Angkasa Pura 2

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

Bandara KokpitRabu, 9 Oktober 2019
images.jpeg-5

PALEMBANG (BeritaTrans.com) – Pekatnya kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, terganggu.

Pada Rabu (9/10/2019) pagi, jarak pandang terendah mencapai 50-400 meter. Sehingga menyebabkan 14 penerbangan di bandara tersebut mengalami keterlambatan.

General Manager Angkasa Pura (AP) II, Fahroji mengatakan, keterlambatan penerbangan itu terdiri dari masing-masing tujuh penerbangan kedatangan, dan keberangkatan, dengan waktu keterlambatan 22 menit sampai dengan 194 menit.

Beberapa maskapai penerbangan yang mengalami perlambatan mendarat dan terbang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, di antaranya pesawat dengan nomor penerbangan AK 451 KUL-PLM (9 min), GA 100 CGK-PLM (137 min), ID 6870 CGK-PLM (144 min), QG 980 CGK-PLM (131 min), IW 1759 PKU-PLM (103 min), QG 988 BTH – PLM (54 min), GA 102 CGK-PLM (22 min).

Sementara untuk keberangkatan, yang mengalami keterlambatan adalah pesawat dengan nomor penerbangan QG 985 PLM-CGK (194 min), IW 1750 PLM -BKS (123 Min), JT 142 PLM-PGK (98 min), ID 6871 PLM-CGK (127 min), GA 7132 PLM-BKS (127 min), QG 1940 PLM-PDG ( 99 min), AK 450 PLM-Kul (33 min).

“Kita dapat laporan terbaru jarak pandang 50 meter di jam 05.00 WIB, kemudian normal lagi sekitar 400 meter jam 09.30 WIB. Minimal jarak pandang 800 meter,” katanya dikutip dari SINDOnews, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, akibat dari keterlambatan penerbangan ini, calon penumpang harus menunggu lama di terminal keberangkatan. “Jika tidak bisa landing, biasanya kembali ke bandara asal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Bambang Beny Setiaji mengatakan, intensitas asap pada pagi hari pukul 04.00-07.00 WIB, dan sore hari 16.00-20.00 WIB dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut.

“Jarak pandang terendah pada pagi hari Rabu (9/10/2019) berkisar hanya 50-400 m dengan kelembapan pada saat itu 95-96 persen,” katanya.

Secara Regional, kata Bambang, munculnya Badai Tropis Hagibis di Laut Natuna Utara, mengakibatkan kembali adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah badai tersebut. Hal ini mengakibatkan penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan 10-12 Oktober 2019.

“Secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang,” jelasnya.(lia/sumber:sindonews)

loading...