Angkasa Pura 2

Di Gedung Linggarjati, Sutan Syharir Pimpin Perundingan dengan Belanda

DestinasiJumat, 29 November 2019
10292019193640

KUNINGAN (Beritatrans.com) – Mengunjungi Museum Gedung Perundingan Linggarjati yang penuh sejarah dapat memberi ilmu pengetahuan, pengalaman mistis, serta dapat merasakan masuk ke suasana mengenai kejadian-kejadian masa sejarah kemerdekaan Indonesia.

IMG_20191129_130634_resize_63

Gedung yang berlokasi di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kota Kuningan, Jawa Barat ini menjadi salah satu saksi sejarah sebuah perundingan yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Inilah Museum Linggarjati yang dahulu dijadikan tempat perundingan wakil Indonesia dan Belanda.

IMG_20191129_131522_resize_27

BeritaTrans.com dan Aksi.id dipandu oleh Sukardi (57), seorang PNS Pemda Kuningan. Dalam 29 tahun pengalamannya mengurus Museum, ia sangat fasih dan detail menjelaskan sejarah setiap sudut bangunan sejarah yang diresmikan sebagai museum pada tahun 1976.

Dia menceritakan bahwa gedung tua peninggalan masa lalu ini banyak dihuni oleh makhluk-makhluk gaib, terlebih bangunan ini sangat sepi pada malam hari.

“Disini banyak penghuninya, namanya juga bangunan tua, biasanya orang-orang ditunjukin  pas berfoto, tiba-tiba ada ikut terfoto sama pengunjung itu,” Ceritanya.

Guide yang berasal dari Desa Lurah, Linggarjati ini juga menceritakan bahwa asal muasal gedung Linggarjati adalah sebuah gubuk yang dibangun tahun 1918 oleh seorang ibu bernama Jasitem dan menjadi tempat tinggalnya.

10292019193652

Gedung tua bergaya kolonial Belanda ini sempat menjadi markas tentara. Kemudian diubah fungsi lagi menjadi Sekolah Dasar dan pernah juga menjadi hotel.

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, gedung ini digunakan sebagai tempat diadakannya Perundingan Linggarjati di tahun 1946.

Museum ini menjadi saksi bagaimana perjuangan diplomatik yang dilakukan oleh para pendiri bangsa. Diketuai oleh Sutan Syahrir, Soesanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohammad Roem, dan Dr. A. K Gani, delegasi Indonesia ini berunding dengan delegasi dari Belanda, yaitu Prof. Mr. Schrmerhorn, Dr. F. De Boer, Mr. Van Poll, Dr. Van Mook, dan diplomat Inggris Lord Killearn sebagai mediator.

Terdapat juga beberapa saksi atau tamu yang hadir dalam pertemuan tersebut seperti, Amir Syarifudin, dr. Leimena, dr. Sudarsono, Ali Budiharjo, Presiden Sukarno dan Hatta.

Masuk ke dalam museum, pengunjung seperti dibawa ke dalam napak tilas diplomatik para pendiri bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Meja perundingan, berbagai dokumentasi berupa foto, diorama, benda-benda peninggalan lainnya, hingga hasil naskah perjanjian Linggarjati bisa disaksikan dari dekat di museum ini.

Pada bagian belakang gedung terdapat halaman yang luas dihiasi dengan pepohonan yang rindang dan kandang rusa. Pada area ini, terdapat monumen yang bertuliskan isi pokok hasil perundingan.

Juga terdapat batu hitam dengan ukiran lima pilar masyarakat Indonesia dibangun di atas monumen. Kelima pilar tersebut antara lain, petani, pemuka agama, wanita, tentara, dan pemuda yang saling berangkulan. Hal ini sebagai wujud kekuatan utama bangsa Indonesia yang teguh membela kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi.

10292019193722

Pemilihan Linggarjati sebagai lokasi perundingan dikarenakan tempat, yang, terletak di kaki gunung Ciremai netral bagi kedua belah pihak.

Untuk diketahui, pada saat itu Belanda dan sekutu menguasai Jakarta, sedangkan Indonesia sendiri menguasai Yogyakarta.

Kapan Perundingan Linggarjati dilaksanakan?

Perundingan atau perjanjian Linggarjati diadakan pada tanggal 11-13 November 1946, namun delegasi telah sampai di Linggarjati pada tanggal 10 November (sehari sebelumnya). Kemudian, hasil perundingan diparaf 15 November 1946 di Jakarta dan diratifikasi pada 25 Maret 1947 di Istana negara.

Sebelum perundingan Linggarjati, terdapat perundingan- perundingan sebelumnya yang mengalami kegagalan seperti dalam pertemuan di Hooge Veluwe dan perundingan 7 Oktober.

Untuk melanjutkan serangkaian perundingan tersebut. maka dipilihlah salah satu rumah milik warga Belanda di Linggarjati sebagai tempat dilangsungkannya pertemuan. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa juru runding dari Indonesia, Belanda dan Inggris pada tanggal 10 November 1946.

Perundingan linggarjati menghasilkan keputusan yang kemudian disebut perjanjian linggarjati yang memiliki 17 Pasal, dari 17 pasal tersebut terdapat 3 pasal pokok, diantaranya adalah:

- Belanda mengakui Republik Indonesia secara de facto dengan wilayah kekuasan meliputi Sumatera, Jawa, Madura dan Belanda akan meninggalkan Indonesia selambat-lambatnya 1 Januari 1949

- Menyepakati pembentukan negara serikat dengan nama Negara Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari RI, Kalimantan dan Timur besar sebelum 1 Januari 1949.

- RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ratu Belanda sebagai ketua.

Perjanjian Linggarjati kemudian ditandatangani dalam suatu upacara kenegaraan di Istana Negara Jakarta pada tanggal 25 Maret 1947.

Pelanggaran Perjanjian Linggarjati

Dalam pelaksanaannya, perjanjian ini tidak berjalan baik. Pada tanggal 20 Juli 1947 diketahui Gubernur Jendral H. J. Van Mook memutuskan perjanjian secara sepihak. H. J Van Mook mendeklarasikan bahwa Belanda tidak terkait dengan perjajian tersebut.

Hal ini berlaku sejak tanggal 21 Juni 1947, sebelum satu tahun perjanjian linggarjat genap dibuat. Terjadilah adanya Agresi Militer Belanda 1. Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan penafsiran yang terjadi antara pihak Indonesia dan Belanda.

Fakta- Fakta Lain Tentang Perjanjian Linggarjati

Ada beberapa hal yang terjadi baik itu sebelum, selama dan setelah perjanjian ini dilakukan. Berikut adalah beberapa kejadian yang bersangkut paut dengan peristiwa ini, dikutip dari berbagai sumber:

- Perundingan untuk menyelesaikan konflik Belanda-Indonesia sebetulnya telah dilakukan dari bulan Februari 1946, namun hasilnya selalu gagal tanpa kesepakatan. Sebelum akhirnya pada bulan Oktober di tahun tersebut kemudian terjadi sebuah kesepakatan yang mengawali cikal bakal pertemuan di Linggarjati.

- Pemilihan Linggarjati sebagai tempat pertemuan di usulkan oleh Maria Ulfah Santoso, menteri sosial di masa tersebut. Pemilihan lokasi didasarkan pada titik tengah antara Belanda yang menguasai Jakarta dan Pemerintah RI yang saat itu menjadikan Yogya sebagai pusat pemerintahan sementara.

- Saat itu delegasi Belanda menginap di kapal perang milik mereka. Delegasi Indonesia menginap di Linggasama yang letaknya berdekatan dengan desa Linggarjati. sementara Ir Soekarno dan Mohammad Hatta singgah di rumah Bupati Kuningan.

- Rumah besar yang dijadikan tempat pertemuan adalah tempat milik Kulve van Os, seorang Belanda pemilik pabrik semenn dan perajin ubin yang menikahi perempuan berdarah Indonesia.

- Perundingan berjalan alot, ada beberapa poin yang kedua belah pihak dapat sepakati. Namun beberapa poin lain belum dicapai kesepakatan. Disela pertemuan, delegasi Belanda pun sempat menemui Soekarno yang datang sebagai tamu untuk membicarakan beberapa poin yang menjadi perdebatan antara Belanda dengan Indonesia yang diketuai Syahrir.
Pro-kontra terjadi selepas perjanjian tersebut dipublikasikan. utamanya penolakan disuarakan oleh opisisi pemerintah saat itu.

- Belanda menodai perjanjian dan membatalkan kesepakatan dengan sepihak.

(fahmi).

loading...