Angkasa Pura 2

Menikmati Eksotisme Stasiun KA Tanjung Priok

EmplasemenSenin, 21 Oktober 2019
9202019184414

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Mengunjungi Stasiun KA Tanjung Priok, Jakarta Utara, akan disapa oleh kentalnya nuansa era kolonial. Arsitektur Belanda masih kuat di stasiun ini.

Letaknya berseberangan dengan Terminal Bus Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Priok. Lokasinya memang strategis karena ada tiga simpul transportasi tersebut dengan posisi berdampingan.

Stasiun ini termasuk salah satu bangunan tua yang dijadikan cagar budaya DKI Jakarta. Bangunannya juga memiliki art deco di setiap dindingnya.

Stasiun ini melayani tiga jenis pelayanan kereta yakni KRL Commuter, KA lokal dengan destinasi Cikampek dan Purwakarta, serta kereta barang dengan destinasi Gedebage, Bandung, dan Surabaya.

Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ke arah Jakarta Kota, jalur 3 sebagai sepur lurus dari arah Jakarta Kota, jalur 6 sebagai sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara, dan jalur 7 sebagai sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali. Di sayap barat laut emplasemen stasiun ini terdapat percabangan jalur menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

sejarah-stasiun-tanjung-priok-jakarta1557810069Jalur kereta di Stasiun Tanjung Priok. Foto: lapakfjbku.com.

Walau bukan stasiun pusat, Stasiun Tanjung Priok ini terbilang modern pada masanya, dikarenakan banyak mempergunakan material besi baja yang disusun melengkung melingkupi enam jalur rel di dalamnya. Penggunaan struktur bangunan besi, apalagi besi baja, pada masa awal abad ke-20 membuat stasiun ini tidak ketinggalan tren dengan stasiun-stasiun besar di Eropa pada saat itu.

Jendela di stasiun ini terbentuk atas garis-garus yang terdiri dari lis profil atap yang horizontal serta lubang-lubang pada cornice berupa ballustrade atapnya, garis-garis vertikal kolom-kolom, dan lekukan pada dinding menyerupai jendela selain jendela-jendela sesungguhnya yang berjalusi kayu.

Kaca patri dan ornamen profil keramik, tampak menghiasi dinding Stasiun Tanjung Priok. Dengan hiasan itu, maka stasiun tampak megah dan diperkuat dengan kolom-kolom besar dan kokoh pada beranda utama yang didukung dengan tangga di sepanjang bangunan.

9202019184444

9202019184432

9202019184458

Stasiun ini dibangun tepatnya pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan Stasiun Tanjung Priok ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.

Bahkan sejak diselesaikannya stasiun ini, telah timbul protes mengenai “pemborosan” yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar Stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum.

Stasiun ini berfungsi sebagai alat transportasi orang di zamannya dengan rute Tanjung Priuk-Kemayoran PP, serta Tanjung Priuk-Batavia SS/Nis PP, dan stasiun ini dikelola oleh Staatsspoor Wegen (SS) sebagai jawatan kereta api.

Pengelolaan stasiun dan jalur kereta api Sunda Kelapa–Tanjung Priuk diserahkan kepada jawatan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS). Sampai dengan tahun 1900, dalam sehari tidak kurang dari 40 perjalanan kereta api rute Tanjung Priuk–Batavia SS pp dan NISM serta Tanjung Priuk–Kemayoran pp.

Sejak paruh akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok kian meningkat, sehingga terjadi perluasan area pelabuhannya yang mengakibatkan stasiun Tanjung Priuk digusur. Untuk menggantikannya, pada tahun 1914 di sebelah Halte Sungai Lagoa dibangun stasiun baru yang lebih megah.

Dalam pembangunan itu, SS menugaskan Ir. C.W. Koch sebagai arsitek utama. Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama kereta listrik rute Priok–Meester Cornelis (Jatinegara).

Bandar pelabuhan yang dibangun pada 1877 pada masa Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge yang berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1875-1881 itu semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu pelabuhan paling ramai di Asia setelah dibukanya Terusan Suez.

Stasiun Tanjung Priok ini menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan. Alasan pembangunan ini karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priok sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu (kereta api). Pada akhir abad ke-19, pelabuhan Jakarta yang semula berada di daerah sekitar Pasar Ikan tidak lagi memadai, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok.

Sementara, kereta api-kereta api kapal yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd langsung menuju ke dermaga pelabuhan dan tidak menggunakan Stasiun Tanjung Priok ini. Stasiun ini terutama hanya digunakan untuk kereta rel listrik yang mulai digunakan di sekitar Batavia pada tahun 1925.

Pada zaman Belanda, di stasiun ini juga tersedia ruang penginapan sementara bagi para penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang memang disediakan untuk penumpang.

Menjelang abad ke-21 stasiun stasiun ini tidak terawat, area peronnya dipenuhi oleh para tunawisma sebagai tempat tinggal.

Akibat dari kemunduran ini menyebabkan PT KAI (Persero) merugi dari pemasukan penjualan tiket yang membuat PT KAI akhirnya menyewakan sebagian ruangannya untuk digunakan oleh kantor jasa seperti, penjualan tiket kapal, jasa penukaran uang asing dan pengiriman barang.

Pada tahun 2009, PT KAI akhirnya pun memutuskan untuk membenahi kembali dari bangunannnya hingga fasilitas lainnya dan digunakan kembali sebagai stasiun penumpang dan barang.

Sejak dibukannya kembali stasiun ini langsung melayani perjalanan Commuter Line dan kereta api lokal.

Dengan seiringnya semakin banyak penumpang menggunakan kereta lokal melalui stasiun Tanjung Priuk PT KAI menambah kereta lokal untuk tunjuan Purwakarta dan Cikampek, kereta api lokal ini meliputi, kereta api Cilamaya Ekspres dari Purwakarta, Walahar Ekspres tujuan Purwakarta, serta Kereta Api Jatiluhur dari dan tujuan Cikampek. stasiun ini juga diprioritaskan untuk kereta barang yang mengirimkan barang dari pelabuhan melalui jalur kereta tujuan Bandung dan Surabaya.

Dan yang lebih menarik lagi tepat dibawah stasiun Tanjung Priuk terdapat sebuah bunker dari hasil peninggalan zaman Belanda. (bondan/sumber: lapakfjbku.com).

loading...