Angkasa Pura 2

Mungkinkah Monorel dan Kereta Gantung Diterapkan di Kawasan Puncak?

EmplasemenJumat, 8 November 2019
IMG-20191107-WA0071

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Mungkinkah monorel dan kereta gantung diterapkan di kawasan Puncak, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas?

Hal ini mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek dengan mengangkat tema “Perpanjangan Lintas Rel Terpadu dari Kota Bogor ke Kawasan Puncak” di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Ya, salah satu kesimpulam dalam FGD menyebutkan bahwa angkutan umum massal berbasis rel memungkinkan untuk dibangun di kawasan Puncak.

Namun demikian, menurut Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia, Hermanto Dwiatmoko, pembangunan kereta jenis kereta layang ringan (LRT) sulit diterapkan di Puncak.

Hal ini disebabkan terbatasnya ruang untuk pemasangan tiang-tiang jalan layang dan kawasan Puncak yang memiliki tanjakan (gradient) cukup tinggi.

“Selain itu, pada umumnya LRT juga digunakan untuk angkutan perkotaan, bukan angkutan wisata,” ungkap Hermanto.

Dia merekomendasikan jika berdasarkan teknologi yang ada saat ini kereta jenis monorel dan kereta gantung merupakan dua jenis yang sesuai untuk kawasan Puncak.

“Kalau untuk monorel, konstruksi lebih sederhana sehingga menghemat ruang. Selain itu pemasangan tiang dan rel lebih ringan. Keuntungan lain adalah monorel dapat mengangkut penumpang dan barang bagasinya,” papar Hermanto.

Dirinya juga menambahkan jika monorel memiliki kelebihan dari segi biaya pembangunan dan operasi yang rendah.

Sedangkan kereta gantung, diuraikannya, beberapa keuntungan antara lain cocok untuk daerah wisata, konstruksi sederhana sehingga menghemat ruang, pemasangan tiang dan rel lebih ringan, serta biaya pembangunan dan operasi rendah.

“Hanya saja kereta gantung memiliki kapasitas angkut terbatas dan memerlukan perawatan kabel yang presisi,” tutur Hermanto.

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Edi Nursalam menyampaikan bahwa permasalahan kawasan Puncak tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dari sisi transportasi saja, perlu dilakukan pula penataan ruang dan lingkungan.

Menurut Edi, permasalahan di kawasan Puncak bukan sekadar persoalan penanganan transportasi. Namun juga tidak menginginkan jika penataan transportasi justru membuat lingkungan Puncak menjadi rusak.

“Penataan transportasi merupakan bagian yang harus dilakukan tanpa mengesampingkan upaya untuk menjaga kelestarian kawasan Puncak,” ungkap Edi. (omy)

loading...