Angkasa Pura 2

Industri Pelayaran Belum Miliki Daya Saing Mumpuni, INSA Harap Perhatian Khusus

DermagaKamis, 10 Oktober 2019
IMG_20191010_161514

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Industri pelayaran dinilai belum miliki daya saing mumpuni lantaran masih banyaknya persoalan dan tantangan yang tak kunjung usai.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Associatioan (DPP INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, pelaku usaha pelayaran nasional mengapreasiasi upaya pemerintah membenahi sektor maritim dalam lima tahun terakhir guna mewujudkan Indonesia sebagai negara poros maritim.

“Diharapkan sektor maritim terutama industri pelayaran masih mendapat perhatian khusus. Sebab, masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dicarikan solusinya secara bersama-sama agar pelayaran nasional bisa bersaing dikancah internasional,” tegas Carmelita yang akrab disapa Memei di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Diharap pemerintahan 5 tahun mendatang tetap memberikan fokus pada pembenahan sektor maritim, khususnya di sektor pelayaran niaga nasional,” katanya, Kamis (10/10/2019).

Sejumlah tantangan yang masih dihadapi pelayaran nasional, misalnya di sektor pembiayaan pengadaan kapal yang masih dibebani bunga bank tinggi dan tenor pendek.

Dia menilai, skema pembiayaan di angkutan laut nasional dapat disamakan dengan skema pembiayaan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan.

“Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah dengan membuat aturan baru atau merevisi PM Menteri Keuangan No. 100/PMK 010/2009 tentang pembiayaan infrastruktur, dengan memasukkan kapal sebagai infrastruktur, sehingga perbankan nasional akan memberikan dukungan pendanaan dengan bunga bank rendah dan tenor panjang,” urainya.

Terkait dengan kebijakan fiskal, industri pelayaran nasional membutuhkan kebijakan yang bersifat equal treatment dengan negara lain. Hal ini untuk mendorong tingkat daya saing pelayaran nasional.

DPP INSA juga mendorong agar wacana merevisi Undang-undang No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran dihentikan, mengingat UU Pelayaran sudah terbukti mendorong laju pertumbuhan industri pelayaran nasional melalui pasal asas cabotage dalam UU tersebut.

Saat ini, armada pelayaran nasional telah berjumlah lebih dari 25 ribu unit kapal, atau naik 323 persen dari awal dimulainya asas cabotage pada 2005 yang saat itu jumlah kapal hanya mencapai 6 ribu kapal saja.

Dengan kekuatan itu, armada pelayaran nasional juga telah menjadi pemain utama di angkutan dalam negeri, dengan telah mampu melayani pengiriman kargo di seluruh Indonesia.

‚ÄúPeraturan perundangan yang sudah terbukti sukses mendorong laju pertumbuhan industri pelayaran dan ekonomi nasional jangan diubah,” katanya.

Menurutnya, seluruh amanat undang-udang pelayaran agar dapat diimplementasikan dengan menerbitkan aturan turunannya. Salah satu amanat undang-undang pelayaran yang perlu segera diimplementasikan terkait badan tunggal penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard.

Tumpang tindihnya penegakan hukum di laut saat ini mengakibatkan ketidakpastian pengiriman barang melalui laut, kerugiaan waktu operasional kapal dan berbiaya tinggi.
Lain itu, diperlukan implementasi dari kebijakan Non Convension Vessel Standard (NCVS). (omy)

loading...