Angkasa Pura 2

Solar Langka di Surabaya, Ratusan Truk Telat Masuk Pelabuhan

KoridorSabtu, 16 November 2019
createimage_small.jpeg

Surabaya (BeritaTrans.com) – Keluhan mengenai kelangkaan solar bersubsidi merambah ke kawasan pelabuhan. Banyak pengusaha dan sopir yang sambat gara-gara kesulitan mencari bahan bakar itu. Sebagian terpaksa menanggung kerugian jutaan rupiah gara-gara telat masuk kapal.

Keresahan tersebut diceritakan Abdurahman, salah seorang sopir truk, kemarin (15/11). Pria berusia 45 tahun itu dijadwalkan berangkat ke Banjarmasin pukul 02.00. Tiket seharga Rp 8 juta sudah digenggamnya. ’’Tapi, saya ketinggalan kapal. Otomatis, tiketnya hangus dan terpaksa membeli lagi,’’ katanya.

Dia mengatakan, problem tersebut terjadi karena truk kehabisan solar saat hendak berangkat dari Jalan Semut Kali, Pabean Cantian. Upaya untuk mencari bahan bakar itu sudah dilakukan. Tetapi, ternyata usaha tersebut sia-sia.

Abdurahman tidak sendirian. Ada ratusan truk yang juga terlambat masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak kemarin. Mereka ketinggalan kapal dan merugi jutaan rupiah. Kemarin sopir terpaksa bermalam di pelabuhan. Sebab, mereka harus menunggu kapal yang berangkat pada jadwal selanjutnya. ’’Susahnya, jarak antarkapal lebih dari delapan jam,’’ ujar Suhari, sopir lainnya.

Problem kelangkaan solar memang terus berdampak. Di beberapa jalur protokol kawasan utara terjadi kemacetan gara-gara antrean SPBU. Banyaknya truk yang parkir di bahu jalan juga menyulitkan pengendara.

Kerugiaan besar akibat kelangkaan solar pun dialami Agus Payitno. Kemarin (15/11) Agus hanya bisa merenung di pinggir SPBU Jalan Kalianak. Wajahnya terlihat tak bersemangat.

”Biasanya pesanan masuk saat pagi. Di waktu bersamaan saya lagi mengantre bahan bakar. Ditambah lagi, pelanggan tidak mau memahami kondisi yang terjadi. Mereka lebih memilih kendaraan yang sudah siap,” ucapnya.

Kondisi tersebut membuatnya sangat dirugikan. Dalam seminggu terakhir, pendapatannya menurun tajam. Biasanya, dalam sehari, dia mendapat Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Uang tersebut didapat dari hasil pengiriman barang ke konsumen dua hingga tiga kali. Namun, saat ini uang Rp 10 ribu pun belum dia dapat. ”Uangnya buat jaga-jaga saja. Tadi baru makan gorengan untuk mengganjal perut,” jelasnya.

Nasib serupa dirasakan Ivan Alman. Sejak pagi, truk trailernya hanya sibuk mencari SPBU yang masih memiliki solar. Pencariannya dimulai dari Jalan Perak Barat, Gresik, dan Demak. Sayang, semua solar di sana telah habis. Sampai lah dia di SPBU Kalianak.

Karena lama mencari bahan bakar, dia terpaksa membatalkan pesanan yang masuk. Hingga saat ini, pria berusia 32 tahun tersebut belum mengetahui kapan bisa mendapatkan pesanan lagi. ”Sekarang yang saya lakukan hanya menunggu. Jika ada pesanan yang masuk, langsung berangkat. Tidak peduli tempat tujuannya,” ungkapnya.

Ketua DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Surabaya Putra Lingga mengapresiasi langkah-langkah dari aparat kepolisian. Polisi memberikan kesempatan pada truk untuk parkir di bahu jalan. ’’Sebenarnya itu dilarang dan membahayakan. Namun, kami juga tidak punya pilihan,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa organisasinya telah mengirim surat kepada Pertamina sebagai bentuk koordinasi. Salah satu yang disampaikan pengusaha adalah permohonan untuk penertiban pengguna solar. Seharusnya, mobil pribadi tak boleh memakai bahan bakar untuk angkutan barang.

Ketua DPC Organda Khusus Tanjung Perak Kody Lamahayu membenarkan kabar banyaknya truk yang terlambat masuk pelabuhan. Kerugian yang harus ditanggung pengusaha tidak sedikit. ”Tiket yang paling mahal Rp 14 juta,” tuturnya.(lia/sumber:jawapos, foto:suarasurabaya)

loading...