Angkasa Pura 2

Pemkab Lembata akan Serahkan Pengelolaan Pelabuhan Lewoleba ke Kemenhub

DermagaRabu, 20 November 2019
fasilitas-pelabuhan-laut-lewoleba

LEWOLEBA (BeritaTrans.com) – Pemerintah Kabupaten Lembata berencana akan menyerahkan pengelolaan Pelabuhan Laut Lewoleba ke Kementerian Perhubungan Indonesia.

Namun Pemkab Lembata nanti akan dilihat bagian mana yang dikelola kementerian dan mana yang dikelola oleh pemerintah daerah.

“Tapi kita lihat yang mana bisa jadi aset dan punya potensi untuk kita. Kita tidak diserahkan semua. Jadi laut kita kasi ke kementerian dan daratnya kita yang urus,” ungkap Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur di Gedung DPRD Lembata, kemarin.

Pembicaraan penyerahan pengelolaan Pelabunan Laut Lewoleba dan Pelabuhan Feri ke Kementerian Perhubungan ini sudah dilakukan sejak tahun 2018.

“Mungkin Pelabuhan Feri yang duluan kita serahkan.”

Pemerintah juga berencana menjadikan Pelabuhan Jeti sebagai dermaga untuk bongkar muat Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Ini kita akan lihat kelayakan sandar dia, kelayakan lain dan kontribusi untuk daerah supaya ada pendapatan daerah. Itu kan sudah bicara bisnis. Bukan pelayanan lagi karena harga tetap satu harga. Kita bicara bisnis, jangan bicara dari pemerintah dan bisnis. Tidak nyambung. Pemerintah kan bicara melayani orang, tapi mereka (pengusaha) bisnis, mereka bisa beli kapal lagi dari uang dari Lembata yang masuk,” tegas Bupati Sunur.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kabupaten Lembata diminta untuk menyerahkan pengelolaan pelabuhan laut Lewoleba kepada pihak Syahbandar Lewoleba.

Masalahnya, di bawah pengelolaan Pemda Lembata, kondisi fasilitas pelabuhan laut ini sangat buruk dan memprihatinkan.

Pada 9 Agustus 2019 lalu Pelabuhan Laut Lewoleba telah mengalami peningkatan kelas dari wilayah kerja atau bagian dari Kantor Unit Pengelola Pelabuhan (KUPP) Larantuka menjadi KUPP Kelas III Lewoleba.

“Pelabuhan ini sebaiknya diserahkan kepada otoritas, dalam hal ini syahbandar agar kita bisa mendapatkan kucuran dana APBN untuk pembangunan atau rehab area dermaga, baik itu tambat maupun lapangan penumpukan,” kata Vigis Koban, Nahkoda KM Lembata Karya Ekspres, Minggu (17/11/2019).

Pantauan Pos Kupang, kondisi tambat kapal penumpang di pelabuhan ini sudah tidak layak dan sangat memprihatinkan. Sebagian lantai pelabuhan yang terbuat dari papan kayu juga sudah copot.

Vigis menerangkan frekuensi kunjungan kapal sangat tinggi justru tidak diimbangi dengan fasilitas pelabuhan yang ada saat ini.

“Saat kunjungan kapal baik itu kapal barang maupun kapal pelra sering terjadi antrian. Ini membuat pemilik kapal yang mau masuk ke daerah sini menjadi enggan karena lama. Apalagi dengan frekuensi kunjungan kapal Pelni yang begitu tinggi maka itu juga menjadi soal,” terang Vigis.

Pelabuhan Laut Lewoleba lanjut Vigis menjadi teras ekonomi Kabupaten Lembata. Oleh karena itu, pemda diminta juga untuk mempertimbangkan dan tidak mengabaikan sektor ekonomi.

“Karena kapal-kapal kargo atau kapal-kapal kontainer juga tidak mau lama-lama di sini,” tandasnya.

Di sisi lain banyak vender-vender yang tidak ada menurutnya cukup beresiko bagi kapal-kapal yang melakukan manuver saat hendak bersandar.

“Karena kalau tidak diserahkan ke otoritas maka sampai detik ini juga tetap begini,” imbuhnya.

“Termasuk kapal penumpang juga bersandar di dermaga yang seperti ini yang dibangun pada tahun 1985 namun sampai saat ini masih seperti ini.”

Pemda Lembata menurutnya tidak memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk bisa merevitalisasi pelabuhan ini.

“Inilah yang harusnya pemerintah daerah, ya marilah kita sama-sama berpikir untuk kampung ini, lebih baik serahakan saja ke syahbandar biar APBN bisa membantu ini, karena itu otoritas mereka,” pungkasnya.

Dia pun membandingkannya dengan Pelabuhan Laut Larantuka yang sudah dikelola oleh Syahbandar. Fasilitas pelabuhan di ibu kota Kabupaten Flores Timur itu menurutnya jauh lebih baik dari yang ada di Lewoleba.

Warga Lewoleba, Roy Begi, juga merasa prihatin dengan kondisi Pelabuhan Laut Lewoleba sekarang. Pada malam hari kondisi pelabuhan gelap gulita. Sementara ada banyak kapal yang berdesak-desakan berlabuh di sana dan baru akan beraktivitas pada pagi hari.

Kata Roy, jika ada kapal Pelni berukuran besar yang hendak buang sauh otomatis pelabuhan itu harus disterilkan dari kapal-kapal kecil lain. Hal ini harus dilakukan karena pelabuhan yang sempit.
Selain itu, kayu-kayu pada bagian jembatan titian (titian) juga sudah keropos dan nyaris roboh semuanya. Dia khawatir kalau tak segera diperbaiki oleh pemerintah, Pelabuhan Laut Lewoleba akan menjadi pelabuhan dengan fasilitas paling buruk di NTT. (Lia/sumber dan foto:poskupang)

loading...