Angkasa Pura 2

Mengenal Padewakang Kapal Ikonik Asal Bulukumba Pernah Jaya hingga Australia dan Eropa

DermagaJumat, 8 November 2019
images (2)

BULUKUMBA (BeritaTrans.com) – Panrita Lopi atau dalam Bahasa Indonesia berarti pengrajin kapal, memang pantas disematkan bagi Kabupaten Bulukumba. Di sana, dari tangan-tangan pengrajin lahir kapal yang mampu mengarungi lautan Eropa kala itu. Satu yang santer terdengar saat ini adalah perahu Pinisi.

Tapi tahukah anda kalau Pinisi merupakan evolusi dari Padewakang? Mungkin saat ini kebanyakan orang tak mengenal kapal jenis Padewakang.

Kebanyakan pengrajin perahu sudah tidak memproduksi lagi Padewakang, padahal perahu tersebut lebih dulu hadir daripada perahu Pinisi. Boleh dikata lebih tua ketimbang Pinisi.

Tenaga Ahli Kemenko Maritim RI, Dr. Horst H Liebner memastikan Padewakang merupakan kapal tradisional pendahulu Pinisi.

Padewakang ini, konon tercatat sebagai nama perahu asal Sulawesi pada akhir abad ke-17.

Dari berbagai referensi yang ada, perahu Padewakang ini terbilang unik. Sebab mempunyai layar khas kapal Austronesia, yaitu layarnya berjenis Tanjaq yang berbentuk segi empat.

Desain kapal itu, pernah dikumpulkan oleh Horst dari hasil riset, catatan sejarah, relief Borobudur dan berbagai foto klasik. Desain itu diperkuat oleh tangan-tangan dan pengetahuan Panrita Lopi di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kabarnya kapal kayu berukuran panjang 12 meter dan lebar 3 meter itu masih terpajang megah di museum La Boverei di Kota Liege, Belgia.

Horst pernah menyebut, Padewakang ini adalah pendahulu Pinisi. Evolusi itu tidak berjalan dengan sendirinya. Pada abad ke-19, Nusantara makin banyak didatangi kapal-kapal Eropa. Horst pernah menyebut, Padewakang ini adalah pendahulu Pinisi. Evolusi itu tidak berjalan dengan sendirinya. Pada abad ke-19, Nusantara makin banyak didatangi kapal-kapal Eropa.

Para pengrajin kapal dan pelaut pun mengadopsi jenis layar Eropa ke Padewakang.

Padewakang ini, konon tercatat sebagai nama kapal asal Sulawesi pada akhir abad ke-17. Kapal itu difungsikan VOC antar surat dan sebagai kapal patroli.

Dalam catatan syahbandar VOC sendiri, Padewakang itu dimiliki oleh saudagar asal Sulawesi. Dahulu kala, kapal itu digunakan pelaut Indonesia untuk eksplorasi kawasan Australia pada abad 17-18. Termasuk dalam pelayaran historis pencarian taripang.

Peristiwa itu kemudian menjadi referensi dalam sejarah hubungan maritim Australia-Indonesia sebelum kedatangan orang Eropa.

Horst menggarisbawahi pentingnya peran pelaut Nusantara dalam eksplorasi Australia.

Tidak heran, replika perahu itu menjadi salah satu kebanggaan Indonesia yang ditampilkan pada pameran “Europalia, Liege, Belgia” pada 2017 lalu.

images (2)

Napak Tilas Pelayaran Padewakang ke Australia

Padewakang kini telah jadi di tangan Panrita Lopi. Kabarnya ditempa di kawasan pembuatan perahu, Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pelaut Indonesia akan kembali mengarungi lautan dari Bulukumba menuju Australia dengan menggunakan Padewakang tanpa mesin itu pada Desember mendatang.

Tujuh puluh tahun sebelum James Cook, pelaut Sulawesi sudah lebih dulu ke Australia.

Rencananya dari Bulukumba berangkat menuju Makassar pada 22 November dan 1 Desember berlayar ke Australia. Bertepatan dengan peringatan 250 tahun kedatangan Kapten James Cook di Australia Timur pada 1770 masehi.

Aboriginal, pribumi Australia, ingin menunjukkan nenek moyangnya punya rekan di Sulawesi, jauh sebelum orang barat menginjak tanah mereka.

Horst menyebut, salah satu aspek pada pelayaran nanti, untuk mengenang hubungan Australia-Indonesia yang erat kaitannya dengan Islam.

“Tujuh puluh tahun sebelum James Cook, pelaut Sulawesi sudah lebih dulu ke Australia. Semua itu tujuannya untuk menyadarkan khayalak Australia bahwa sejarah Australia itu berwarna warni, dan bahwa Islam dan orang Sulawesi punya andil yang cukup besar dalam sejarah itu,” ungkap Horst.

Pada Sabtu 9 November 2019 nanti, akan dilaksanakan peluncurannya ke laut yang dikenal dengan tradisi Annyorong Lopi. Peluncuran kapal, kata Horst, dirangkaikan peringatan maulid oleh warga setempat.

“Tim membuat ulang perahu Padewakang mendasari dua maket perahu koleksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dibuat 1821 serta beberapa lukisan awal abad ke 19, dan juga dari deskripsi mendetail,” ungkapnya.

Pelayaran napak tilas ini diselenggarakan oleh Yayasan Abu Hanifah Institute, Sydney-Australia sekaligus yang mendanai pembuatan Padewakang.

Pelayaran ini dimaksudkan untuk melestarikan tradisi dan pengetahuan pembuatan perahu yang dimiliki turun temurun, serta menunjukkan peran pelaut Sulawesi Selatan dalam menemukan Australia.

Sekaligus sebagai bentuk diplomasi budaya maritim, juga mengangkat nama Indonesia sebagai bangsa pelaut.

(jasmine/sumber: tagar.id).