Angkasa Pura 2

Penyelundupan 10.278 Benih Lobster Rp1,5 Miliar ke Vietnam Digagalkan Polisi

Aksi Polisi Kelautan & PerikananSenin, 2 Desember 2019
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jatim Kombes Pol Gideon Arif Setyawan menjelaskan tekait penyelundupan benur atau benih lobster. (ist)

SURABAYA (BeritaTrans.com) – Polisi menggagalkan upaya penyelundupan benih lobster atau benur sebanyak 10.278 ekor. Benur senilai kurang lebih Rp1,5 miliar ini rencananya akan diselundupkan ke Vietnam melalui Singapura. Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jatim Kombes Pol Gideon Arif Setyawan mengatakan, otak penyelundupan benur ini adalah seorang residivis dalam kasus yang sama.

Tersangka yang diketahui bernama Dwi Puji Kurniawan alias Wawan, warga Desa Prigi, Watu Limo, Trenggalek itu sudah pernah ditahan dan menjalani pidana atas kasus penyelundupan benur.

“Tersangka atas inisial WW (Wawan) ini residivis dalam kasus yang sama. Kasusnya sudah inkrah,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (2/12).

Dua Warga Pacitan jadi Kurir

Dia menambahkan, WW mengutus tersangka Anggit Handoyo Putro dan Nurcahyo Wijianto. Keduanya warga Pacitan untuk mengirimkan Benur tersebut ke kawasan Jawa Barat melalui jalan tol.

Namun, saat sampai di jalan tol Ngawi, kedua tersangka berhasil dicegat oleh petugas. Keduanya tak berkutik saat polisi menggeledah mobil yang dibawanya dan mendapati puluhan ribu benur yang diberi wadah khusus siap antar.

“Keduanya kita tangkap di jalan tol Ngawi, lalu kita kembangkan ke tersangka WW. Dari sanalah didapati penangkaran benih lobster tersebut,” tambahnya.

Dari penangkapan ini, petugas menyita di antaranya 7.300 ekor benur jenis pasir dan 2.978 ekor benur jenis mutiara.

“Di luar negeri, benih ini dihargai sekitar Rp 200 ribu perekornya. Dalam sebulan, tersangka sudah melakukan pengiriman 4 kali,” katanya.

Pelaku Dijerat UU Perikanan

Terkait dengan kasus ini, ketiga tersangka pun dijerat dengan pasal 86 ayat 1 jo pasal 12 ayat 1 dan/atau pasal 92 jo pasal 26 ayat 1 UU nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

Sementara itu, Kasie Pengawasan dan Pengendalian Balai KIPM Surabaya 1, Wiwit Supriyono mengatakan, benur dengan ukuran dibawah 200 gram memang dilarang oleh undang-undang untuk diperjualbelikan. Dia menyatakan, penyelundupan benur ini melibatkan jaringan internasional.

“Benur dengan ukuran dibawah 200 gram dilarang oleh undang-undang. Biasanya, benih-benih ini dibudidayakan di Vietnam dengan jalur distribusi melalui Singapora terlebih dahulu,” tegasnya. (ds/sumber merdeka)

loading...