Angkasa Pura 2

Kolam Labuh Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh Masih Terus Dikeruk

DermagaRabu, 20 November 2019
images.jpeg-72

BANDA ACEH (BeritaTrans.com) – Pengerjaan pengerukan kolam labuh Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh terus dipacu. Karena berdasarkan kontrak, masa pengerjaan hanya tersisa dua bulan lagi, berakhir Desember mendatang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, Junaidi MT mengatakan, pihak rekanan terus memacu pengerjaan karena waktu yang tersisa singkat. Sebab, pengerjaan proyek itu telat dimulai akibat adanya permasalahan teknis.

Dikatakan, saat ini dua unit tongkang yang bermuatan beko long arm dan alat keruk jenis cangkram masih terus bekerja. Setiap harinya ada puluhan ton material yang dibuang ke laut lepas sekitar beberapa mil dari Banda Aceh.

Ia menjelaskan, proyek tersebut memang sudah sejak awal diprediksi tidak akan selesai 100 persen pada akhir tahun nanti, saat kontrak berakhir. Karena proyek yang seharusnya dimulai Agustus, tapi baru mulai dikerjakan pada September lalu.

Penyebab proyek itu lamban, karena ada masalah mobilisasi kapal pada rekanan yang mengerjakan pengerukan. Kapal yang akan mereka bawa ke Aceh sempat tertahan di Kepulauan Riau, terkait masalah perizinan berlayar. Sehingga pihak kapal harus mengurus izin berlayar dulu untuk bisa bergerak ke Banda Aceh.

Meskipun begitu, pihak Dishub Aceh tetap memilih melanjutkan pengerjaan semaksimal mungkin. Karena jika kontrak diputuskan, maka dipastikan kondisi kolam labuh akan semakin dangkal dan berpotensi kandasnya kapal yang keluar masuk pelabuhan.

“Kalau pengerjaan tidak kita lanjutkan saat itu, maka resikonya lebih besar lagi. Karena bisa dipastikan kondisi pelabuhan semakin dangkal dan kapal feri tidak bisa masuk. Tentu dampaknya lebih besar, karena Ulee Lheue merupakan pintu gerbang menuju Sabang,” ujarnya.

Selain itu, dalam pengerukan Pelabuhan Ulee Lheu juga banyak hanya maksimal dilaksanakan jika air sedang surut. Sedangkan jika air sedang pasang, beko kesulitan mengeruk material di dasar laut tersebut. “Dengan pasang surut air laut ini kan membuat produktivitas tidak maksimal, karena mengikuti kondisi alam. Pengerukan baru maksimal jika air sedang surut saja,” ujarnya.

Selain itu, kata Junaidi, meskipun sedang ada pengerukan, operasional kapal feri tetap terus berjalan. Sehingga proses pengerukan harus dihentikan jika ada kapal keluar masuk. “Lalu lintas kapal feri ini tetap ga boleh diganggu, karena menyangkut dengan masyarakat,” tandas Junaidi.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, Junaidi MT mengatakan, karena sejak awal sudah diperkirakan tidak selesai semua. Maka pihaknya menargetkan pengerukan itu dapat diselesaikan sekitar 70 persen di akhir tahun.

Masalah izin dan teknis saat mendatangkan kapal keruk ke Aceh, hingga masalah kondisi alam menjadi penyebab proyek pengerukan Pelabuhan Ulee Lheue berjalan tidak sesuai dengan rencana awal.

Dikatakan Junaidi, awalnya mereka memprediksikan jika kedalaman yang akan dikeruk mencapai 6 meter lebih. Namun karena pengerjaan tidak maksimal mereka menargetkan pengerukan dengan kedalaman sekitar 4 hingga 5 meter.

Ia menjelaskan, jika pengerukan mencapai 6 meter maka proses sendimentasi akan lebih lama, bisa bertahan hingga 5 tahun. Namun jika kedalaman yang dikeruk sekitar 5 meter, maka empat tahun kedepan harus kembali dikeruk.(lia/sumber:tribunnews)

loading...