di Meksiko dan Sao Paulo di Brazil.

11572608-3x4-large

Tingkat polusi yang tinggi ini dikaitkan dengan sejumlah penyakit dan efek kesehatan lainnya yang berdampak buruk pada kelayakan huni sebuah kota.

Sekitar 60 persen penduduk Jakarta diperkirakan menderita penyakit yang disebabkan polusi udara, dan dalam survei persepsi yang dilakukan laporan Bank Dunia itu.

Sebanyak 70 persen warga Jakarta yang disurvei mengidentifikasi ‘pengurangan polusi’ sebagai agenda lingkungan perkotaan yang paling penting.

“Anda tentu saja bisa melihat dan merasakan sendiri polusi udara di Jakarta,” kata Jeanne Rival, mahasiswi asal Perancis yang tengah menjalani program magang di Jakarta sebulan terakhir.

“Saya, contohnya, tak akan berolahraga di luar ruang, tapi sebenarnya juga tidak mengganggu keseharian saya karena saya lihat sebagian aktivitas di Jakarta dilakukan di dalam ruangan. ” tambahnya.

Jeanne berpendapat ada banyak ruang kosong di Jakarta yang sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk aktivitas sosial atau hutan kota.

“Mungkin bisa dibuat ruang terbuka hijau di sini di mana orang bisa berkumpul ketimbang bertemu di mal,” ujarnya kepada ABC.

“Ruang terbuka hijau bisa jadi solusi utama untuk polusi Jakarta,” imbuh Jeanne.

Tak hanya Jakarta, beberapa kota lain di Indonesia – menurut Inrix Global Traffic Scorecard -juga termasuk di antara kota-kota dunia dengan kemacetan tertinggi.

Bahkan laporan terbaru Bank Dunia menyebut polusi udara di Pekanbaru juga lebih tinggi dari Mumbai dan Shanghai.

Laporan terbaru Bank Dunia mengungkap, kemacetan lalu lintas, yang menjadi salah satu sumber utama polusi, merupakan faktor kepadatan atau congestion force yang berdampak buruk terhadap kelayakan huni dan produktifitas kota-kota besar di Indonesia.

“Faktor-faktor kepadatan tersebut secara langsung berdampak negatif terhadap kelayakan huni Kawasan-kawasan perkotaan, mengurangi daya tarik untuk tinggal dan bekerja,” tulis laporan itu.

Di Indonesia, banyak kawasan perkotaan menunjukkan tanda-tanda tekanan kepadatan karena ketidakmampuan mengelola congestion force.

Faktor kepadatan ini terutama ditemukan di kawasan metropolitan besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar, serta kota dengan kepadatan penduduk mirip metropolitan besar seperti Palembang, Pekanbaru dan Samarinda, yang mengalami kekurangan perumahan terjangkau, kemacetan lalu lintas yang parah dan tingkat polusi udara yang melebihi batas normal.

Time to ACT menyebut bukti menunjukkan rasio harga rumah terhadap penghasilan di Bandung, Denpasar dan Jakarta lebih tinggi daripada New York.

Urbanisasi yang kurang terorganisir
Dalam pidatonya di acara peluncuran Time to ACT : Realizing Indonesia’s Urban Potential, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, mengakui urbanisasi di Asia Selatan dan juga di Indonesia begitu kurang terorganisir dibanding China.

“Siapa saja bisa berpendapat kalau China punya sistem politik yang berbeda, lebih terpusat, dan makanya mereka lebih terencana dan punya rencana plus manajemen lebih baik dalam proses urbanisasi.”

11572562-3x2-large

Lebih lanjut, mantan Direktur Utama Bank Dunia ini mengatakan, faktanya, urbanisasi yang tak direncanakan dengan baik menciptakan manfaat yang kurang dari apa yang telah direncanakan.

“Dengan urbanisasi, yang membuat orang berdatangan ke wilayah kota dan kemudian menciptakan aglomerasi, mobilitas yang lebih efisien, nilai tambah lain dalam bentuk pertumbuhan bisa dinikmati oleh perekonomian,” sebutnya.

Sri Mulyani menjelaskan peningkatan satu persen dari jumlah warga Indonesia yang tinggal di perkotaan atau wilayah urban hanya menambah GDP (Produk Domestik Bruto) per kapita sebesar 1,4 persen.

“Ini sangat jauh jika dibanding negara Asia Timur dan Pasifik, yang peningkatan populasi urban 1 persen-nya rata-rata akan menambah GDP per kapita sebesar 2,7 persen.”

“Sangat rendah jika anda bandingkan 1,4 dengan 2,7 (persen).”

Sri Mulyani mengatakan kerugian lain dari urbanisasi yang kurang terorganisir adalah manfaat ekonomi yang tak terdistribusi dengan baik sehingga menimbulkan ketimpangan.

“Jadi dari temuan laporan ini kita semua tahu bahwa kita perlu mengelola proses urbanisasi dengan lebih baik, khususnya dalam mengatasi isu kepadatan yang biasanya muncul.”

“Kita perlu membuat wilayah perkotaan baru yang bisa menciptakan pembangunan yang bisa tersebar merata ke seluruh wilayah negara.”

Rencana Pemerintah Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan disebutnya bisa menciptakan peluang penambahan GDP per kapita yang lebih besar dari 1,4 persen, hanya jika dikelola dengan baik.

Sumber: abc.net.au dan beritagar.id.

loading...