Angkasa Pura 2

Penlok Bandara Bali Utara Keluar Pekan Depan, Gubernur Bangun Akses ke Buleleng Lebih Dulu

BandaraKamis, 14 November 2019
grafis-bandara-buleleng_20160527_102922

SINGARAJA (BeritaTrans.com) – Gubernur Bali Wayan Koster akan menerbitkan penetapan lokasi (Penlok) Bandara Bali Utara minggu depan.

Kendati Penlok sudah keluar, bukan berarti bandara langsung dibangun.

Gubernur akan bangun akses terlebih dahulu agar bandara di wilayah Kecamatan Kubutambahan, Buleleng itu tidak sepi pengunjung.

Saat ditemui Senin (11/11), Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana mengatakan, pembangunan jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani dinilai belum cukup.

Untuk itu, kata bupati, gubernur masih mempertimbangkan apakah akan membangun rel kereta api atau tol yang dikombinasikan dengan jalan masyarakat dari jalur Gianyar-Bangli-Kubutambahan agar lalu lintas dari Bali Selatan menuju Bali Utara bisa lebih cepat.

Dari sisi perencanaan, Bandara di Kubutambahan mulai dibangun pada tahun 2024.

“Kalau semua tol, itu tidak dapat memberikan kontribusi ke daerah dan merusak daerah resapan. Tapi kalau dari sisi ketepatan waktu ya kereta api,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan biaya pembanguan bandara?

“Ada dua kemungkinan. Akan diajukan ke program strategis nasional atau joinan (Kerja Sama Operasional) dari pihak BUMN, PT Angkasa Pura dan kontraktornya. Ini masih dihitung semua,” ujarnya.

Bupati mengatakan, dalam rapat membahas lokasi dan Rencana Induk Bandara Bali Utara di Jakarta, Kamis (7/11) lalu, ada sejumlah masukan yang diberikan para stakeholder terkait desain bandara.

Seperti masalah navigasi, apron dan panjang lintasan.

Masukan itu, kata pria yang akrab disapa PAS ini, akan dibuat master plannya oleh Kementerian Perhubungan RI.

“Ketika membuat Penlok, dasarnya adalah master plan. Master plan menyangkut luasan pola aktivitas dari kebandaraan dan pertimbangan teknis keberadaan bandara. Rencana minggu depan sudah ada Penlok,” katanya.

PAS menjelaskan, pembangunan bandara terbagi dalam tiga tahap.

Pada tahap pertama, pembangunan dimulai pada 2024-2028 dengan panjang runway (landasan pacu) 2.700 meter dan lebar 45 meter.

Pada tahap kedua dibangun (2029-2038), panjang runway sudah di angka tiga ribuan meter. Sementara tahap ketiga runway yang dibangun sepanjang 3.400 meter.

“Banyak pesawat dari luar negeri yang tidak dapat slot di bandara Ngurah Rai. Dengan adanya bandara di Buleleng ini, bisa menjadi tempat pesawat-pesawat itu mendarat.

Terlebih nanti panjang landasan sudah mencapai 3.400 meter sehingga bisa meningkatkan pariwisata di Bali khususnya Buleleng,” katanya.

Sebelumnya, pada bulan September lalu Bupati Buleleng juga mengikuti rapat membahas pembangunan bandara dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Dalam rapat saat itu, menteri meminta pemerintah daerah bangun akses jalan menuju ke lokasi bandara di Kubutambahan terlebih dahulu.

Rencananya, pemerintah membangun jalan penghubung dari wilayah Gianyar menuju ke Bangli, Belantih sampai di Kubutambahan. (Lia/sumber dan foto:tribunnews)

loading...