Angkasa Pura 2

Jaga Pintu Perlintasan KA di Bulan Bulan Bekasi, Adziz Wajib Sigap dengan Kode Alarm Buzzer

EmplasemenSenin, 28 Oktober 2019
IMG-20191024-WA0019

BEKASI (BeritaTrana.com) – Berprofesi sebagai Petugas Jalan Lintasan (PJL)  Kereta Api (KA) atau penjaga pintu perlintasan KA selalu melibatkan keselamatan banyak orang.

Petugas harus selalu siap siaga, berkonsentrasi penuh menggunakan indera pendengaran serta penglihatan dengan baik dan memastikan jalur kereta steril untuk dilalui si ular besi tersebut. Salah seorang  PJL Pos 78 bernama Adziz menjelaskan apa yang mesti dilakukan ketika kereta hendak melintas.

Pria yang bertugas di pos jalan Perjuangan, Bulan-bulan, Kota Bekasi itu mengatakan setiap petugas  di pos perlintasan dilengkapi alat yang bernama meja pelayanan. Walau dibantu alat, tugas penjaga harus sigap mendengarkan kode alarm buzzer dan telfon yang merupakan alat komunikasi yang menghubungkan kepada  PJL yang terdekat bahwa kereta akan melintas.

IMG-20191024-WA0020

“Di pos PJL sebelumnya yang dilintasi kereta, wajib memberi tahu kepada pos selanjutnya bahwa ada kereta yang akan melintas. Kemudian saya menerima sinyal lampu merah peringatan di meja pelayanan sudah menyala itulah tanda kereta akan mendekat, saya langsung akan menyalakan alarm, menurunkan palang, dengan sekali-kali menekan rem palang agar penguna jalan tidak mengenai palang langsung,” ujar Adziz, kemarin.

Sambil menunjuk panel kontrol di meja pelayanan, ia menerangkan arti kode yang tertera pada lampu alarm. Setiap kode menunjukkan asal dari kereta yang akan lewat. Lampu dan alarm itu menyala jika jarak kereta 1 km menuju perlintasan. Pertanda itu merupakan pemberitahuan bagi semua petugas perlintasan kereta.

“Tandanya lampu alarm ini yang bertuliskan ‘Dari A dan Dari B’. Kalau lampu dari A nyala, berarti ada kereta dari arah stasiun Bekasi. Kalau dari B nyala, berarti ada kereta dari stasiun Tambun. Lampu dan alarm nyala kalau jarak kereta ke sini sudah 1 km. Kereta mulai nginjak sensor,” Jelas Adziz.

Setiap kode pada panel menunjukkan asal dari kereta yang akan lewat namun untuk memastikan dia harus tetap berkordinasi melalui telfon kepada PJL arah kereta datang.

Setelah memastikan dalam areal perlintasan aman dari pengendara, dan palang sudah tertutup. Ia harus menunggu menelfon ruang kontrol PT KAI yang mengabari jika PJL 78 aman untuk dilalui dan kembali dia menekan tombol ACK pada meja pelayanan.

“Tombol ACK ini mengisyaratkan bahwa perlintasan aman dan kereta dapat jalan terus, tapi jika tobol ACK tidak saya tekan maka kereta sampai kapanpun tidak akan jalan, karena ini merupakan lampu hijaunya kereta api lah, jadi dengan adanya tombol ini kerjaan makin lebih aman lagi” Ungkapnya.

Sebelum kereta melintas operator PJL harus keluar dari ruang pos PJL dan menyambut dan memastikan kereta aman dengan semboyan 20 dan semboyan 21-nya caranya ialah ia memperhatikan gerbong utama atau lokomotif berada paling depan dan menujuk rangakaian gerbong terakhir juga masih tersambung.

“yang pertama saat kereta tiba saya tunjuk dan sebut semboyan 20 artinya benar itu kepala kereta api dan tunjuk dan sebut semboyan 21 yang terakhir ialah memastikan bahwa rangkaian gerbong yang terakhir.” lanjut Adziz.

Setelah memastikan semua rangkaian kereta lengkap PJL lalu kembali ke dalam pos untuk kembali ke meja pelayanan untuk menaikkan palang dan mematikan alarm, mempersilahkan pengemudi untuk jalan kembali dan tak lupa juga mencatat nomor KA, nama KA dan waktu melintas pada pos tersebut ke dalam buku tabel laporan harian.

Dalam sehari kereta yang melintasi Pos PJL 78 sebanyak 210 sampai 220 sesuai kereta  termasuk kereta api commuterline dan kereta api lokal, dengan sekali tutup palang ada sebanyak 1 sampai 4 kereta yang lalu lalang di perlintasan tersebut. (fahmi).