Angkasa Pura 2

Tahun 2024, Pengguna Jasa dapat Penuhi Kebutuhan Bisnis Melalui IPC

DermagaKamis, 21 November 2019
pelindo-ii-akan-bangun-maritime-tower-rp700-miliar-tfI-800x600

JAKARTA (BeritaTrans.com)-LIMA TAHUN ke depan (2024) pengguna jasa kepelabuhanan (importir/ eksportir/industri dan sejenisnya ) tidak perlu lagi disibukkan mengurus berbagai kebutuhan bisnisnya secara terpisah.

Berbagai kebutuhan pengguna jasa seperti kapal, kontainer, gudang sampai truk cukup dipesan melalui Pelabuhan Indonesia II /IPC sebagai Trade Facilitator.

IPC lima tahun kedepan memiliki platform yang mampu mempermudah pengguna jasa dalam memenuhi kebutuhan bisnisnya.

IPC mulai melangkah untuk memperluas kegiatan bisnisnya dari Terminal Operator menjadi Trade Facilitator .

Ini berarti IPC nantinya selain melayani bongkar muat barang, juga melakukan kegiatan bisnis yang mendorong layanan perdagangan lengkap melalui ekosistem digital.

DIGITALISASI

Langkah – langkah yang sudah dilakukan IPC menuju Trade Facilitator yaitu melakukan transformasi pada semua kegiatan operasional dari manual menuju digitalisasi.

Digitalisasi untuk sisi laut, IPC telah menerapkan aplikasi Vessel Management System (VMS), Vessel Traffic System (VTS), Automatic Identification System (AIS), dan Marine Operating System (MOS).

Sementara di sisi darat, IPC menerapkan aplikasi Terminal Operating System (TOS) untuk petikemas dan non petikemas, Autotally, Autogate, Delivery Order online (DO Online), Integrated Container Freight Station (CFS), Tempat Penimbunan Sementara (TPS) online dan Integrated Billing System (IBS).

Dani Rusai Utama, Direktur Teknik dan Manjemen Risiko IPC beberapa waktu lalu mengatakan dengan aplikasi MOS pergerakan kapal tunda dan kapal pandu menjadi semakin efisien sehingga menghemat BBM dan oli. Diperkirakan terdapat efisiensi BBM hingga Rp2,1 miliar per tahun.

Bagi pengguna jasa, MOS berdamlak pada layanan kapal pandu dan tunda di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi lebih cepat dan mudah. Dengan aplikasi MOS, IPC bisa melayani 35 order tiap 32 detik.

Aplikasi TOS yang digunakan dalam perencanaan dan pengendalian operasi bongkar muat petikemas ternyata meningkatkan produktivitas bongkar muat petikemas dari rata-rata 36 boks per jam menjadi 49 boks per jam.

Sementara, aplikasi VMS mempercepat proses pengajuan pelayanan kapal di pelabuhan. Untuk pengurusan dokumen, sebelumnya bisa memakan waktu tiga hingga empat hari, tapi dengan VMS, cukup enam sampai delapan jam saja, ujar Dani.

Digitalisasi juga diterapkan pada sistem pengelolaan interaksi dengan pelanggan melalui aktivasi 6 fitur aplikasi digital “Customer
Relationship Management” (CRM).

Dengan aplikasi CRM, pelanggan/calon pelanggan memiliki akses khusus untuk berkomunikasi dengan IPC bila ingin menyampaikan pertanyaan, permintaan atau keluhan.

WORLD CLASS

Untuk menjadi pelabuhan kelas dunia (world class), selain menerapkan operasional secara digital, IPC
terus berupaya meningkatkan kapasitas fasilitas pelabuhan dan peralatan bongkar muat.

Kedalaman kolam pelabuhan dan panjang dermaga misalnya terus ditambah sesuai tuntutan kapasitas kapal yang semakin besar.

Kedalaman seluruh alur menuju dermaga di Pelabuhan Tanjung Priok sudah 16 meter di bawah permukaan air laut.

Kedalaman kolam PT JICT mencapai 16 meter. Kolam di Terminal NPCT1 didesain dengan kedalaman 20 meter, tetapi saat ini baru dikeruk 16 meter.

Peralatan juga terus dimodernisasi agar kecepatan bongkar muat dapat diandalkan. Di NPCT1 misalnya, dipasang crane super post panamax yang mampu menjangkau kontainer hingga 23 row.

Ke depan IPC akan memasang alat canggih super post panamax dengan kemampuan yang sama di JICT dan TPK Koja.

Dengan modernisasi alat bongkar muat, IPC dapat meningkatkan produktivitas di atas standar yang sudah ditetapkan perseroan.

Di Pelabuhan Tanjung Priok, misalnya, IPC menetapkan standar produktivitas bongkar muat 25 box / crane/ hour (BCH), tetapi praktik di lapangan mampu mencapai produktivitas hingga 30 BCH.

Selain itu IPC membuka rute langsung (direct call) ke beberapa negara yang merupakan pasar tradisional ekspor Indonesia. Ini dimaksudkan agar IPC terkoneksi secara global.

Saat ini sudah ada empat rute direct call yang dibuka di Pelabuhan Tanjung Priok yakni Inter Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Direct call telah menurunkan biaya logistik dibanding melalui transhipment via Singapura. Selain itu, layanan ini juga menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari.

IPC juga berusaha terkoneksi secara global melalui Sister Port, dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pelabuhan internasional, antara lain dengan Pelabuhan Guangzhou dan Ningbo (RRC), serta dua pelabuhan Sabah (Sabah Port Sdn Bhd), Malaysia dan pelabuhan klaster industri kelapa sawit (Palm Oil Industrial Cluster /POIC).

Yang tak kalah pentingnya menurut penulis, kalau mau jadi pelabuhan kelas dunia, biaya jasa kepelabuhanan harus wajar (lower costs) dengan sistem dan prosedur pelayanan sederhana.

Kinerja keuangan IPC hingga
kuartal ketiga 2019, laba perusahaan Rp2,21 triliun atau naik 18,38% dibandingkan dengan capaian kuartal ketiga 2018.

Pendapatan usaha mencapai Rp. 8,56 triliun, naik sebesar 2,41% dibandingkan capaian periode yang sama tahun 2018.

Kinerja operasional: trafik arus peti kemas hingga kuartal ketiga tercatat sebesar 5,62 juta TEUs naik dibandingkan tahun sebelumnya 5,58 juta TEUs .

Arus non petikemas sebesar 43,2 juta ton. atau naik 1,14% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar 42,7 juta ton.

Arus kapal yang keluar masuk pelabuhan, terjadi penurunan sebesar 2%, yaitu dari 158,3 juta GT menjadi 154,5 juta GT.

Kita mendorong impian IPC menjadi fasilitator perdagangan terwujud agar berdampak positif pada penurunan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing produk dan komoditas nasional. Kondisi ini pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan perekonomian.

Namun kita tidak menutup mata. Untuk mewujudkan keinginan IPC menjadi Trade Facilitator memang bukanlah pekerjaan mudah. Tapi harus dicapai melalui kerja keras , kesabaran sekaligus sikap bijaksana.

Misalnya, untuk mengintegrasikan sektor perkapalan, pelabuhan, serta industri pengguna jasa kepelabuhanan dan stake holder lain (Trilogi maritim) dalam ekosistem yang dibangun IPC tidak mudah.

Pasalnya, masih banyak pelaku sektor usaha dengan pola pikir mengharapkan sesuatu dari praktek bisnis secara manual/tradisional dan tidak transparan. ……..

Semoga perjuangan IPC…sukses menjadi Trade Facilitator pada 2024. Amin….YRA.(Penulis:Wilam Chon/Wartawan BeritaTrans.com)

loading...