Angkasa Pura 2

Layanan Kapal Minim ke Siberut Barat

DermagaJumat, 18 Oktober 2019
images.jpeg-29

SIBERUTBARAT (BeritaTrans.com) – Layanan kapal KLM Nade milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai rute Siberut Barat yang meliputi Desa Sigapokna, Desa Simalegi dan Desa Simatalu belum mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

KLM Nade atau boat Nade yang berlayar rute pelabuhan Pokai Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara ke Betaet Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat masih sebatas melayani penumpang. Sementara untuk kebutuhan pokok dan membawa hasil bumi masyarakat masih dilayani kapal swasta.

“Meski belakangan ini tidak rutin karena persoalan BBM dan cuaca, namun Kapal Nade sudah membantu dari segi transportasi masyarakat. Tapi berbicara untuk mengangkut barang dagangan dan membawa komoditi dari Siberut Barat belum ada, ” kata Juanda Tabeleksirik, salah seorang tokoh masyarakat di Betaet pada Mentawaikita.com, Rabu (2/10/2019).

Dikatakan Juanda, saat ini untuk menjual kebutuhan pokok masyarakat tak mampu menyesuaikan dengan harga jual di pusat kecamatan lainnya yang ada di Mentawai karena biaya angkut barang dengan boat atau kapal dagang sangat mahal. “Untuk kapal dagang yang melayani di Siberut Barat kita tidak bisa belanja sendiri. Harus pesan barang atau beli barang lewat mereka. Tentunya harganya lebih mahal”, katanya.

Yang ideal menurut Juanda, dengan KMP. Gambolo dari Padang menuju Pokai mereka bisa belanja langsung ke Padang. Untuk mengangkutnya dari Pokai menuju Siberut Barat, bias menggunakan kapal antar pulau yang berongkos lebih murah. “Namun karena kapal antar pulau lebih sering tidak masuk ke Betaet dengan alasan cuaca, barang belanjaan kami yang sudah masuk di kapal antar pulau tidak sampai ke Betaet karena di jadwal yang lain kapal harus berangkat. Barang kami akhirnya terbawa dan tidak selamat, ” katanya.

Bila dipindahkan ke boat, untuk satu pedagang masih bisa diangkut ke Betaet. Namun dengan penumpang dan barang pedagang lainnya tidak akan terbawa. “Solusinya kami harus cater boat lagi, ” katanya.

Disarankan Juanda, bila kapal milik pemda tidak sanggup melayani rute Siberut Barat, ada baiknya kapal dagang yang ada di Pokai yang biasa melayani rute ke Betaet disubsidi pemda untuk mengangkut barang pedagang dan mengangkut hasil komoditi masyarakat lokal.

“Kami juga tidak perlu cemas akan keselamatan barang. Kami tinggal telepon toko di Padang untuk kirim barang lewat Gambolo hingga Pokai dan dari Pokai tinggal pindahkan ke kapal dagang yang disubsidi pemda hingga tiba ke Betaet, ” katanya.

Solusi lainnya yaitu dibuka rute Kapal Sabuk Nusantara menuju Siberut Barat. Selain aman, kapasitas barang dan penumpang lebih besar dan terjamin. “Kalau ini ada dan terlayani dengan serius harga akan netral dan komoditi masyarakat akan tertampung dengan harga yang lebih baik seperti kopra, pinang, manau, ” katanya.

Hal yang sama dikatakan Sarinem, pedagang lainnya yang ada di Betaet. Dikatakan Sarinem, kapal dagang yang melayani rute Pokai-Betaet tidak semuanya juga yang murni membantu. Ada pemilik kapal yang mau mengangkut barang pesanan pedagang bila belanja langsung di kedai atau toko milik pemilik kapal.

“Kami tidak boleh belanja sendiri ke Padang kalau mau barang dibawa dengan kapal mereka. Kami harus beli barang di toko atau kedai mereka yang ada di Pokai yang harganya sudah tidak sama dengan harga toko di Padang. Belum biaya muat, amprah kapal dan bongkar di kapal, ” katanya.

Ada kapal dagang milik pedagang di Pokai yang mau membantu dengan tidak wajib berbelanja di toko atau kedainya di Pokai. Namun karena kapasitas kapal dan kondisi cuaca, kapal tidak bisa setiap bulannya melayani rute Pokai-Betaet.

“Ada pemilik kapal yang mau membantu namun tidak bisa masuk ke Betaet setiap bulannya. Mereka mengusahakan dua bulan atau tiga bulan sekali. Ini saja sudah kita sykuri, ” katanya.

Untuk kapal Pemda Mentawai, dikatakan Sarinem belum serius melayani selain rute perjalanan yang panjang dan terjadwal juga alasan cuaca menjadi alasan utama. “Karena jadwal dan rute perjalanan yang panjang ini membuat pelayanan tidak maksimal. Belum lagi alasan cuaca,” katanya.

Untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat Siberut Barat dan menetralkan harga perlu keseriusan pihak pemerintah selain swasta. “Kalau tidak jangan kita berharap harga jual kebutuhan pokok normal dan harga beli komoditi tinggi karena besarnya biaya yang kami keluarkan untuk menyuplai barang dan mengirim komoditi ke luar, ” katanya. (Lia/sumber dan foto:mentawaikita)

loading...