Angkasa Pura 2

Demi Hidupi Anak, Dewi Jadi Driver Ojol

Another News KoridorSabtu, 30 November 2019
e996d622-144f-490c-b446-e9abdde745e7_169

Jakarta (BeritaTrans.com) – Punya pekerjaan impian memang menjadi hal yang membanggakan. Ada yang bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan impiannya, namun ada pula yang harus berjuang mendapatkan pekerjaan dan mempertahankannya. Salah satu modal yang harus dimiliki selain skill yang dibutuhkan selama bekerja adalah sikap dan perilaku saat bekerja. Hal inilah yang dipegang teguh oleh Ika Dewi Sulistiani.

Perempuan kelahiran Surabaya, 15 April 1988 ini dulunya bekerja sebagai tim administrasi cadangan di sebuah perusahaan. Dewi, begitu ia akrab disapa, saat itu dikontrak selama satu tahun untuk menggantikan karyawan yang sedang cuti melahirkan.

“Pekerjaan itu saya terima karena saya butuh biaya untuk hidup saya dan keluarga walaupun sebentar,” ujarnya, Rabu (20/11/2019).

Namun setelah sampai di penghujung kontraknya, Dewi mulai khawatir karena belum mendapatkan pekerjaan lain.

“Waktu itu kurang dari satu bulan, kontrak saya mau habis tapi saya belum mendapat pekerjaan lain. Perusahaan juga menyarankan untuk mencoba mencari-cari pekerjaan lain di sisa satu bulan tersebut,” katanya.

Dalam masa pencarian pekerjaan, rupanya Dewi mendapat keberuntungan. Perempuan yang bercita-cita menjadi penyiar radio ini menemukan lowongan pekerjaan yang diiklankan di media sosial Facebook.

“Saat itu kebetulan ada yang pasang lowongan Grab. Katanya dibutuhkan mitra pengemudi perempuan dan laki-laki. Syaratnya memiliki SIM, KTP, KK, STNK, dan SKCK.

“Menurutku kok syaratnya masuk akal. Dari situ saya langsung ingin coba. Kebetulan Sabtu dan Minggu kan libur, hari Sabtu saya coba mendaftar di Grab. Pas daftar, saya sempat minder,” imbuhnya.

Tiba disana, dia berpikir: “kok yang daftar laki-laki semua sedangkan saya perempuan sendiri”. Tapi meskipun minder dirinya tetap duduk di situ.

Melihat Dewi yang tak kunjung maju untuk memberikan berkasnya, menurutnya membuat karyawan Grab menghampirinya dan menanyakan, memastikan ia benar ingin menjadi mitra pengemudi Grab.

“Setelah saya jawab iya, karyawan Grab sempat tanya kepada saya, yakin pakai handphone ini? Saat itu handphone saya Smartfren RAM 1. Saya jawab iya karena handphone saya hanya itu. Setelah itu saya disarankan untuk training online terlebih dahulu. Kemudian besoknya kembali ke kantor untuk tanda tangan kontrak dan pengambilan atribut,” jelasnya panjang lebar.

Awalnya Dewi mengaku masih ‘malu-malu kucing’. Jadi kegiatannya hanya ngeGrab – pulang – ngeGrab – pulang. Sampai akhirnya dia bertemu dengan orang-orang yang mengajak bergabung dengan komunitas ojek online di Surabaya. Di sana banyak sharing dari teman-teman sesama driver.

Dewi juga kerap menceritakan kendala yang dihadapi di jalan kepada teman-temannya di komunitas tersebut. Ternyata permasalahannya ada di handphone miliknya yang memiliki kapasitas RAM 1. Mereka menyarankan untuk menukar handphone dengan RAM lebih besar. “Ibu saya juga menyarankan hal yang sama. Saya kemudian beli handphone baru RAM 3,” terangnya.

Dari situlah, Dewi berniat untuk sungguh-sungguh bekerja. Ia mulai aktif mencari order dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 21.00 malam. Kini, Dewi telah menjadi mitra GrabBike selama satu tahun. Menurut Dewi, meski pekerjaannya terkesan sepele, wara-wiri di jalan raya, tetapi ia berprinsip untuk menjaga lisan dan menjaga diri.

“Saya menanamkan ke diri sendiri, walaupun pekerjaan ini fleksibel, tetapi kita tidak boleh mencari uang sesuka hati saja. Harus tetap kerja keras,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Dewi memiliki target yang harus dicapai oleh dirinya sendiri. Contohnya, jika ia berangkat kerja pukul 06.00 pagi maka hari itu ia harus bisa mendapatkan uang minimal Rp 200 ribu. “Kalau bisa lebih kenapa tidak diusahakan. Selagi saya tidak sakit parah saya akan tetap bekerja. Bagi saya kerja itu penting, karena anak butuh biaya,” ujarnya.

Namun demikian, kerja keras Dewi tidak serta merta menghilangkan kewajibannya sebagai seorang ibu. Dewi tetap membagi waktunya untuk bersama anaknya. Dewi juga selalu mengusahakan kondisi pekerjaannya tidak mempengaruhi kondisi rumahnya. “Kadang kan di jalan kita bisa bad mood karena satu dan lain hal. Tetapi kalau sudah pulang ke rumah, harus hilang semua bad mood itu. Orangtua melihat kita tersenyum kadang sudah lega,” tuturnya.

Ujian seseorang dapat berupa apa saja. Tawaran pekerjaan lain saat kita sudah memiliki pekerjaan misalnya. Hal ini sempat dialami oleh Dewi. Ia sempat mendapat panggilan kerja menjadi cleaning service. “Saya pikir lumayan untuk disambi, saya terima. Tapi ternyata saya tertekan selama bekerja di sana. Selain itu, ketika saya lihat di grup komunitas banyak canda tawa di jalan raya. Akhirnya hanya satu bulan saja saya menjalani pekerjaan itu. Saya kembali lagi untuk full menjadi pengemudi GrabBike. Ternyata saya lebih happy menjadi driver,” terangnya.

Soal keamanan, Dewi mengaku tidak khawatir. Selain pelatihan berkendara aman dan bela diri dasar, Grab juga punya teknologi keamanan yang luar biasa. Sekarang ada fitur “Pusat Keselamatan” untuk mitra pengemudi dan pengguna. Di situ ada berbagai macam fitur seperti bagikan lokasi perjalanan, tombol darurat dan layanan bantuan. Selain itu ada juga fitur Free Call, jadi nomor telepon pribadi penumpang dan pengemudi tidak akan bisa dilihat. “Saya jadi tenang, penumpang juga harusnya merasa lebih nyaman,” katanya lagi.

Menurut Dewi, menjadi mitra pengemudi GrabBike memiliki banyak manfaat dan keuntungan. Salah satunya adalah yang Dewi lakoni. Ia bisa bekerja menjadi driver sambil berjualan. Dewi membuat jadwal untuk dirinya sendiri, selama hari Senin sampai Jumat, ia bekerja full menjadi mitra pengemudi. Sedangkan di hari Sabtu ia ambil libur yang biasanya digunakan untuk istirahat. Sedangkan di hari Minggu, ia digunakan untuk berjualan.

“Dari awal memang sudah berencana kalau ada sisa uang penghasilan nge-Grab bakal dijadikan modal usaha. Saya juga berpikir, usia seseorang itu semakin lama semakin tua. Saya tidak bisa selamanya menjadi driver karena tenaga saya pasti menurun nantinya. Tapi saya senang sekali di usia 31 tahun ini saya dipertemukan dengan Grab. Saya bisa mencari nafkah untuk anak dan keluarga saya. Pilihan yang tepat untuk saya yang seorang single parent,” pungkasnya. (Lia/sumber:cnbcindonesia, foto:dok.grab)